Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)

Oleh: Dr. Adie E. Yusuf, MA, Instructional Designer-HELM USAID Project 2015

Pengertian Belajar

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta yang bersifat internal (Gagne & Briggs, 1979).

Prinsip Belajar Orang Dewasa

Kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemukan jati dirinya (Rogers dalam Knowles,1979). Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species” mengungkapkan sebagai berikut, “…the principles of andragogy are intended to promote learning in adults….and specifically to identify key characteristics of effective adult learning, and emphasize adults as self-directed learners who are responsible for their own quality and quantity of learning…”. Bahwa teori pembelajaran yang tepat bagi orang dewasa dengan ciri-ciri yang khusus dikenal dengan istilah “Andragogi”. Andragogi makin banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan khususnya para praktisi pendidikan dan pelatihan. Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep belajar orang dewasa berdasarkan empat pokok asumsi yaitu konsep diri, peran pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi.

Perbandingan Asumsi, Pedagogi dan Andragogi sebagai berikut.

No Asumsi Pedagogi Andragogi
1 Konsep tentang diri Pesertasebagai seseorang yang bersifat tergantung. Fasilitator bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai Peserta sebagai seseorang  yang berada dalam proses pendewasaan, berubah dari bersifat tergantung menuju kemandirian. Setiap individu memiliki latar kehidupan yang berbeda-beda. Fasilitator bertanggungjawab untuk  memelihara perubahan tersebut.
2 Pengalaman Pengalaman yang dimiliki peserta kurang bernilai. Sedangkan pengalaman yang besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari fasilitator, penulis, produsen amedia audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. Metode penyampaian yang utama digunakan adalah ceramah, tugas baca, dan presentasi melalui media audio visual. Pesertatelah memiliki alat penampungan (reservoair) pengalaman yang merupakan sumber belajar yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Peserta  menangkap makna dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada  memperoleh secara pasif. Metode  penyampaian yang utama adalah eksperimen, percobaan lab, diskusi, pemecahan masalah, simulasi, dan praktek lapangan.

 

3 Kesiapan belajar Peserta harus mempelajari apapun yang dikatakan oleh fasilitator, dan menimbulkan tekanan karena adanya perasaan takut gagal dan sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula. Oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang standar, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua peserta. Peserta akan siap mempelajari sesuatu apabila merasakan perlu

melakukan, karena dengan mempelajari sesuatu dapat

memecahkan masalah atau  menyelesaikan tugasnya dengan baik. Fasilitator menciptakan kondisi, menyiapkan media dan  prosedur untuk membantu menemukan apa yang perlu diketahui. Kegiatan belajar  disusun sesuai dengan kebutuhan pesertadan urutan penyajian disesuaikan dengan kesiapan peserta.

4 Orientasi belajar Belajar  adalah proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan memahami bahwa ilmu-ilmu baru akan bermanfaat di kemudian hari. Kurikulum disusun sesuai dengan unit-unit pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu,misalnya dari yang mudah ke kompleks. Orientasi belajar ke arah mata pelajaran, materi  disusun berdasarkanketuntasan mata pelajaran. Belajaradalah  proses peningkatan  kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal. Hasil belajar dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Proses belajar disusun ke arah pengelompokkan pengembangan kompetensi. Orientasi belajar terpusat kepadakegiatan, materi disusun  berdasarkan kompetensi atau kinerja yang yang diharapkan.

Sumber:Tamat (1985)

Karakteristik Peserta Pelatihan

Dalam proses pelatihan dan pembelajaran berdasarkan prinsip belajar orang dewasa, maka perlu dikenali karakteristik peserta pelatihan untuk mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pelatihan dan pembelajaran. Karakteristik peserta pelatihan sebagai orang dewasa dapat dikenali melalui demografi, pengetahuan,  keterampilan, sikap, serta pengalaman pekerjaan/jabatan.  Demografi peserta pelatihan yang meliputi usia, jenis kelamin, minat dan bakat,  akan membantu dalam merencanakan kebutuhan logistik pelatihan. Pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta pelatihan akan membantu dalam analisis kebutuhan pelatihan, penentuan jenis dan jenjang pelatihan, pemilihan strategi, metode, media dan aktivitas pelatihan. Pengalaman peserta akan membantu dalam mengkaitkan pelatihan dengan pekerjaan dan jabatan peserta. Informasi tentang karakteristik pesertapelatihan dapat diketahui  melalui wawancara, percakapan dan kuesioner.

Gaya Belajar Orang Dewasa

DePorter,  Reardon  &  Singer-Nouri (2000),  membedakan  gaya  belajar  berdasarkan modalitas yang dominan pada seorang peserta  yang terdiri dari 3 (tiga) gaya, yaitu:

  1. Visual yaitu tipe orang yang lebih  mudah  menyerap  materi  pelajaran  apabila melihat langsung materi tersebut.
  2. Auditif yaitu tipe orang  yang lebih  mudah  menyerap  materi  pelajaran  apabila mendengar langsung materi tersebut.
  3. Kinestetik yaitu tipe orang yang  lebih  mudah  menyerap materi  pelajaran  apabila mencoba langsung materi tersebut.

Dalam proses pelatihan, diharapkan para peserta dapat belajar pengetahuan dan keterampilan yang baru. Tetapi setiap peserta memilikigaya belajar yang berbeda seperti auditory, visual atau kinesthetic (VAK).

  • Peserta yang belajar dengan cara membaca atau melihat adalah gaya visual.
  • Peserta yang belajar dengan cara mendengarkan adalah gaya audio atau auditory.
  • Peserta yang belajar dengan cara melakukan sesuai adalah gaya kinesthetic.

Untuk mengetahui gaya belajar sesuai prinsip orang dewasa, maka dapat dilakukan melalui penilaian diri (self assessment) tentang gaya belajar Auditory, Visual dan Kinesthetic (VAK).

Semua orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Beberapa lebih biasa belajar melalui pendengaran, yang lain melalui penglihatan; beberapa orang lebih suka latihan melalui praktek. Penelitian De Porter mengungkapkan manusia dapat menyerap suatu materi sebanyak 70% dari apa yang dikerjakan, 50% dari apa yang didengar dan dilihat (audio visual), sedangkan dari yang dilihatnya hanya 30%, dari yang didengarnya hanya 20%, dan dari yang dibaca hanya 10%. Sementara itu, Kerucut Edgar Dale menunjukkan bahwa seseorang belajar melalui penglihatan 75%, pendengaran  13% dan lainnya 12%. Pengalamanpembelajaranyang efektifmenggabungkan berbagai gayabelajar,latihan-latihan, presentasi dan diskusi dengan berbagai aktivitas untuk membantu peserta merefleksikan pada apa yang sedang mereka pelajari dan berbagai cara penerapannya.

Metode Active Learning

Ada banyak metode pembelajaran yang menekankan pada pendekatan pelatihan aktif (active training). ASTD (2000) merumuskan bahwa “Active training is an appropriate learning in which the participants are actively engaged in the learning process through activities and structured experiences facilitates by the trainer”.

Berikut ini beberapa contoh metode dan teknik pelatihan aktif yang lazim digunakan baik secara sendiri atau bervariasi dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran bagi orang dewasa.

  1. Ice Breaker & Energizer

      Ice Breaker & Energizer sebenarnya bukan termasuk metode pembelajaran yang sesungguhnya. Kegiatan ini merupakan aktivitas yang menyenangkan dan kadang-kadang menggunakan gerakan fisik untuk menciptakan suasana lingkungan pembelajaran yang sesuai. Kegiatan ini membantu individu untuk berinteraksi  dan menciptakan suatu perasaan kelompok. Permainan, musik dan latihan fisik digunakan untuk membantu mempererat hubungan antar peserta dan menghindari kejenuhan. Ice Breaker & Energizer dapat digunakan sesuai waktu, pada awal atau setengah jalan dalam suatu pelatihan atau lokakarya.

 

  1. Matching/Diad

Teknik matching/diad (berpasangan) merupakan teknik belajar partisipatif yang melibatkan dua orang yang berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Teknik ini  cocok dilakukan untuk keakraban, khususnya kalau peserta belum saling mengenal. Peserta akan lebih mengenal satu sama lain dan lebih akrab, serta  mengurangi hambatan komunikasi antara peserta.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator meminta peserta untuk mencari seorang pasangan dari antara peserta yang lain. Kalau dilakukan pada tahap pembinaan keakraban, sebaiknya peserta mencari pasangan yang belum dikenal.

2) Fsilitator memberikan daftar pertanyaan yang harus ditanyakan secara bergantian, misalnya: nama, umur, pendidikan, pekerjaan, minat, kegemaran, latar belakang keluarga, alasan mengikuti pelatihan. Agar lebih menarik, dapat ditanyakan pengalaman yang lucu atau berkesan. Hasil wawancara disusun secara tertulis berdasarkan urutan pertanyaannya.

3) Setelah selesai saling mewawancarai, masing-masing peserta diminta memperkenalkan pasangannya kepada kelompok. Cara memperkenalkannya dapat diselingi dengan humor, nyanyian, deklamasi.

4) Fasilitator memberikan komentar setelah setiap peserta melaporkan hasil wawancaranya. Sebaiknya komentar yang diberikan secara santai dan tidak sampai menyakiti hatii.

 

  1. Brainstorming

      Brainstorming (curah pendapat) adalah teknik yang dipakai untuk menghimpun gagasan dan pendapat untuk menjawab masalah tertentu, dengan cara mengajukan pendapat atau gagasan sebanyak-banyaknya. Curah pendapat dilakukan dalam kelompok yang pesertanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kegiatan curah pendapat lebih ditekankan untuk menghasilkan pendapat atau gagasan yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator menyusun pertanyaan-pertanyaan yang terkait. Sebagai contoh, fasilitator menanyakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam pekerjaan.

2) Fasilitator mengajukan pertanyaan tersebut kepada peserta. Kemudian fasilitator  memberikan waktu 2-3 menit kepada setiap peserta untuk memikirkan jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Peserta hanya perlu menyampaikan pendapatnya, tidak boleh mengkritik atau menyela pendapat orang lain.

3) Fasilitator mencatat pendapat atau gagasan itu di papan tulis atau pada kertas (flipchart) yang disediakan, atau menunjukkan seorang peserta untuk melaksanakan tugas tersebut.

4) Sesudah peserta diberi kesempatan untuk memikirkan jawabannya, peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas. Setiap pendapat akan ditulis di papan tulis atau kertas yang sudah disediakan. Fasilitator memberi batasan waktu untuk melakukan kegiatan ini, misalnya 5 atau 10 menit.

5) Sesudah waktu habis, pendapat atau gagasan yang terkumpul dapat dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori tertentu untuk mengambil kesimpulan.

 

  1. Diskusi Kelompok Kecil

Kelompok kecil terdiri dari 2 – 4 orang. Kelompok ini dapat terdiri dari orang-orang yang memiliki minat dan keahlian yang homogen atau heterogen. Pemilihan kelompok homogen atau heterogen ditentukan oleh tugas yang diberikan atau masalah yang dihadapi. Jika tugas yang diberikan masih dalam tahap penjajakan lebih baik kelompok homogen, dan jika memerlukan pemikiran yang meluas lebih kelompok heterogen. Setiap kelompok dapat membahas pokok pikiran atau topik bahasan tertentu. Dalam kelompok kecil, peserta dapat mengungkapkan gagasan atau pendapat tentang masalah yang dibahas.

Langkah-langkah:

1) Sebelum diskusi, fasilitator mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan topik atau masalah yang akan dibahas.

2) Fasilitator menyusun uraian suatu topik dan masalah yang berupa pernyataan, atau uraian pendek dalam bentuk cerita. Pada akhir uraian, fasilitator melontarkan masalah, baik dalam bentuk pertanyaan maupun dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok. Perlu pula dicantumkan batasan waktu yang disediakan untuk membahas topik itu.

3) Fasilitator menjelaskan topik yang akan dibahas, tujuan pembahasan dan cara-cara diskusi secara demokratis, serta mendorong semua peserta untuk ikut terlibat secara aktif.

4) Fasilitator menyarankan peserta membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang. Dapat pula ditunjuk seorang peserta menjadi pemimpin, dan penulis.

5) Fasilitator membagikan uraian topik serta tugas atau masalah yang harus dijawab oleh kelompok, dan mempersilakan peserta melakukan diskusi. Fasilitator mengingatkan  kelompok bahwa hasil diskusi akan dilaporkan dalam kelompok atau peserta yang lain. Fasilitator perlu mengingatkan peserta waktu yang disediakan untuk melakukan diskusi.

6) Fasilitator perlu sesekali menghampiri kelompok yang sedang berdiskusi, dan memperhatikan proses diskusi. Fasilitator perlu memberikan arahan atau mengingatkan kembali topik yang dibahas kalau pembicaraan menyimpang. Fasilitator perlu membatasi komentar yang diberikan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit komentar atau arahan yang diberikan fasilitator, semakin hidup pembahasan yang dilakukan. Komentar dari fasilitator hanya diberikan kalau pembahasan sudah cukup jauh menyimpang, atau kalau ada satu orang peserta yang mendominasi pembicaraan.

7) Kalau waktu habis dan pembahasan belum selesai, fasilitator perlu menawarkan tambahan waktu. Tambahan waktu sebaiknya tidak diberikan terlalu banyak, karena akan mengganggu kegiatan. Pada waktu persiapan, fasilitator perlu memikirkan dan merencanakan alokasi waktu ini dengan cermat.

8) Sesudah pembahasan kelompok kecil, fasilitator meminta setiap kelompok untuk membagikan hasil diskusi dalam kelompok besar. Fasilitator dapat memimpin diskusi kelompok besar tersebut.

9) Fasilitator bersama peserta membahas dan menyimpulkan hasil-hasil diskusi kelompok kecil, sehingga menghasilkan kesimpulan bersama.

10)  Fasilitator memberi kesempatan bagi peserta untuk mengevaluasi proses diskusi dan hasilnya, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar. Hal ini akan memberikan kesempatan peserta untuk merenungkan kembali proses belajarnya dan mengambil pelajaran yang penting dari kegiatan itu.

 

  1. 5. Praktik Lapangan

Praktik lapangan adalah teknik yang digunakan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan, dengan mempraktikkan di lapangan atau dalam kehidupan nyata, dalam pekerjaan atau tugas yang sebenarnya. Teknik ini sangat tepat digunakan untuk membina dan meningkatkan kemampuan peserta dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator bersama peserta mengidentifikasi kebutuhan belajar  yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana praktik lapangan.

2) Atas dasar kebutuhan belajar itu fasilitator bersama peserta menyusun rencana  praktik lapangan. Rencana ini mencakup tujuan praktik lapangan, lokasi, keahlian atau keterampilan yang akan diterapkan, rangkaian kegiatan yang akan dilakukan, orang-orang yang terlibat, fasilitas dan alat-alat, dana, jadwal dan waktu kegiatan.

3) Fasilitator menugaskan peserta untuk menjajaki obyek yang akan dikunjungi, untuk menyampaikan informasi dan mengindentifikasi informasi yang berhubungan dengan lapangan untuk dijadikan masukan menyempurnakan rencana pelaksanaan di lapangan.

4) Fasilitator membantu peserta dalam melaksanakan praktik lapangan, dengan kegiatan antara lain:

– Mengarahkan dan memotivasi peserta untuk melakukan tugas dan kegiatan sebagaimana tercantum dalam rencana

– Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pelaksanaan praktek lapangan

5) Selesai di lapangan, peserta menyusun laporan pelaksanaan.

6) Peserta mendiskusikan proses, hasil dan pengaruh praktik lapangan.

7) Fasilitator bersama peserta melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil pelaksanaan praktik lapangan.

 

  1. Self Evaluation

      Self evaluation (evaluasi diri)  secara khusus dipakai untuk mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran. Penggunaan teknik ini menuntut keseriusan dari peserta. Evaluasi diri dilakukan dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang sudah disediakan pada lembaran khusus. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk menghimpun pendapat peserta antara lain terhadap proses pembelajaran, bahan belajar, kinerja, dan pengaruh kegiatan belajar yang dirasakan oleh peserta. Evaluasi ini juga dapat digunakan untuk mengetahui pendapat peserta tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan pelatihan dibandingkan dengan sebelum mengikuti kegiatan pelatihan.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator menyusun lembaran tertulis yang berisi daftar pernyataan pendapat peserta.

2) Fasilitator menyebarkan lembaran itu pada waktu yang bersamaan kepada para peserta  untuk selanjutnya diisi oleh peserta.

3) Setelah jawaban-jawaban itu dihimpun dan diolah, fasilitator bersama peserta mendiskusikan hasil evaluasi. Hasil diskusi dijadikan bahan untuk perbaikan atau pengembangan program kegiatan pembelajaran.

4) Fasilitator bersama peserta  melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil penggunaan teknik ini.

 

Referensi

 

Advertisements

15 Responses to “Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)”


  1. 1 wiwin soeprijati December 5, 2016 at 6:09 am

    Makalah yang berjudul Management of Training: Adult Learning Style (Andragogy ) sangat baik untuk dibaca bagi guru dan calon dosen/ dosen. Bagi guru karena akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang cara mengajar dan mendidik anak- anak didiknya.Karena cara bertindak dan bersikap dalam mengajar di kelas rendah harus lebih memahami dunia anak. Anak -anak tidak bisa duduk tenang dalam jangka waktu yang agak lama.Mereka akan cepat bosan dan tidak akan konsentrasi dalam menerima materi selanjutnya.
    Untuk para calon dosen yang akan mengajar para orang dewasa sangat perlu untuk memahami makalah ini sebagai bekal untuk menghadapi muridnya/ mahasiswa yang termasuk kategori manusia dewasa.Mahasiswa lebih tenang dalam belajar di kelas dan menerima materi dari dosen dapat konsentrasi dalam waktu yang agak lama. Tetapi mahasiswa lebih kritis terhadap materi yang disampaikan pemateri/ dosen, sehingga calon dosen/ dosen harus dapat mensiasatinya dan membekali diri dengan pengetahuan yang luas dan dalam.

  2. 2 wiwin soeprijati December 5, 2016 at 6:59 am

    Assalamualaikum..
    Makalah Management of Training: Adult Learning Style ( Andragogy )’
    makalah ini sangat baik untk dibaca bagi para guru / calon pendidik. Bagi para pendidik di kelas rendah sangat disarankan untuk menambah wawasan dan ketrampilan dalam menghadapi anak didiknya. Khususnya di tingkat sekolah rendah para peserta didik cenderung tidak bisa duduk tenang dalam jangka waktu yang cukup lama.Konsentrasi dalam menerima pelajaran tidak berlangsung lama. Jadi para guru/ pendidik harus trampil dan menguasai beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai pilihan untuk menghadapi peserta didiknya.Berbeda dengan pengajar yang akan mengajar mahasiswa, para mahasiswa lebih tenang ketika menerima pelajaran dari dosen, sehingga dosen dapat menyampaikan pelajaran sesuai dengan waktu dan materi yang telah direncanakan.Tetapi para pengajar di kelas dewasa harus lebih menguasai materi dari para mahasiswa karena mahasiswa lebih kritis dalam berpikir.Dan para pengajar kelas dewasa harus trampil dan menguasai cara- cara mengajar supaya para siswanya tidak merasa bosan serta jenuh.Oleh sebab itu para pendidik kelas rendah maupun kelas tinggi harus membaca makalah ini agar menambah ketrampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam menjalankan tugasnya.Terimakasih,,Wasalamualaikum…

    Nama : Wiwin Soeprijati
    NPM : 072116053
    Kelas : A. 1.2. Administrasi Pendidikan
    Pasca UNPAK

  3. 3 Sri Yulianti January 12, 2017 at 9:08 pm

    Belajar adalah proses perubahan perilaku. Belajar tidak hanya dilakukan ketika di usia muda, tetapi belajar merupakan kegiatan yang dapat dilakukan sepanjang hayat. Karena itulah maka ada pendekatan pendidikan pedagogy, andragogy, dan gerentotogy.
    Management of Training : Adult Learning Style ( Andragogi) yang dipaparkan Bapak Dr Adie Yusuf, mengingatkan kembali pada kita bagaimana pendekatan pembelajaran pada orang dewasa. Tahapan belajar do – look – learn kemudian kegiatan menganalisisnya, sesuai dengan prinsip belajar orang dewasa yaitu menumbuhkan motivasi untuk mencari pengalaman baru (inspirational mativation).
    Proses pembelajaran akan lebih efektif jika menggabungkan beberapa gaya belajar ( misal gabungan gaya visual dan audio), diperkuat dengan
    latihan-latihan, presentasi, dan diskusi dengan berbagai aktivitas untuk membantu merefleksikan apa yang mereka pelajari dan berbagai cara penerapannya.

  4. 4 Asep Puji Syukur January 13, 2017 at 4:38 am

    Assalamu’alaikum
    Dari artikel “Manajemen of Training :Adult Learning Style” saya semakin paham bagaimana menyampaikan bahan ajar kepada peserta didik yang masih anak-anak dan peserta didik yang sudah dewasa. Selain itu saya juga jadi mengerti tentang perbedaan karakter dari masing-masing peserta didik,sehingga sangat berguna dalam keseharian saya sebagai guru. Gaya belajar dan metode active learning yang disuguhkan dalam artikel ini juga sungguh menambah bekal bagi saya agar dalam menyampaikan materi pelajaran tidak membosankan.
    Memang menjadi seorang guru tidak cukup dengan niat semata. Niat yang tulus di barengi dengan jiwa yang ikhlas akan menjadikan kita sebagai guru semakin termotivasi berupaya keras menjadi guru yang baik, guru teladan, guru yang menyenangkan, guru yang bisa mengantarkan siswanya menemukan jati dirinya, guru yang mencetak generasi bangsa ke depan. Maka tetap istiqomahlah menjadi “guru pembelajar”.
    Asep Puji Syukur
    Kelas E.13 Administrasi Pendidikan
    NPM 072115057

  5. 5 Vera Kusmayanti January 13, 2017 at 1:34 pm

    Salam pak..
    Terima kasih atas artikel yang bapak tulis. Semakin jelas pemahaman saya tentang pembelajaran dengan pendekatan andragogik. Sehingga dapat dijadikan acuan/sumber ilmu buat saya disaat mengadakan pelatihan untuk pembelajar khusus orang dewasa.

    Vera Kusmayanti
    Program Pasca Sarjana AP E.13

  6. 6 ade January 13, 2017 at 2:07 pm

    Assalamualaikum….
    dalam Artikel ” manajemen Of Training : adult learning style ” Pelaksanaan pendidikan di Indonesia dikenal dengan sistem pendidikan nasional yang dilaksanakan melaui tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan formal, disamping itu Pendidikan bagi orang dewasa yang menggunakan sebagian waktunya dan tanpa di paksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangkan dirinya sebagai indvidu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya secara seibang dan utuh, dengan demikian pendidkan mempunyai peran yang sangat besar bagi seseorang untuk dapat mengapresiasikan potensi yang ia miliki.kita sebagai tenaga pendidik wajib membimbing dalam proses belajar untuk mencetak generasi bangsa yang positif.

    Ade Riansyah
    Kelas E.13 Administrasi pendidikan
    NPM 072115091

  7. 8 muhamad sulaeman January 14, 2017 at 3:21 am

    Assalamu’akum….
    dalam Artikel ” manajemen Of Training : adult learning style ” Pelaksanaan pendidikan di Indonesia dikenal dengan sistem pendidikan nasional yang dilaksanakan melaui tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan formal, disamping itu Pendidikan bagi orang dewasa yang menggunakan sebagian waktunya dan tanpa di paksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangkan dirinya sebagai indvidu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya secara seibang dan utuh.kita sebagai tenaga pendidik wajib membimbing dalam proses belajar untuk mencetak generasi bangsa yang positif.

    Muhamad Sulaeman Ap.13
    Kelas E.13

  8. 9 M O Saepurohman January 14, 2017 at 3:54 am

    Pendidikan apa pun bentuk nya sangat dibutuhkan oleh manusia, karena keunggulan manusia diukur dari mutu dan kualitas pendidikan itu sendiri. Management diklat merupakan salah satu bentuk pengelolaan pendidikan yang dianggap refresentatif..teori yg disampaikan dalam artikel bpk cukup bermanfaat untuk hal di atas..cuma harus dikembangkan lebih lengkap dan detail, bhkn hrs didodialisadikan kpd seluruh pelaku pengelols prndidikan..trims ……..M O Saepurohman E 13 Npm o72115127

  9. 10 Nia Rachmania January 19, 2017 at 9:16 am

    Assalamuallaikum wr wb.
    Terimakasih sebelumnya saya sampaikan kepada bapak yg telah menuliskan tema “Management of Training, Adult Learning Style”, menanggapi apa yg sudah bapak tulis, saya sangat setuju mengenai banyaknya cara belajar yg dimiliki oleh manusia, khususnya lagi oleh anak-anak dan org dewasa. Dalam penyampaian materi tersebut, kita dapat lebih mengetahui bagaimana cara proses belajar orang dewasa dengan melalui pengalaman, menumbuhkan motivasi, dan menganalisa kebutuhan apa saja yg dibutuhkan oleh peserta didik sehingga sebagai guru akan lebih mudah lagi dalam menyampaikan materi dalam proses pembelajaran.
    Sekian dari saya, trmksh
    Wassalamuallaikum wr wb
    Nia Rachmania Supandi AP.E.13
    Npm : 072115074

  10. 11 Pratama Thewicky February 6, 2017 at 8:38 am

    Assalammualaikum Wr. Wb.
    Sebelumnya terima kasih atas pengetahuan yang Bapak berikan dalam tulisan yang berjudul “Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)”.

    Pembahasan tentang pendidikan orang dewasa (Andragogy) sangat membantu saya dalam melaksanakan pekerjaan saya. Saya merupakan salah satu fasilitator di Pusdiklat Pemerintahan, dimana dalam pembelajaran di kelas, saya menemukan banyak karakteristik orang dewasa mulai dari yang berprofesi TNI, Polisi, PNS Pemda serta Instansi Pemerintah lainnya dari seluruh wilayah di Indonesia.

    Dalam proses pembelajaran di kelas saya menemukan banyak kondisi dimana pendidikan orang dewasa benar benar membutuhkan teknik dan metode yang cocok diterapkan pada mereka-mereka yang mungkin secara usia lebih senior daripada saya. Saya sebagai fasilitator harus pintar-pintar menempatkan diri agar materi yang saya sampaikan dapat diterima dengan baik tanpa harus peserta diklat yang lebih senior merasa digurui. Selain itu, terkadang peserta diklat orang dewasa karena faktor usia lebih cepat merasa bosan atau sulit untuk menerima materi yang dirasa cukup rumit seperti materi perhitungan atau bahasa asing. Metode-metode yang bapak jelaskan dalam tulisan ini sangat membantu saya untuk melakukan kegiatan “transfer knowledge” di dalam kelas.

    Terkait materi yang bapak berikan ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan sebagai bentuk penyempurnaan dari metode andragogy yang saya lakukan di kelas diklat nanti.

    a. Menurut bapak bagaimana menanggapi peserta diklat yang merasa lebih pintar dan mengetahui materi yang kita berikan sehingga menimbulkan kesan “menge-test” kemampuan atau ilmu yang kita miliki. Sebab hal ini bisa saja mempengaruhi cara pandang peserta diklat yang lain terhadap kita sebagai fasilitator. Mengingat pada pendidikan orang dewasa kita tidak bisa serta merta memberikan hukuman atau memarahi karena hal tersebut akan membuat situasi belajar yang tidak kondusif ?

    b. Pada pendidikan orang dewasa, proses yang dilakukan adalah “transfer knowledge” dimana peserta diklat tidak dalam kondisi “gelas yang kosong”. Peserta diklat tentunya telah memiliki pengetahuan sebelumnya baik itu secara keilmuan atau kondisi yang terjadi di lingkungan kerja nya. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita memberikan materi suatu ilmu, terkadang terdapat peserta diklat yang langsung memandang hal tersebut hanya sebatas teori saja dan tidak mungkin dilaksanakan pada praktek dilapangan. Hal ini membuat materi yang kita berikan tidak dapat diterima oleh peserta didik. Bagaimana saya sebaiknya bersikap mengatasi kondisi seperti itu?

    Mohon kiranya bapak dapat memberikan saran terhadap kondisi yang kami alami pada saat pendidikan orang dewasa “andragogy”.

    Terima kasih atas materi yang bapak berikan.

    Nama : Lucky Pratama
    NPM : 072116040
    Kelas : A.1.2. Administrasi Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Pakuan

  11. 12 Iisfarida Zein March 26, 2017 at 7:25 am

    Assalamualaikum sir…
    When i read this, i think there are so many things to do in teaching… And i have to make the class better and better..

  12. 13 Annisa Restu Purwanti April 1, 2017 at 2:31 pm

    Belajar merupakan kegiatan sepanjang hayat. Dimanapun dan kapanpun seseorang bisa belajar dalam memaknai kehidupan dan membangun pemikirannya. itu yang membedakan gaya belajar seorang anak dan gaya belajar orang dewasa. Maka dari itu, seorang pendidik harus memulai pembelajaran melalui brainstorming dengan tujuan penyamaan persepsi dalam mengetahui pemahaman awal peserta didiknya. Hal pertama dalam pembelajaran yang harus dilakukan seorang pendidik adalah mengenal peserta didiknya. Artinya bahwa pendidik pada tahap awal pembelajaran harus melakukan assesment untuk memberikan treatment yang sesuai dengan peserta didik yang di hadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Atas dasar tersebut, sudah seharusnya pendidik memiliki kompetensi pedagogik dan/atau andragogi sebagai penunjang kemampuannya.

    Annisa Restu Purwanti
    Kelas E.14

  13. 14 Zeni Zaenal Arifin May 1, 2017 at 5:34 am

    Assalammualaikum Wr. Wb.
    Terima kasih atas pengetahuan yang Bapak berikan dalam tulisan yang berjudul “Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)”.
    Guru adalah ujung tombak keberhasilan dan kemajuan bangsa, guru yang profesional adalah guru yang memahami proses didaktik dan metodik. Tulisan bapak sangat membantu saya sehingga dapat berusaha untuk melayani peserta didik dengan semaksimal mungkin. Gaya belajar dan metode dalam artikel ini juga sungguh menambah bekal bagi saya agar dalam menyampaikan materi pelajaran tidak akan membosankan.

    Zeni Zaenal Arifin
    E.14

  14. 15 Lusiana wulansari May 2, 2017 at 1:31 am

    Ing Ngarso Sungtulodo
    Ing Madya Mangunkarso
    Tut Wuri Handayani

    Semoga pendidikan di NKRI semakin membaik ya pak

    Selamat Hari Pendidikan

    Regards
    Lusiana wulansari
    A9. Mahasiswi UNPAK S3


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




July 2016
M T W T F S S
« Dec   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pages

Categories

Blog Stats

  • 329,288 hits

%d bloggers like this: