Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)

Oleh: Dr. Adie E. Yusuf, MA, Instructional Designer-HELM USAID Project 2015

Pengertian Belajar

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta yang bersifat internal (Gagne & Briggs, 1979).

Prinsip Belajar Orang Dewasa

Kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemukan jati dirinya (Rogers dalam Knowles,1979). Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species” mengungkapkan sebagai berikut, “…the principles of andragogy are intended to promote learning in adults….and specifically to identify key characteristics of effective adult learning, and emphasize adults as self-directed learners who are responsible for their own quality and quantity of learning…”. Bahwa teori pembelajaran yang tepat bagi orang dewasa dengan ciri-ciri yang khusus dikenal dengan istilah “Andragogi”. Andragogi makin banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan khususnya para praktisi pendidikan dan pelatihan. Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep belajar orang dewasa berdasarkan empat pokok asumsi yaitu konsep diri, peran pengalaman, kesiapan belajar dan orientasi.

Perbandingan Asumsi, Pedagogi dan Andragogi sebagai berikut.

No Asumsi Pedagogi Andragogi
1 Konsep tentang diri Pesertasebagai seseorang yang bersifat tergantung. Fasilitator bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai Peserta sebagai seseorang  yang berada dalam proses pendewasaan, berubah dari bersifat tergantung menuju kemandirian. Setiap individu memiliki latar kehidupan yang berbeda-beda. Fasilitator bertanggungjawab untuk  memelihara perubahan tersebut.
2 Pengalaman Pengalaman yang dimiliki peserta kurang bernilai. Sedangkan pengalaman yang besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari fasilitator, penulis, produsen amedia audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. Metode penyampaian yang utama digunakan adalah ceramah, tugas baca, dan presentasi melalui media audio visual. Pesertatelah memiliki alat penampungan (reservoair) pengalaman yang merupakan sumber belajar yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Peserta  menangkap makna dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada  memperoleh secara pasif. Metode  penyampaian yang utama adalah eksperimen, percobaan lab, diskusi, pemecahan masalah, simulasi, dan praktek lapangan.

 

3 Kesiapan belajar Peserta harus mempelajari apapun yang dikatakan oleh fasilitator, dan menimbulkan tekanan karena adanya perasaan takut gagal dan sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula. Oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang standar, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua peserta. Peserta akan siap mempelajari sesuatu apabila merasakan perlu

melakukan, karena dengan mempelajari sesuatu dapat

memecahkan masalah atau  menyelesaikan tugasnya dengan baik. Fasilitator menciptakan kondisi, menyiapkan media dan  prosedur untuk membantu menemukan apa yang perlu diketahui. Kegiatan belajar  disusun sesuai dengan kebutuhan pesertadan urutan penyajian disesuaikan dengan kesiapan peserta.

4 Orientasi belajar Belajar  adalah proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan memahami bahwa ilmu-ilmu baru akan bermanfaat di kemudian hari. Kurikulum disusun sesuai dengan unit-unit pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu,misalnya dari yang mudah ke kompleks. Orientasi belajar ke arah mata pelajaran, materi  disusun berdasarkanketuntasan mata pelajaran. Belajaradalah  proses peningkatan  kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal. Hasil belajar dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Proses belajar disusun ke arah pengelompokkan pengembangan kompetensi. Orientasi belajar terpusat kepadakegiatan, materi disusun  berdasarkan kompetensi atau kinerja yang yang diharapkan.

Sumber:Tamat (1985)

Karakteristik Peserta Pelatihan

Dalam proses pelatihan dan pembelajaran berdasarkan prinsip belajar orang dewasa, maka perlu dikenali karakteristik peserta pelatihan untuk mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pelatihan dan pembelajaran. Karakteristik peserta pelatihan sebagai orang dewasa dapat dikenali melalui demografi, pengetahuan,  keterampilan, sikap, serta pengalaman pekerjaan/jabatan.  Demografi peserta pelatihan yang meliputi usia, jenis kelamin, minat dan bakat,  akan membantu dalam merencanakan kebutuhan logistik pelatihan. Pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta pelatihan akan membantu dalam analisis kebutuhan pelatihan, penentuan jenis dan jenjang pelatihan, pemilihan strategi, metode, media dan aktivitas pelatihan. Pengalaman peserta akan membantu dalam mengkaitkan pelatihan dengan pekerjaan dan jabatan peserta. Informasi tentang karakteristik pesertapelatihan dapat diketahui  melalui wawancara, percakapan dan kuesioner.

Gaya Belajar Orang Dewasa

DePorter,  Reardon  &  Singer-Nouri (2000),  membedakan  gaya  belajar  berdasarkan modalitas yang dominan pada seorang peserta  yang terdiri dari 3 (tiga) gaya, yaitu:

  1. Visual yaitu tipe orang yang lebih  mudah  menyerap  materi  pelajaran  apabila melihat langsung materi tersebut.
  2. Auditif yaitu tipe orang  yang lebih  mudah  menyerap  materi  pelajaran  apabila mendengar langsung materi tersebut.
  3. Kinestetik yaitu tipe orang yang  lebih  mudah  menyerap materi  pelajaran  apabila mencoba langsung materi tersebut.

Dalam proses pelatihan, diharapkan para peserta dapat belajar pengetahuan dan keterampilan yang baru. Tetapi setiap peserta memilikigaya belajar yang berbeda seperti auditory, visual atau kinesthetic (VAK).

  • Peserta yang belajar dengan cara membaca atau melihat adalah gaya visual.
  • Peserta yang belajar dengan cara mendengarkan adalah gaya audio atau auditory.
  • Peserta yang belajar dengan cara melakukan sesuai adalah gaya kinesthetic.

Untuk mengetahui gaya belajar sesuai prinsip orang dewasa, maka dapat dilakukan melalui penilaian diri (self assessment) tentang gaya belajar Auditory, Visual dan Kinesthetic (VAK).

Semua orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Beberapa lebih biasa belajar melalui pendengaran, yang lain melalui penglihatan; beberapa orang lebih suka latihan melalui praktek. Penelitian De Porter mengungkapkan manusia dapat menyerap suatu materi sebanyak 70% dari apa yang dikerjakan, 50% dari apa yang didengar dan dilihat (audio visual), sedangkan dari yang dilihatnya hanya 30%, dari yang didengarnya hanya 20%, dan dari yang dibaca hanya 10%. Sementara itu, Kerucut Edgar Dale menunjukkan bahwa seseorang belajar melalui penglihatan 75%, pendengaran  13% dan lainnya 12%. Pengalamanpembelajaranyang efektifmenggabungkan berbagai gayabelajar,latihan-latihan, presentasi dan diskusi dengan berbagai aktivitas untuk membantu peserta merefleksikan pada apa yang sedang mereka pelajari dan berbagai cara penerapannya.

Metode Active Learning

Ada banyak metode pembelajaran yang menekankan pada pendekatan pelatihan aktif (active training). ASTD (2000) merumuskan bahwa “Active training is an appropriate learning in which the participants are actively engaged in the learning process through activities and structured experiences facilitates by the trainer”.

Berikut ini beberapa contoh metode dan teknik pelatihan aktif yang lazim digunakan baik secara sendiri atau bervariasi dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran bagi orang dewasa.

  1. Ice Breaker & Energizer

      Ice Breaker & Energizer sebenarnya bukan termasuk metode pembelajaran yang sesungguhnya. Kegiatan ini merupakan aktivitas yang menyenangkan dan kadang-kadang menggunakan gerakan fisik untuk menciptakan suasana lingkungan pembelajaran yang sesuai. Kegiatan ini membantu individu untuk berinteraksi  dan menciptakan suatu perasaan kelompok. Permainan, musik dan latihan fisik digunakan untuk membantu mempererat hubungan antar peserta dan menghindari kejenuhan. Ice Breaker & Energizer dapat digunakan sesuai waktu, pada awal atau setengah jalan dalam suatu pelatihan atau lokakarya.

 

  1. Matching/Diad

Teknik matching/diad (berpasangan) merupakan teknik belajar partisipatif yang melibatkan dua orang yang berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Teknik ini  cocok dilakukan untuk keakraban, khususnya kalau peserta belum saling mengenal. Peserta akan lebih mengenal satu sama lain dan lebih akrab, serta  mengurangi hambatan komunikasi antara peserta.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator meminta peserta untuk mencari seorang pasangan dari antara peserta yang lain. Kalau dilakukan pada tahap pembinaan keakraban, sebaiknya peserta mencari pasangan yang belum dikenal.

2) Fsilitator memberikan daftar pertanyaan yang harus ditanyakan secara bergantian, misalnya: nama, umur, pendidikan, pekerjaan, minat, kegemaran, latar belakang keluarga, alasan mengikuti pelatihan. Agar lebih menarik, dapat ditanyakan pengalaman yang lucu atau berkesan. Hasil wawancara disusun secara tertulis berdasarkan urutan pertanyaannya.

3) Setelah selesai saling mewawancarai, masing-masing peserta diminta memperkenalkan pasangannya kepada kelompok. Cara memperkenalkannya dapat diselingi dengan humor, nyanyian, deklamasi.

4) Fasilitator memberikan komentar setelah setiap peserta melaporkan hasil wawancaranya. Sebaiknya komentar yang diberikan secara santai dan tidak sampai menyakiti hatii.

 

  1. Brainstorming

      Brainstorming (curah pendapat) adalah teknik yang dipakai untuk menghimpun gagasan dan pendapat untuk menjawab masalah tertentu, dengan cara mengajukan pendapat atau gagasan sebanyak-banyaknya. Curah pendapat dilakukan dalam kelompok yang pesertanya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kegiatan curah pendapat lebih ditekankan untuk menghasilkan pendapat atau gagasan yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator menyusun pertanyaan-pertanyaan yang terkait. Sebagai contoh, fasilitator menanyakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja dalam pekerjaan.

2) Fasilitator mengajukan pertanyaan tersebut kepada peserta. Kemudian fasilitator  memberikan waktu 2-3 menit kepada setiap peserta untuk memikirkan jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Peserta hanya perlu menyampaikan pendapatnya, tidak boleh mengkritik atau menyela pendapat orang lain.

3) Fasilitator mencatat pendapat atau gagasan itu di papan tulis atau pada kertas (flipchart) yang disediakan, atau menunjukkan seorang peserta untuk melaksanakan tugas tersebut.

4) Sesudah peserta diberi kesempatan untuk memikirkan jawabannya, peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas. Setiap pendapat akan ditulis di papan tulis atau kertas yang sudah disediakan. Fasilitator memberi batasan waktu untuk melakukan kegiatan ini, misalnya 5 atau 10 menit.

5) Sesudah waktu habis, pendapat atau gagasan yang terkumpul dapat dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori tertentu untuk mengambil kesimpulan.

 

  1. Diskusi Kelompok Kecil

Kelompok kecil terdiri dari 2 – 4 orang. Kelompok ini dapat terdiri dari orang-orang yang memiliki minat dan keahlian yang homogen atau heterogen. Pemilihan kelompok homogen atau heterogen ditentukan oleh tugas yang diberikan atau masalah yang dihadapi. Jika tugas yang diberikan masih dalam tahap penjajakan lebih baik kelompok homogen, dan jika memerlukan pemikiran yang meluas lebih kelompok heterogen. Setiap kelompok dapat membahas pokok pikiran atau topik bahasan tertentu. Dalam kelompok kecil, peserta dapat mengungkapkan gagasan atau pendapat tentang masalah yang dibahas.

Langkah-langkah:

1) Sebelum diskusi, fasilitator mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan topik atau masalah yang akan dibahas.

2) Fasilitator menyusun uraian suatu topik dan masalah yang berupa pernyataan, atau uraian pendek dalam bentuk cerita. Pada akhir uraian, fasilitator melontarkan masalah, baik dalam bentuk pertanyaan maupun dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok. Perlu pula dicantumkan batasan waktu yang disediakan untuk membahas topik itu.

3) Fasilitator menjelaskan topik yang akan dibahas, tujuan pembahasan dan cara-cara diskusi secara demokratis, serta mendorong semua peserta untuk ikut terlibat secara aktif.

4) Fasilitator menyarankan peserta membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang. Dapat pula ditunjuk seorang peserta menjadi pemimpin, dan penulis.

5) Fasilitator membagikan uraian topik serta tugas atau masalah yang harus dijawab oleh kelompok, dan mempersilakan peserta melakukan diskusi. Fasilitator mengingatkan  kelompok bahwa hasil diskusi akan dilaporkan dalam kelompok atau peserta yang lain. Fasilitator perlu mengingatkan peserta waktu yang disediakan untuk melakukan diskusi.

6) Fasilitator perlu sesekali menghampiri kelompok yang sedang berdiskusi, dan memperhatikan proses diskusi. Fasilitator perlu memberikan arahan atau mengingatkan kembali topik yang dibahas kalau pembicaraan menyimpang. Fasilitator perlu membatasi komentar yang diberikan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit komentar atau arahan yang diberikan fasilitator, semakin hidup pembahasan yang dilakukan. Komentar dari fasilitator hanya diberikan kalau pembahasan sudah cukup jauh menyimpang, atau kalau ada satu orang peserta yang mendominasi pembicaraan.

7) Kalau waktu habis dan pembahasan belum selesai, fasilitator perlu menawarkan tambahan waktu. Tambahan waktu sebaiknya tidak diberikan terlalu banyak, karena akan mengganggu kegiatan. Pada waktu persiapan, fasilitator perlu memikirkan dan merencanakan alokasi waktu ini dengan cermat.

8) Sesudah pembahasan kelompok kecil, fasilitator meminta setiap kelompok untuk membagikan hasil diskusi dalam kelompok besar. Fasilitator dapat memimpin diskusi kelompok besar tersebut.

9) Fasilitator bersama peserta membahas dan menyimpulkan hasil-hasil diskusi kelompok kecil, sehingga menghasilkan kesimpulan bersama.

10)  Fasilitator memberi kesempatan bagi peserta untuk mengevaluasi proses diskusi dan hasilnya, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar. Hal ini akan memberikan kesempatan peserta untuk merenungkan kembali proses belajarnya dan mengambil pelajaran yang penting dari kegiatan itu.

 

  1. 5. Praktik Lapangan

Praktik lapangan adalah teknik yang digunakan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan, dengan mempraktikkan di lapangan atau dalam kehidupan nyata, dalam pekerjaan atau tugas yang sebenarnya. Teknik ini sangat tepat digunakan untuk membina dan meningkatkan kemampuan peserta dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator bersama peserta mengidentifikasi kebutuhan belajar  yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana praktik lapangan.

2) Atas dasar kebutuhan belajar itu fasilitator bersama peserta menyusun rencana  praktik lapangan. Rencana ini mencakup tujuan praktik lapangan, lokasi, keahlian atau keterampilan yang akan diterapkan, rangkaian kegiatan yang akan dilakukan, orang-orang yang terlibat, fasilitas dan alat-alat, dana, jadwal dan waktu kegiatan.

3) Fasilitator menugaskan peserta untuk menjajaki obyek yang akan dikunjungi, untuk menyampaikan informasi dan mengindentifikasi informasi yang berhubungan dengan lapangan untuk dijadikan masukan menyempurnakan rencana pelaksanaan di lapangan.

4) Fasilitator membantu peserta dalam melaksanakan praktik lapangan, dengan kegiatan antara lain:

– Mengarahkan dan memotivasi peserta untuk melakukan tugas dan kegiatan sebagaimana tercantum dalam rencana

– Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pelaksanaan praktek lapangan

5) Selesai di lapangan, peserta menyusun laporan pelaksanaan.

6) Peserta mendiskusikan proses, hasil dan pengaruh praktik lapangan.

7) Fasilitator bersama peserta melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil pelaksanaan praktik lapangan.

 

  1. Self Evaluation

      Self evaluation (evaluasi diri)  secara khusus dipakai untuk mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran. Penggunaan teknik ini menuntut keseriusan dari peserta. Evaluasi diri dilakukan dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang sudah disediakan pada lembaran khusus. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk menghimpun pendapat peserta antara lain terhadap proses pembelajaran, bahan belajar, kinerja, dan pengaruh kegiatan belajar yang dirasakan oleh peserta. Evaluasi ini juga dapat digunakan untuk mengetahui pendapat peserta tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan pelatihan dibandingkan dengan sebelum mengikuti kegiatan pelatihan.

Langkah-langkah:

1) Fasilitator menyusun lembaran tertulis yang berisi daftar pernyataan pendapat peserta.

2) Fasilitator menyebarkan lembaran itu pada waktu yang bersamaan kepada para peserta  untuk selanjutnya diisi oleh peserta.

3) Setelah jawaban-jawaban itu dihimpun dan diolah, fasilitator bersama peserta mendiskusikan hasil evaluasi. Hasil diskusi dijadikan bahan untuk perbaikan atau pengembangan program kegiatan pembelajaran.

4) Fasilitator bersama peserta  melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil penggunaan teknik ini.

 

Referensi

 

1 Response to “Management of Training : Adult Learning Style (Andragogy)”


  1. 1 wiwin soeprijati December 5, 2016 at 6:59 am

    Assalamualaikum..
    Makalah Management of Training: Adult Learning Style ( Andragogy )’
    makalah ini sangat baik untk dibaca bagi para guru / calon pendidik. Bagi para pendidik di kelas rendah sangat disarankan untuk menambah wawasan dan ketrampilan dalam menghadapi anak didiknya. Khususnya di tingkat sekolah rendah para peserta didik cenderung tidak bisa duduk tenang dalam jangka waktu yang cukup lama.Konsentrasi dalam menerima pelajaran tidak berlangsung lama. Jadi para guru/ pendidik harus trampil dan menguasai beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai pilihan untuk menghadapi peserta didiknya.Berbeda dengan pengajar yang akan mengajar mahasiswa, para mahasiswa lebih tenang ketika menerima pelajaran dari dosen, sehingga dosen dapat menyampaikan pelajaran sesuai dengan waktu dan materi yang telah direncanakan.Tetapi para pengajar di kelas dewasa harus lebih menguasai materi dari para mahasiswa karena mahasiswa lebih kritis dalam berpikir.Dan para pengajar kelas dewasa harus trampil dan menguasai cara- cara mengajar supaya para siswanya tidak merasa bosan serta jenuh.Oleh sebab itu para pendidik kelas rendah maupun kelas tinggi harus membaca makalah ini agar menambah ketrampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam menjalankan tugasnya.Terimakasih,,Wasalamualaikum…

    Nama : Wiwin Soeprijati
    NPM : 072116053
    Kelas : A. 1.2. Administrasi Pendidikan
    Pasca UNPAK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




July 2016
M T W T F S S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pages

Categories

Blog Stats

  • 275,492 hits

%d bloggers like this: