Guru “Tanpa tanda-jasa” dan Guru “Profesional”

Oleh: Dr. H. Adie E. Yusuf, MA. Dosen Pascasarjana Universitas Pakuan

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu”

Petikan lirik lagu hymne Guru yang selalu dinyanyikan oleh warga sekolah pada setiap upacara peringatan Hari Guru pada tanggal 25 November dengan penuh keharuan. Ternyata liriknya telah diubah dengan menghilangkan kata “tanpa tanda jasa”. Tentunya bukan berarti kita menghilangkan peran guru yang besar dan mengurangi penghargaan bagi guru yang mulia untuk memajukan pendidikan nasional.

Dalam ajaran Islam, guru dimuliakan seperti halnya ulama. Guru memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam, karena gurulah yang memberikan santapan ruhani dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, akhlak mulia dan adab serta perilaku teladan yang baik bagi kehidupan peserta didik di masa depan.

Allah SWT berfirman, yang artinya  “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 58: 11)

Dalam hadits Nabi disebutkan bahwa “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi rusak”. Selanjutnya, “Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada”. (H.R Abu Daud dan Turmizi).

Jadi sangat tegas dinyatakan bahwa profesi guru sangatlah istimewa, dimana guru sebagai orang yang berilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya lebih tinggi. Guru sebagai profesi termasuk orang-orang yang mulia dan sangat dihormati. Sejenak mari kita mengenang kembali tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro yang memiliki ajaran yang sangat menghargai guru sebagai pendidik, yakni: “Ing ngarsa sung tuladha” berarti di depan memberi teladan. “Ing madya mangun karsa”, berarti ditengah memberikan dorongan dan peluang. “Tut wuri handayani” berarti dibelakang memberi dorongan. Ajaran inilah yang menjadi semboyan pendidikan nasional dan menjadi panduan bagi para guru dalam menjalankan tugas belajar dan mengajar. Bukanlah tidak mungkin profesi guru dapat dipanggil dengan sebutan seperti anggota DPR yaitu “Guru yang terhormat” atau seperti majlis hakim yaitu “Guru yang mulia”. Mungkin inilah sebutan yang layak bagi para guru sebagi pengganti kata-kata yang hilang dalam hymne Guru “tanpa tanda jasa”. Profesi guru mengemban tugas yang sangat terhormat dan mulia, karena melalui wasilah para gurulah, ilmu pengetahuan bisa tersebarluaskan kepada peserta didik. Menjadi guru bukanlah hal yang  mudah, tetapi perlu bekal pengetahuan dan keterampilan agar menjadi guru yang profesional. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan tentang ilmu kependidikan dan pedagogik melalui professional development program bagi para guru merupakan condito sine qua non dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia. Akhirnya kepada segenap warga sekolah, marilah kita muliakan dan hormati jasa para guru kita. Sementara itu, bagi para guru teruslah berjuang dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. Sejatinya bahwa guru yang mulia akan dinilai dari hasil karya nyata yang bermanfaat bagi semua. Semoga para guru menjadi guru profesional dengan berlandaskan kode etik, dan menjadi uswatun khasanah dengan memelihara adab dan sopan santun dalam berkarya.

Advertisements

15 Responses to “Guru “Tanpa tanda-jasa” dan Guru “Profesional””


  1. 1 diankusumastuti84 September 29, 2017 at 2:06 am

    Dian Kusumastuti (072116057)
    saya setuju sekali dengan tulisan bapak. Tugas guru adalah mengajar dan mendidik peserta didik. Mengajar adalah memberikan segala kemampuan kita meliputi ilmu dan pengetahuan secara maksimal terhadap peserta didik, ibaratnya kertas kosong yang kita isi dengan tinta, baik tinta emas ataupun tinta perak tergantung kita menulisinya karena sejatinya apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Mendidik adalah memberikan gambaran tentang bertindak dan berperilaku yang lebih baik dan lebih bijak terhadap peserta didik. Semua yang dilakukan oleh guru adalah pekerjaan yang tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan penghargaan apapun. Dan sebagai guru yang profesioanl sudah selayaknya kita memberikan pengajaran dan pendidikan yang berkualitas terhadap peserta didik kita. Karena guru adalah suatu profesi yang mulia bukan sebuah profesi pilihan terakhir. Sekarang kita tanya pada diri kita sendiri, apakah kita adalah seorang guru yang profesional atau kita menjadi guru karena kita tidak mendapatkan pekerjaan yang lain?..

  2. 2 Erpan Purnama 072116060 AP.III.3 PPsUnpak September 29, 2017 at 10:51 am

    Yth Bapak Adhie,
    Guru adalah seorang yang ucapan, sikap, dan perilakunya digugu dan ditiru oleh anak didiknya. Namun, kenyataan saat ini menjadi paradoks, ketika seorang guru kehilangan jati dirinya, terserabut wibawanya, dan kabur teladannya. Hal ini karena beberapa hal, pertama guru tidak lagi memiliki komitmen kuat untuk mengabdi mencerdaskan anak bangsa, sebagian besar kegiatan mengajar belajar berkorelasi dengan seberapa besar insentif yang iab terima. Kedua, guru senantiasa mengejar kesejahtraan dalam melaksanakan profesinya, sehingga nilai-nilai moral, etika, dan sosial tergadaikan dengan nilai material. Ketiga, orientasi tugas guru hanya pada mengajar, bukan lagi mendidik dan membina siswa, sehingga ketika ia selesai mengajar, selesai jugalah tugas/amanah dirinya sebagai guru, yang digugu dan ditiru.
    Jadi idiom, guru tanpa tanda jasanya sepertinya masih jauh dari harapan. Guru menjalankan tugasnya dengan mengejar tanda jasa, royalitas lebih penting daripada loyalitas. Di zaman kontemporer ini, guru perlu hidup, survive dan menyetarakan status, dan previlagenya dengan prioofesi lain. Frase guru tanpa tanda jasa hialng tergerus roda zaman yang hedonis, liberalis, dan pluralis.

  3. 3 Divia Risti Uzukriyah September 29, 2017 at 11:27 am

    Pendidikan merupakan hal fundamental bagi setiap negara. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikan. Dalam rangka menuju negara maju melalui pendidikan, ada banyak hal yang dapat diperbaiki, salah satu hal terpenting adalah Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang dimaksud yaitu guru. Sebagai pendidik, guru merupakan garda terdepan keberhasilan pendidikan. Akan tetapi banyak hal yang harus dibenahi agar guru menjadi profesional dan berkualitas. Guru yang profesional akan mengerahkan segenap jiwa guna menciptakan kondisi belajar yang efektif agar peserta didik dapat berkembang. Selain itu, kualitas guru akan berdampak baik pula bagi kualitas peserta didik. Siswa menjadi produktif, kreatif, dan inovatif merupakan dampak yang dapat diperoleh jika pendidik melakukan pembelajaran dengan baik. Akan tetapi tidak jarang kita temui guru bertindak sesuka hati. Masuk ke kelas, menjelaskan seadanya, hanya sekadar menggugurkan tanggung jawab. Namun fenomena ini tidak bisa dipandang dari satu sisi dan menghakimi pribadi guru. Banyak hal yang bisa dianalisis dari kejadian yang tidak diharapkan ini. Mungkin saja pemerintah kurang memberikan perhatian terutama pada guru honor atau mungkin beban yang di tanggung seorang guru terlalu berat. Dari aspek lingkungan, bisa jadi keadaan sekolah kurang baik sehingga menyebabkan guru menjadi “malas”. Begitu banyak aspek yang dapat dianalisis untuk mendapatkan simpulan dari kesenjangan ini. Berbagai elemen mulai dari pemerintah, lingkungan hingga pribadi guru diharapkan besinergi dan membenahi diri hingga menciptakan guru profesinal dan berkualitas.

    Divia R. Uzukriyah, AP3.3

  4. 4 irwan sudarsono November 10, 2017 at 1:29 pm

    IRWAN SUDARSONO, 072116062, AP.III.3

    Saya pernah membaca selogan moto salah satu perusahaan besar otomotif, yakni Toyota. Moto tersebut berbunyi demikian “We make people first before we make product”. Bagi Toyota penekananya adalah pada “people”, kualitas yang baik dari orang/pekerjanya dahulu, maka produk yang baik akan tercipta kemudian. Dengan kata lain, kualitas produk merupakan buah dari proses produksi penuh ketelitian, ketangguhan, dan kesungguhan. Mereka berinvestasi dengan mengolah SDM dengan global standard dengan mendirikan Toyota Learning Center yang bertugas memberikan pelatihan dan transfer ilmu antar karyawan. Singkatnya Toyota berusaha memaksimalkan potensi SDM-nya agar terjadi kerjasama tim yang baik. Semuanya itu perlu tenaga ahli, perlu guru yang dapat memberikan pelatihan transfer ilmu kepada murid atau karyawan.
    Berangkat dari pemahaman tersebut, berarti dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa terletak pada SDM yang berkualitas dan dapat diandalkan. Hal ini tentu tidak lepas dari mutu dan kualitas pendidikan bangsa tersebut. Sedangkan yang menjadi ujung tombak atau garda depan dalam dunia pendidikan adalah guru. Guru sebagai pilar kemajuan peradaban dan kemajuan suatu bangsa.
    Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita menghormati dan menghargai profesi guru. Segenap dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, khususnya dari pemerintah pusat harus bisa mengangkat harkat guru dengan kulitas SDM yang dapat diandalkan ditengah masyarakat.
    Sangat disayangkan jika di Negara kita pendidikan masih belum merata. Masih banyak daerah-daerah pedalaman yang belum mengenyam pendidikan. Selain itu, minim nya gaji guru yang diterima di daerah-daerah pedalaman menyebabkan sedikitnya jumlah guru yang mau bekerja disana.
    Ini adalah tanggung jawab kita bersama, pemerintah daerah bersama dengan pemerintah daerah serta lapisan masyarakat (orangtua murid), harus bisa bekerjasama untuk memperhatikan SDM guru.
    Upaya tersebut diantaranya:
    1. Memberikan beasiswa studi lanjut kepada guru berrestasi
    2. Meningkatkan kesejahteraan guru secara merata
    3. Mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru
    4. Mengadakan perlombaan guru mata pelajaran tingkat SD, SMP, dll di tingkat Nasional.
    5. Kerjasama dengan Negara luar dalam meningkatkan mutu SDM guru (misalnya: studi banding)

  5. 5 Hardi Purnama November 21, 2017 at 1:35 pm

    Hardi Purnama 072117039 AP II PPs Unpak
    Profesi guru ibarat dua sisi yang keduanya memiliki hal yang berbeda. Satu sisi, saat ini profesi guru menjadi salah satu profesi yang diinginkan oleh banyak orang. Terbukti pelamar untuk memperebutkan sekitar 30.000 formasi guru dan jika diambil rata-rata maka satu jabatan guru diperebutkan oleh 65,5 pelamar (sumber: Liputan 6). Ini membuktikan bahwa banyak orang berminat untuk menjadi guru. Penyebab dari ini semua adalah banyaknya anggapan yang menyatakan bahwa guru adalah pekerjaan yang memang bisa memberikan waktu yang fleksibel, diikuti dengan tingkat penghasilan yang cukup bagus baik itu guru yang berstatus PNS ataupun guru yang berstatus swasta. Salah satu yang membuat penghasilan meningkat adalah apa yang dinamakan dengan tunjangan Sertifikasi. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi. Bagi guru yang lulus sertifikasi berhak menerima tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai bulan Januari tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik. Sertifikasi guru ini sebagai langkah pemerintah Indonesia menyejahterakan guru demi tercapainya mutu pendidikan Indonesia yang baik. Kesejahteraan disini bermakna materi. Asumsinya, bila guru sejahtera, maka kinerja guru akan makin baik. Dengan kinerja baik, maka pendidikan pun akan berjalan optimal. Bila pengajaran dan pendidikan berjalan normal, maka peserta didik pun akan berprestasi baik. Tapi anggapan seperti itu berbeda pada saat ini. Anggapan bahwa pendidikan akan memiliki kualitas yang bagus apabila diikuti oleh kesejahteraan pendidik yang baik tidak menjamin kedudukan akan pendidikan di suatu negara akan meningkat. Sebagai contoh, banyaknya guru yang mangkir kerja seenaknya walaupun sudah memiliki jumlah penghasilan yang tidak sedikit.
    Di sisi yang lain, tidak sedikit pula ketika seseorang telah berkomitmen untuk menjadi seorang guru, maka dia siap untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya, baik dari segi pengetahuan ataupun akhlaknya. Banyak guru yang harus melewati bukit, sungai ataupun lembah untuk menjangkau anak muridnya. Tidak sedikit guru yang mampu berkorban materi ataupun imateri untuk anak didiknya. Tidak sedikit pula seorang guru yang cukup sabar menghadapi berbagai tingkah polah anak muridnya bahkan untuk guru anak-anak difabel yang membutuhkan perhatian khusus dari semuanya. Sering kali mereka tidak memperdulikan materi yang mereka peroleh tetapi lebih cenderung untuk membantu peserta didik ke arah yang lebih baik. Hal ini bisa dikatakan sebagai Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
    Oleh karena itulah kita juga harus yakin bahwa tak semua guru pada zaman seperti saat ini hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja dengan menghilangkan kesan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Masih banyak sekali orang-orang yang berprofesi sebagai guru dan tetap menjalankan amanahnya sebagai pribadi yang ikhlas tanpa memandang materi dalam mengamalkan ilmunya bahkan rela menghabiskan waktu mereka demi mendapatkan anak didik yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa.

  6. 6 indriwuu November 21, 2017 at 9:26 pm

    sebentar lagi 25 november..
    saya baru dapat info untuk peringatan hari guru nasional tahun 2017 ini ternyata akan diadakan acara “Pekan Kreativitas dan Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan” pada tanggal 23 – 26 november 2017.
    ada pameran juga yang akan diikuti oleh seluruh unit utama dan mitra kerja Kemendikbud. Pameran berlangsung selama dua hari, yaitu pada 24- 25 November 2017 di Plaza Insan Berprestasi, Gedung Ki Hajar Dewantara, Kantor Kemendikbud.

    selamat hari guru..

    sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2017/11/15/17012791/hari-guru-nasional-tahun-ini-libatkan-seribu-guru

  7. 7 Ela Nurlaelasari November 24, 2017 at 4:14 am

    Secara formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.
    seperti yang Bapak Anis Baswedan katakan dalam pidatonya didalam acara bertajuk “Indonesia WOW, Provinsi WOW”.
    Anies tidak setuju jika guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
    Menurut Anies, jasa guru terus melekat pada diri setiap warga negara yang pernah dididiknya.
    “Kita semua tahu bahwa kita semua yang ada di sini membawa jasa guru. Saya tidak setuju guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa karena setiap hari kita membawa tanda (jasa) itu,”
    Anis meminta kepada masyarakat untuk memuliakan Guru.
    Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuan para pendidiknya untuk mengubah karakter generasi penerusnya ke depan. Tanpa figur pendidik, mungkin bangsa besar seperti Indonesia tidak akan dapat menikmati hasil jerih payah putra-putri nusantara yang sudah mendorong perkembangan tersebut.
    Guru adalah sebuah profesi yang mulia karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan. Guru juga dianggap sebagai pahlawan pembangunan, karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: seperti pintar, pandai, atau pakar di bidang ilmu yang dimiliki; melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai “agent of change”.
    Oleh sebab itu, tugas yang diemban oleh seorang guru tidak ringan, karena guru yang baik tidak hanya memberitahu, menjelaskan atau mendemonstrasikan, tapi juga dapat menginspirasi.
    Seorang guru harus mampu memandang perubahan jauh ke depan, dengan demikian guru dapat merencanakan apa yang terbaik untuk anak didiknya.
    Seorang guru juga harus dapat mengemban tugasnya sebagai motivator yang mampu memotivasi anak didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok.
    Peran seperti inilah yang disebut oleh Presiden Soekarno, sebagai “Guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak.”

    “Selamat Hari Guru dan Dirgahayu PGRI ke 72”

  8. 8 irmina Catur Reno Amunpuni December 7, 2017 at 3:51 am

    Irmina catur Reno Amumpuni

    072117042

    “Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa” tidaklah menjadi hal yang asing ditelinga kita. Para guru berjuang membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan ditengah segala keterbatasan media, fasilitas, dan penjajahan. secara sederhana pahlawan tanpa tanda jasa adalah orang yang berani dan rela berkorban dalam membela kebenaran tanpa mengharapkan keuntungan pribadi. Dalam lagu Himne Guru mengandung makna begitu dalam untuk menggambarkan guru sebagai pahlawan yang tidak mengenal tanda jasa. memang menggeluti profesi sebagai guru tidaklah mudah. Guru mempunyai tanggungjawab besar dalam membentuk sumberdaya manusia atau SDM. untuk itu diperlukan pengorbanan yang begitu besar walau dengan jasa yang tidak begitu besar.

    tidaklah menjadi hal yang berlebihan jika guru yang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
    Guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa; bukan karena hanya pukul 7 pagi hingga pukul tiga siang saja tetapi juga bekerja dirumah untuk mempersiapkan proses belajar hari berikutnya. Guru kreatif dan tidak ada yang sama dalam mengajar. Guru memahami bahwa siswa sebagai individu dan siswa dalam kelas adalah berbeda. Guru ingin yang terbaik bagi para siswa dan tidak tega melihat kegagalan para siswa.

    Terima kasih para guru karena engkau sudah berjasa bagi setiap pribadi yang menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik.

  9. 9 Rahmat Darsono February 13, 2018 at 7:24 am

    Guru adalah asset bangsa, tanpa kehadiran seorang guru sebuah bangsa tidak akan maju. Tatkala Jepang luluh lantak setelah dibombardir oleh Sekutu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral yang tersisa, menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?“. Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Kaisar. Mereka hanya dapat berkata bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru.
    Jawaban Kaisar diluar dugaan. “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? “
    Setelah itu pemerintah Jepang mengumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa. Kaisar berkata bahwa kepada gurulah selayaknya sebuah kemajuan Negara bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan.
    Ketika Vietnam dilanda perang saudara pada tahun 1975, mereka sadar betul bahwa mereka selama ini berada dibawah kekuasaan asing, sehingga mereka tidak maju dan tidak berkutik. Amerika di Selatan dan Uni Sovyet di Utara menjadikan Vietnam sebagai tempat dalam menyebarkan basis ideology. Setelah perang yang menelan banyak korban, akhirnya mereka bersatu dan membangun bangsa dengan berbasis pada guru. Ada satu hal yang menarik dari peristiwa ini, sama seperti halnya Jepang, Vietnam membangun negaranya dengan kalimat “no teacher no education, no education no economic and social development”. Inilah yang menyebabkan Vietnam mampu bersaing dengan Indonesia. Padahal bila kita bandingkan dari kemerdekaan masing-masing Negara, Indonesia berada 30 tahun di depan sebelum Vietnam merdeka. Vietnam begitu maju dalam hal pendidikan dikarenakan 3 faktor, anggaran pendidikan mayoritas bukan dinggarkan untuk biaya investasi tapi untuk gaji, artinya guru lebih sejahtera dibandingkan dengan Indonesia. Kurikulum yang terfokus, tidak ada istilah ganti orang, ganti kebijakan, dan terakhir guru yang professional.
    Guru professional dibutuhkan oleh sebuah Negara untuk dapat meningkatkan indek pembangunan manusia. Guru saat ini bukan lagi pekerjaan sampingan, tetapi guru merupakan profesi seperti halnya dokter, akuntan, advokat, hakim yang dituntut keprofesionalismeannya.
    Sudah sewajarnya guru lebih diperhatikan dalam hal kesejahteraanya, begitupun dalam bekerjanya. Guru ditutut untuk dapat bekerja lebih professional. Seperti pemeo ayam atau telur? Begitupun guru, sejahtera atau professional?

    Rahmat Darsono
    Mahasiswa S3 UNPAK
    Manajemen Pendidikan
    073117020

  10. 10 Lela Hikmatullah February 18, 2018 at 11:44 pm

    Saya sependapat dengan Bapak Adie E Yusuf, MA. Walaupun lirik tanpa tanda jasa telah diganti bukan berarti kita menghilangkan peran guru yang besar untuk memajukan pendidikan nasional. Istilah guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tidaklah menjadi hal yang asing ditelinga kita mengingat bagaimana para guru berjuang membebaskan rakyat indonesia dari kebodohan ditengah segala keterbatasan media, fasilitas dan penjajahan.
    Lirik lagu hymne guru: “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagi pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa pembangun mimbar cendikia”. semua kata dalam hymne guru mengandung makna begitu dalam untuk menggambarkan guru sebagai pahlawan yang pembangun para cendikia yang cerdas dan berkepribadian. Menggeluti profesi guru tidaklah mudah guru mempunyai tanggungjawab besar dalam membentuk sumber Daya manusia (SDM).
    Berdasarkan pengalaman saya sebagai pengajar disalah satu SMA PGRI di Kota Bogor berprofesi menjadi guru memiliki kepuasan tersendiri karena kita menjadi orang tua kedua mereka, tidak hanya mentransfer ilmu atau membuat anak menjadi pintar tapi lebih merasa senang mendidik siswa yang tingkah lakunya kurang baik menjadi lebih baik, karena kita mendidik siswa dari input yang heterogen dari berbagai latar belakang karakter dan kondisi keluarga yang semuanya harus kita sikapi dengan adil dan baik sehingga ilmu yang kita berikan bermanfaat bagi kehidupannya.
    Guru merupakan peranan yang sangat penting merupakan unsur pembentuk pada setiap lembaga pendidikan. Guru dinilai merupakan sosok yang berakhlak mulia “ Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Mujadalah 11), dinilai berperan penting dalam mencerdaskan putra-putri bangsa, tanpa guru tak ada kemajuan bangsa ini berkat didikan dan tangan dingin seorang guru lahirlah manusia-manusia besar pembangun negri ini, maka guru dianugrahi gelar pahlawan pembangun mimbar cendikia, karena melahirkan kecerdasan, berkompeten dan menciptakan manusia-manusia pintar serta berakhlak mulia, dipundaknya memikul beban yang sangat berat karena tanggung jawabnya ikut serta membangun generasi penerus bangsa. Gelar yang special, gelar yang hebat gelar bukan sembarangan gelar yang bisa diraih oleh profesi lainnya.
    Didalam mars PGRi terdapat lirik “wahai kaum guru semua… kitalah penyuluh bangsa pembimbing melangkah kemuka,… kitalah pembangun jiwa pencipta kekuatan negara”. Guru yang ikhlas tidak hanya menorehkan pendidikan formal semata, namun guru tersebut mampu menanamkan nilai-nilai moral kehidupan sehingga bisa diterima siswa untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan kepribadian karakter dengan pengajaran yang didasari dengan keikhlasan, kesabaran dan kepedulian, tanpa memandang seberapa besar gaji yang diterima. Jasa akan keikhlasan mereka dalam mengabdikan diri mengamalkan ilmunya pada generasi pahlawan masa kini sebagai kekuatan negara.
    Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang sekarang diganti menjadi pembangun mimbar cendikia ini mampu disandang oleh guru yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan indonesia, serta tak kenal lelah dan sepenuh hati dalam membimbing siswa walaupun di abad 21 ini guru dituntut dengan setumpuk administrasi pengajaran dan dengan kurikulum yang berubah-rubah, akan tetapi selalu optimis memajukan pendidikan di indonesia dengan berlatih berbagai tuntutan kemajuan pendidikan terutama dalam penguasaan IT sehingga menjadi guru yang Profesional.
    Guru profesional adalah guru yang mampu mendidik anak didiknya menjadi generasi yang mampu bersaing dan bermoral. Untuk mencapai hal tersebut maka pendidik hendaknya mampu memiliki karakter yang baik pula. Karakter yang dimaksud adalah menguasai kurikulum, menguasai materi yang akan diajarkan, terampil menggunakan multi metode pembelajaran, mempunyai perilaku yang baik , memiliki kedisiplinan dalam arti yang seluas-luasnya serta mampu berkomunikasi baik dengan orang tua siswa maupun dengan masyarakat.
    “Ya hanya seorang guru “ Pahlawan Tanpa Tanda jasa/pembangun mimbar cendikia” yang layak mendidik negri ini. Terima kasih guruku, jasa-jasaMu akan slalu kukenang dalam sanubariku.

    Lela Hikmatullah
    Manajemen Pendidikan
    073117009
    S3A10

  11. 11 Sukmanasa Elly February 22, 2018 at 1:25 pm

    Elly Sukmanasa
    S3 10 A
    073117006

    Guru disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, memang sudah sepantasnya sebutan “tanpa tanda jasa” tersebut dimiliki seorang guru karena guru memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan bangsa ini.
    Mari kita renungkan sejenak pada usia kita sekarang, kita sudah memiliki bekal kehidupan yang cukup bila dibandingkan dengan teman-teman yang lain yang seusia dengan kita. Kita patut bersyukur dengan apa yang kita miliki, pengetahuan didapat dari hasil proses belajar. “siapakah yang pertama mengajarkan kita menulis, membaca dan berhitung?”
    Pastinya ada dua alternatif jawaban apakah sosok seorang ibu yang telah melahirkan kita, merawat, mengajar, mendidik, dan membimbing kita di rumah sehingga kita bisa seperti sekarang ini ataukah “guru” yang sudah mengajar, mendidik, membimbing kita di sekolah sehingga kita bisa seperti sekarang ini. Dari pernyataan tersebut anggap saja “gurulah” yang telah membuat kita bisa menulis, membaca, dan menhitung. Pertanyaan berikutnya “apa yang sudah kita perbuat untuk guru kita yang sudah memberikan kita bisa membaca, menulis, dan berhitung sampai sekarang ini?.
    Guru kita mengajar, mendidik, dan membimbing kita sehingga kita bisa seperti sekarang ini tanpa ada harapan dan balasan dari peserta didiknya melainkan ada kepusan tersendiri ketika seorang guru dapat menyaksikan peserta didiknya mengerti dan memahami materi pelajaran yang diberikannya. Guru tidak hanya bekerja mulai pukul 7 pagi hingga pukul 3 siang saja, tetapi mereka pun bekerja di rumah untuk mempersiapkan materi pelajaran berikutnya, seperti menyiapkan perangkat pembelajaran, seperti RPP, bahan ajar, media pembelajaran, menyiapkan LKPD, soal evaluasi, soal remedial, memeriksa tugas yang diserahkan para siswa. Selain pekerjaan akademik masih harus mengurus permasalahan akademik, permasalahan semua peserta didik yang terkadang harus diselesaikan secara etika dan moral oleh gurunya.
    Berdasarkan pemaparan di atas sangatlah wajar ketiga guru disebut-sebut “pahlawan tanpa tanda jasa” karena pengorbanan serta pengabdiannya banyak dicurahkan pada pendidikan anak bangsa tanpa pamrih.
    Bangsa ini akan menjadi berkembang dan sangat maju bila ditopang oleh kondisi guru yang profesional. Yang dimaksud profesional disini adalah suatu pekerjaan yang ditunjang ilmu tertentu yang mendalam yang diperoleh dari lembaga pendidikan yang sesuai sehingga pekerjaannya berdasarkan keilmuan yang dimiliki dan bisa dipertanggungjawabkan, artinya seorang guru harus mempunyai kemampuan khusus tentang keguruan tentang kemampuan yang tidak mungkin dipunyai oleh yang bukan seorang guru.
    Negara sudah berupaya dengan berbagai cara untuk mencetak guru-guru profesional diantaranya melalui pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang dilaksanakan selama 10 hari, dilanjutkan dengan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan selama satu tahun lamanya yang dimulai tahun 2017, walaupun sampai sekarang masih banyak guru-guru yang belum tertampung dalam kegiatan tersebut. Tetapi itu dapat dijadikan suatu bukti bahwa bangsa ini sangat memperhatikan keberadaan guru.
    Berdasarkan itu semua janganlah kita melupakan jasa guru yang sudah memberi berbagai ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadikan diri kita seperti sekarang ini, salahsatunya dengan mendoakan serta mengenang kebaikan para guru sehingga ilmu yang diperoleh akan menjadi berkah dan bermanfaat.

  12. 12 Hendri Ardianto February 23, 2018 at 4:40 pm

    Hendri ardianto (072117065)
    Pascasarjana AP kelas G9

    Sebelumnya saya ucapkan terimakasih dan apresiasi tulisan yang inspiratif oleh Dr.H. Adie E Yusuf, MA.

    Petikan lagu yang menggugah kita untuk sadar bahwa profesi seorang guru adalah profesi yang mulia. Tentu sepatutnya bagaimana kita bisa menempatkan posisi guru harus lebih tinggi bahkan mulia. Guru dapat di ibaratkan sebagai peta yang mampu memberi petunjuk untuk menghindari tersesat. Tersesat disini diartikan sebagai orang yang tidak memiliki ilmu. Dengan adanya guru dan terjadi interaksi pembelajaran maka kita sebagai peserta didik akan memiliki ilmu. Banyak orang yang saat ini bisa sukses dan memiliki jabatan penting, semua itu tidak terlepas dari peran guru. Tentu guru adalah inspirasi dan model bagi peserta didik untuk menemukan ilmu.

    Sering kita mendengar kata guru, dalam bahasa jawa diterjemahkan sebagai “digugu lan ditiru”. Artinya bahwa guru dijadikan panutan. Setiap petuah yang diberikan dapat kita refleksikan sehingga dapat merubah perilaku dan menambah ilmu. Setiap guru tentu memiliki harapan bahwa anak didiknya dapat menjadi orang-orang yang sukses serta berguna bagi nusa dan bangsa. Begitu tulus dan penuh kasih yang terpancar dalm diri seorang guru dalam mentrasfer ilmunya. Penuh kesabaran saat mendidik, penuh ketelatenan serta keuletan. Dari sini lah kita bisa melihat begitu besar jasa seorang guru. Begitu besar pula yang seharusnya kita berikan kepada guru sebagai ungkapan terimakasih.

    Tetapi Melihat kenyataan dewasa ini ada yang miris tentang perlakuan terhadap guru. Ada guru yang di aniaya bahkan dibunuh. Disini seorang guru bukan mendapat derajat yang tinggi malah yang didapat intimidasi. Dengan melihat peran guru yang begitu besar, seyogyanya kita bisa memberikan apresiasi dan ungkapan terimakasih terhadap guru. Semoga para guru selalu semangat dalam mengemban tugas mulia.

  13. 13 Juliwardi,Mahasiswa S3 UNPAK,kelas A 10 February 28, 2018 at 4:11 am

    Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh,maaf pak Adie baru komentar tentang “guru tanpa tanda jasa dan guru professional”
    Saya sangat setuju dengan pernyataan bapak betapa prihatinnya kita akan kenyataan sekarang ini bahwa guru sebagai sosok yang digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh) seperti kehilangan makna di dunia yang secara jujur masih sangat membutuhkan. Terlepas dari oknum guru yang terkadang belum mengemban tugas dan tanggung jawabnya seperti idealnya, namun guru punya tugas terhormat…maaf saya jarang menyebut mulia karena terkadang kata yang mulia ini terlalu berat disandang ( semoga Allah memuliakan kita ). Saya pikir bahwa guru sebagai profesi istimewa itu tidak berbantahkan,walau pada realitanya bagi sebagian orang profesi ini tidaklah popular dibandingkan profesi lain misalnya profesi dokter. Kenyataan di masyarakat saja terbukti jika ditanya apa pekerjaan kamu ? jawabnya “ saya dokter” dengan wajah semangat dan penuh percaya diri, tapi jawab seorang guru nyaris lirih mengatakan “saya cuma guru”. Hakekat guru ini yang belum dipahami sesungguhnya, sehingga pandangan bahwa profesi ini disandang oleh seorang yang memiliki nilai keikhlasan, kesabaran dan kepedulian menjadi salah penerapannya.
    Pada pandangan lain dikatakan bahwa “Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini mampu disandang oleh seorang guru yang memiliki nilai keikhlasan, kesabaran dan kepedulian. Jadi, tergantung masing-masing guru yang bersangkutan. Apabila seorang guru memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia pendidikan Indonesia, serta tak kenal lelah dan sepenuh hati dalam membimbing siswa, dan memiliki cita-cita yang luhur dalam memajukan pendidikan Indonesia. Memang beliau adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sebaliknya, jika seorang guru hanya mengajar asal-asalan dan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perkembangan siswa maka dampaknnya akan kembali pada siswa sehingga guru harus kembali belajar untuk menjadi guru yang ikhlas dalam mengajar”. Ini benar sekali maka jawaban untuk mencapai tujuan ini jelas pada tinkat keProfesionalan guru itu sendiri, maka saya sangat setuju dengan pak Adie bahwa guru perlu dan kontinyuitas mendapat pelatihan keterampilan tentang ilmu kependidikan dan pedagogik melalui professional development program.
    Apapun itu namanya gelar yang diperuntukkan guru tidaklah menjadikan guru terpengaruh secara sentimental akan penghargaan itu, namun pihak pemerintah pada wewenangnya juga dituntut kepedulian dan kerjnya nyata mengurus dan mengapresiasi atas profesi guru ini. Berdasarkan hal ini pemerintah melalui menterinya telah merubah lirik lagu hymne guru. Tapi tampaknya, masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan perubahan itu. Buktinya beberapa waktu lalu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Sumarna Surapranata mengingatkan kembali soal perubahan lirik lagu Hymne Guru yang masih sering dilupakan masyarakat.Tindakaan Sumarna itu dilakukan secara spontan setelah mengetahui ada anak yang salah menyanyikan lagu Hymne Guru pada acara Teacher Run dalam kegiatan Hari Guru di Pasar seni Ancol, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Saat itu juga Sumarna mengingatkan bahwa lirik lagu Hymne Guru yang awalnya ‘engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa’ berubah menjadi ‘engkau patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia’. Perubahan lirik lagu Hymne Guru pada kalimat terakhir telah disepakati dan ditandatangani pada tanggal 27 November 2007, disaksikan oleh Dirjen PMPTK Depdiknas dan ketua pengurus besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hal itu juga diperkuat dengan surat edaran Persatuan Guru Republik Indonesia Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007.Dalam kesempatan itu juga, Sumarna menerangkan jika perubahan itu dilakukan karena kalimat ‘tanpa tanda jasa’ terkesan mengurangi pentingnya profesi guru. Padahal peran guru sangat besar sekali sehingga lirik tersebut diganti dengan ‘pembangun insan cendekia’ yang membuat profesi guru terangkat dan mulia.Tapi meski sudah berjalan 8 tahun sejak ditandatangani SK tersebut, masyarakat Indonesia, termasuk siswa SD masih sangat familiar dengan istilah ‘tanpa tanda jasa’. Tentu hal itu terjadi karena guru yang mengajari mereka masih menggunakan lagi Hymne Guru versi lama.
    Akhir kata saya sekali lagi sependapat dengan Bapak bahwa menjadi guru bukanlah hal yang mudah,tetapi perlu bekal pengetahuan dan keterampilan agar menjadi guru yang professional. Sejatinya bahwa guru yang mulia akan dinilai dari hasil karya nyata yang bermanfaat bagi semua. Semoga menjadi guru yang professional. Aaamiin

  14. 14 ISRAL March 25, 2018 at 2:52 pm

    Kita tidak bisa pungkiri betapa besar dan berharganya peran guru dalam kehidupan manusia. Baik guru secara formal di lembaga pendidikan (sekolah2), maupun guru secara informal dan nonformal di masyarakat. Namun slogan “Tanpa tanda jasa” yang melekat pada seorang guru, saat ini berangsur angsur pudar seiring dengan perkembangan zaman. Pesatnya perkembangan tekhnologi komunikasi dan informasi, perubahan prilaku masyarakat yang mulai cendrung ke materialistik, serta perubahan nilai nilai pada masyarakat secara langsung maupun tidak langsung telah membuat tatanan yang selama ini melekat pada diri seorang guru menjadi turut berubah.
    Saat ini kita terlalu sering dan malah sudah biasa mendapatkan informasi tentang prilaku anak anak yang tidak hormat pada gurunya, tidak menghargai gurunya, mengancam, berkelahi, bahkan membunuh gurunya. Disamping itu kita juga mendapatkan gambaran sosok seorang guru yang jauh dari sosok “ideal” sebagai layaknya seorang yang disebut dengan slogan “tanpa tanda jasa”. Guru yang tidak memiliki fisi pendidik, materialistis, tidak bertumbuh,bahkan tidak mampu memberi contoh yang baik kepada para siswa nya baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Belum lagi permasalahan pribadi guru di rumah tangganya yang secara tidak langsung berpengaruh pada kualitas pribadi sang guru.
    Pemerintah terus mencoba membenahi dan memperbaiki system pendidikan saat ini. Dengan kebijakan anggaran pendidikan 20 %, pemerintah berusaha dengan segala cara agar kualitas dan kuantitas guru meningkat, serta memperbaiki kesejahteraan guru, termasuk membenahi kurikulum pendidikan. Namun dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, letak geografis dan area wilayah Indonesia yang sangat luas, tentu upaya pemerintah ini tidak dengan mudah dapat terlaksana dengan baik.
    Adalah sangat sulit mengembalikan slogan “tanpa tanda jasa” pada sosok seorang guru saat ini, tanpa kerja sama semua pihak.
    Namun kita tetap optimis bahwa slogan mulia ini dapat kembali terwujud bila perhatian yang sungguh sungguh dari pemerintah terhadap permasalahan pendidikan diringi dengan peran masyarakat dalam menciptakan ruang kepada guru dan siswa untuk saling menghormati, terutama peran orang tua dan keluarga di rumah dalam memberikan pendidikan pada anak anaknya tentang pentingnya peran guru.

    Mari kita semua saling mengambil peran
    Tentu kita tidak ingin Indonesia menjadi Negara tanpa guru, bukan…..

    ISRAL
    Mahasiswa S3 UNPAK Bogor
    NPM 073117010

  15. 15 Meidiana Dimaya April 1, 2018 at 8:17 am

    Assalamualaikum
    Saya Meidiana Dimayanti
    Npm 037117180
    Kelas 2G
    Mahasiswa PGSD UNPAK Bogor
    .
    .
    Guru adalah pembangun insan cendekia, yang mengajar dan mendidik murid-muridnya. Guru adalah sosok yang memiliki karakter penyabar dan penyayang. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, murid-murid akan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh gurunya, baik sikap positif atau pun negatif. Maka dari itu menjadi seorang guru tidak lah mudah, menjadi seorang guru harus memiliki akhlak mulia yang dapat memberikan contoh kepada murid-murid, dan menjadi seorang guru harus memiliki kreatifitas agar murid-murid aktif di dalam kelas. Perlu adanya bekal pengetahuan dan keterampilan agar menjadi guru profesional. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan tentang ilmu kependidikan sangatlah penting untuk menjadi seorang guru profesional, dan guru yang patut di gugu dan ditiru.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




May 2017
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pages

Categories

Blog Stats

  • 401,017 hits
Advertisements

%d bloggers like this: