Training Evaluation Model Part 2

Model Evaluasi Pelatihan

Bagian 2

Secara logis dan sistematis langkah-langkah pelaksanaan evaluasi pelatihan sebagai berikut.

Langkah 1: Persiapan Evaluasi atau Penyusunan Desain Evaluasi

Pada langkah ini terdapat tiga kegiatan pokok yang berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi yaitu: menentukan tujuan atau maksud evaluasi, merumuskan infromasi yang akan dicari atau memfokuskan evaluasi dan menentukan cara pengumpulan data. Rinciannya sebagai berikut:

a. Menentukan Tujuan / Maksud Evaluasi

Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi adalah: 1) kejelasan, 2) keterukuran, 3) kegunaan dan kemanfaatan, 4) relevansi dan kesesuaian atau compatibility. Jadi tujuan evaluasi harus jelas, terukur, berguna, relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.

b. Merumuskan Informasi atau Memfokuskan Evaluasi: Merumuskan Pertanyaan Evaluasi dan Menentukan Jenis Informasi yang akan Dicari

Dalam merumuskan pertnayaan evaluasi harus berdasarkan kepada tujuan evaluasi. Terdapat beberapa metode dalam merumuskan pertanyaan evaluasi yaitu:

1. Menganalisis objek

2. Menggunakan kerngka teoritis

3. Memanfaatkan keahlian dan pengalaman dari luar

4. Berinteraksi dengan sponsor atau audien kunci

5. Mendefinisikan Tujuan Evaluasi

6. Membuat pertanyaan tambahan atau bonus

c. Menentukan Cara Pengumpulan Data

Pada langkah ini ditentukan metode evaluasi yang ditempuh, misalnya survei atau yang lain, ditentukan pula pendekatan dalam pengumpulan data. Terdapat beberapa prosedur pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif, yaitu observasi, tes, survei atau survei dengan kuisioner.

Langkah 2: Mengembangkan Instrumen

Setelah metode pengumpulan data ditentukan, selanjutnya dutentukan pula bentuk unstrumen yang akan digunakan serta lepada siapa instrumen tersebut ditujukan (respondennya). Kemudian, segera dapat dikembangkan butir-butir instrumen.

Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh instrumen evaluasi sebagai berikut:

a. Validitas

Validitas adalah keabsahan instrumen dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.

b. Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan hasil yang diperoleh, misalnya bila melakukan pengukuran dengan orang yang sama dalam waktu yang berlainan atau orang yang lain dalam waktu yang sama.

c. Objektivitas

Tujuan dari objektifitas ini adalah supaya penerjemahan hasil pengukurasn dalam bilangan atau pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukan.

d. Standarisasi

Instrumen evaluasi harus distandarisasi, karena memiliki karakteristik umum seperti item tersusun secara sistematis dan terstuktur, kemudian petunjuk kuhusus pengisian dan pengolahan diberikan dengan jelas, dan disertai pula oleh penunjuk tentang bagaimana kerahasiaan informasi dijaga.

e. Relevansi

Seberapa jauh dipatuhinya ketentuan-ketentuan atau kriteria yang telah ditetapkan untuk memilih bebrbagai pertanyaan agar sesuai dengan maksud instrumen.

f. Mudah digunakan

Instrumen tersebut hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga mudah digunakan.

Langkah 3: Mengumpulkan dan Menganalisis Data serta menafsirkannya

Langkah keempat merupakan tahapan pelaksanaan dari apa yang telah dirancang apada langkah pertama sampai ketiga. Pada langkah ini sudah mulai untuk terjun ke lapangan mengimplementasikan disain yang telah dibuat, mulai dari mengumpulkan dan menganalisis data, menginterpretasikan, dan menyajikannya dalam bentuk yang mudah dipahami dan komunikatif.

a. Mengumpulkan Data

Dalam melakukan pengumpulan data ini dilakukan dengan berbeda-beda pada tiap masing-masing level. Pada level reaksi data yangg dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey melalui kuisioner. Kemudian pada level pembelajaran data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif dengan menggunakan metode survey berupa tes. Selanjutnya pada level tingkah laku, data yang dikumpulkan melalui observasi atau dapat juga dengan rencana aktifitas (Action Plan) yaitu rencana tahapan tindakan yang akan dilakukan oleh peserta pelatihan dalam mengimplementasikan hasil pelatihan yang telah diikuti, dalam hal ini para peserta harus mempunyai sautu sasaran peningkatan kinerja/kompetensi yang bersangkutan dalam unit kerja masing-masing yang kemudian diukur dengan mengunakan patokan kinerja/kompetensi yang bersangkutan. Kemudian yang terakhir, yaitu pada level keempat level hasil atau dampak, pada data yang dikumpulkan dapat melalui atasan, peserta pelatihan, bawahan atau rekan kerja (client).

Metode pengumpulan data dalam evaluasi pelatihan dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel

Proses Pengumpulan Data Evaluasi Pelatihan

Level Evaluasi

Deskripsi

Metode Pengumpulan Data

1. Reaksi

Mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap program pelatihan yang diikuti.

Kuantitatif

- survey (kuisioner), dengan skala pengukuran yaitu skala Likert.

2. Pembelajaran

Mengukur tingkat pembelajaran yang dialami oleh peserta pelatihan.

Formal tes (tertulis)

3. Tingkah Laku

Mengukur implementasi hasil pelatihan di tempat kerja.

Action Plan, observasi

4. Hasil

Mengukur keberhasilan pelatihan dari sudut pandang bisnis dan organisasi yang disebabkan adanya peningkatan kinerja/komtenesi peserta pelatihan.

Evaluasi action plan dan data laporan hasil kerja.

b. Menganalisis Data dan Menafsirkannya

Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah berikutnya adalah dianalisis. Dalam menganalisa data dan menafsirkannya harus berdasarkan hasil data yang telah berhasil didiapatkan.

Langkah 4: Menyusun Laporan

Melaporkan merupakan langkah terakhir kegiatan evaluasi pelatihan. Laporan disusun dengan kesepakatan yang telah disepakati. Langkah terakhir evaluasi ini erat kaitannya dengan tujuan diadakannya evaluasi.

Langkah-langkah tersebut dapat dengan digunakan untuk menjawab sejauh mana evaluasi pelatihan yang akan dilakukan dan bagaimana pelaksanaan proses pelatihan dari awal hingga akhir sehingga memberikan hasil untuk improvisasi pada pelatihan-pelatihan selanjutnya.

About these ads

15 Responses to “Training Evaluation Model Part 2”


  1. 1 imraanmuslim February 8, 2009 at 11:05 am

    Salam Qren !

    Pak Adie, …
    dalam mengevaluasi, ternyata juga memerlukan instrumen evaluasi ynag valid, reliabel, terstandar, objektif dan mudah digunakan. Apakah ini berarti dalam evaluasi pelatihan (program), memiliki suatu perhitungan tertentu yang telah menjadi standar ?

    setahu saya dalam evaluasi hasil, instrumen evaluasi selalu berbeda, hasilnya pun relatif. Bagaimana sebenarnya pengukuran penggunaan isntrumen untuk pelatihan ini ??

    penghitungan statistika pun tidak luput dari perhitungan ini … padahal saya kira, evaluasi untuk pelatihan hanya sekedar menghimpun data kepuasan dan pencapaian secara kualitatif ….

    Mohon responnya Pak.

    • 2 Ramadhan Eka Hardi January 5, 2013 at 7:17 am

      Dear Pak Adie,

      Setelah saya coba untuk memarparkan proses evaluasi, banyak yang mengganjal sebenarnya kapan waktu efektif dilakukannya evaluasi ? dan oleh siapa yang memiliki kompeten untuk mengevaluasi di suatu organisasi ?

      Terima Kasih
      Dari : Ramadhan Eka Hardi (072111064)

  2. 3 firman June 15, 2009 at 11:09 pm

    Pak, Adie, ….

    Bagaimana model evaluasi kirkpatrick untuk program pelatihan….

    mohon responnya pak

    terima kasih

    • 4 Performance Tech Adie June 16, 2009 at 5:53 am

      Model evalusi Kirkpatrick dapat dilakukan untuk pelatihan level 1 -2 pada proses pelatihan dan level 3-4 pada akhir pelatihan serta levl 5 ROI. Namun demikian, setiap level punya tujuan yang berbeda. Terima kasih.

  3. 5 Rudi August 7, 2009 at 2:03 am

    Pak Adie, mohon diberi contoh konkret satu program kerja yang sederhana lengkap dengan evaluasinya, terima kasih atas perhatiannya.

  4. 6 chika yunindra March 8, 2010 at 11:57 am

    pak, saya masih binggung dari Beberapa kriteria yang digunakan dalam merumuskan tujuan evaluasi 1) kejelasan, 2) keterukuran, 3) kegunaan dan kemanfaatan, 4) relevansi dan kesesuaian atau compatibility. kejelasan, terukur, relevan disini seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan program diklat.
    mohon pencerahan dari pak adie, dan teman2 smuaa..
    mkasiih :)

    chika.TP07.

  5. 7 hikmah purnamasari March 9, 2010 at 3:16 am

    Pak,saya mau tanya masalah STANDARISASI. Standarisasi dari sebuah instrumen ditetapkan dari mana pak??apa setiap perusahaan berbeda atau itu sudah ada petunjuk dari seluruh DIKLAT yang ada pak???

    Terima kasih banyak pak…

  6. 8 nurhadijah April 6, 2010 at 6:28 am

    Evaluasi pelatihan
    Model evaluasi pelatihan sangat banyak macamnya , disini saya akan mengajak teman – teman mengingat lagi dengan model ADDIE , dimana pada Tahap terakhir dari model disain instruksional untuk pembelajaran (learning) adalah tahap evaluasi. Dari namanya, tahap ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh pembelajaran yang dilakukan sudah memberikan manfaat atau memperoleh hasil seperti yang diharapkan.
    Dalam model ADDIE, evaluasi dapat dibagi 2 jenis yakni :
    Tahap formative : adalah tahap evaluasi yang dilakukan pada proses Analysis, Design, Development dan Implementation. Gunanya untuk mengetahui apakah perlu adanya revisi pada setiap proses, agar tahap pembelajaran bisa dilaksanakan lebih baik.
    Tahap summative :merupakan tahap evaluasi yang terdiri dari serangkaian tes pada beberapa kriteria referensi atau acuan untuk hasil akhir dari tahap pembelajaran, guna memperoleh feedback yang lebih baik dari peserta.
    Tahap evaluasi ADDIE ini dapat disajikan dengan grafik atau metrik yang menarik. Namun, itu bukanlah tujuan yang utama. Tahap evaluasi lebih menitikberatkan pada efektifitas kursus dan focus pada perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan kinerja peserta yang mengikuti pelatihan / pembelajaran.
    Dengan demikian, setelah tahap implementasi, atau pelatihan diberikan, itu bukanlah akhir dari pelatihan/pembelajaran. Tahap evaluasi menyediakan review akhir dari keseluruhan proses pelatihan. Dalam tahap evaluasi ini, seorang trainer/instruktur dapat mengukur seberapa jauh proyek pelatihan yang diberikan telah mencapai sasaran yang diberikan. Sehingga pada tahap ini, hendaknya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
    - Apakah peserta menyenangi pelatihan yang diberikan?
    - Apakah peserta mendapatkan sasaran pelatihan setelah kursus berakhir?
    - Apakah peserta dapat berubah perilakunya nanti di tempat kerja?
    - Apakah dengan kursus ini membantu peserta mencapai sasaran kerja di unit/departemen dia berada?

    nurhadijah_1215076090
    TP’07

  7. 9 Performance Tech Adie April 20, 2010 at 2:51 pm

    Yth Para Mahasiswa dan Profesional

    Evaluasi kini makin dibutuhkan bagi institusi pendidikan dan pelatihan,terutama evaluasi pasca pelatihan. Oleh karena tuntutan akuntabilitas dan transparansi dari stakeholder, sehingga program pelatihan harus dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif dan fair. Hal ini dapat dilakukan melalui evaluasi cost-benefit dan ROI.

    Salam.
    Adie E. Yusuf

  8. 10 eka galih p April 26, 2010 at 2:47 pm

    sejalan dgn print out yg tlah diberika.semakin terpuaskan..

  9. 11 Tata M. syaid May 19, 2010 at 4:48 am

    Pak, ikut gabung…saya mahasiswa S2 Umpak Kelas A1. terimakasih.

  10. 12 tatasukma October 5, 2010 at 4:20 am

    Pendidikan dan pelatihan dinilai perlu dilakukan untuk meningkatkan wawasan, mengasah kemampuan dalam melaksanakan tugas organisasi, dan menyamakan visi organisasi, serta tentu pada akhirnya berdampak positif bagi pengembangan organisasi. Saya selaku pegawai negeri di bidang Pengembangan Sumber daya Manusia, merasa memang diklat (pendidikan dan pelatihan) dirasakan perlu dilakukan. Namun, gambaran yang terjadi adalah diklat dilaksanakan untuk mendapatkan jabatan. Gambaran tersebut menempel pada pikiran masing-masing individu sehingga, pelaksanaan diklat tersebut dianggap lebih menjurus kepada kepentingan pribadi. Dengan demikian. Saat ada Pelaksanaan diklat di organisasi pemerintah, diklat diikuti dengan biaya dari pribadi atau peserta diklat bukan dari biaya yang dikeluarkan oleh organisasi tempat individu itu bekerja. Padahal apabila ita melihat segi keuntungan secara makro, organisasi lah yang mendapatkan keuntungan, yaitu peserta diklat menjadi lebih berkompeten dalam menjalankan tugasnya. Jadi menurut saya, yang harus membiayai peserta diklat adalah organisasi tempat peserta tersebut bekerja.

  11. 13 Dewi Triana A3 2 December 8, 2012 at 6:48 am

    Terimakasih Pak atas penambahan wawasan dan pengetahuan yang bapak berikan, sukses selalu unk Pak adie

  12. 14 Dudu Kurniadi January 16, 2013 at 8:01 am

    Dear, Mr. Addie
    Saya Dudu Kurniadi
    Ketika kita berbicara evaluasi pelaksanaan diklat terkadang saya bingung evaluasi yang dilakukan itu apakah oleh penyenggara diklat mampu mengevaluasi hasil dari peserta ? atau evaluasi hanya untuk meningkatkan pelaksanaan diklat itu sendiri tanpa memperhatikan outcome diklat. karena yang pernah saya alami stelah mengikuti diklat hanya beberapa bulan saja kita bertahan dengan hasil diklat stelah itu kita kembali ke alam kita atau kehabitat kita atau kebiasaan kita.
    Mohon pencerahannya ?
    Terima kasih Pa.

  13. 15 SETIA WAHYUNI January 29, 2013 at 1:49 am

    Honorable. Dr.H. Adie E.Yusuf, SPd. MA.

    Setelah membaca, mencermati dan memahami artikel-artikel yang Bapak tuangkan di blog ini, saya sangat appreciated terutama artikel (Training Evaluation Models), dan (Assessment Technique), karena telah membuka wawasan dan pemahanan bagaimana seharusnya kegiatan pelatihan itu dievaluasi, dan model-model evaluasi yang dapat digunakankan serta Metode atau alat-alat evaluasi yang cocok untuk mengukur keberhasilan sebuah pelatihan.
    Memperhatikan apa yang dikemukakan oleh Stufflebeam dan Guba (1974) yaitu “The purpose of evaluation is to provide information to aid decision making at several levels in the implementation of a program”, dalam hal ini informasi yang dibutuhkan harus valid, reliabel dan objektif, agar keputusan yang dibuat (decision making) benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian dibutuhkan evaluator yang independent atau orang-orang yang tidak punya kepentingan/tujuan terselubung “Yes man” dibalik evaluasi yang dilakukannya.
    Saya sangat setuju bahwa evaluasi yang dilakukan tidak hanya sebatas proses dan hasil akan tetapi juga ditindak lanjuti dengan evaluasi dampak dari sebuah pelatihan yang dikaitkan dengan kinerja pasca pelatihan. Kalau hal ini dilakukan dengan baik dan terencana maka saya yakin dan percaya bahwa Quality Assurance sebuah pelatihan dapat dipertanggung jawabkan.
    Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih telah diberi kesempatan untuk mendownload artikel-artikel yang sangat berharga ini semoga bermanfaat dan memberi inspirasi bagi banyak orang untuk berbuat yang terbaik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi sebuah pelatihan. Mudah-mudahan hal ini akan menjadi ladang amal bagi Bapak dan keluarga. Amin.
    NAMA : SETIA WAHYUNI
    NIM : 073111061
    MAHASISWA PASCASARJANA S3 UNIVERSITAS PAKUAN
    KELAS S3.B-1 JAMBI
    Email : setiawahyuni61@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




July 2008
M T W T F S S
« May   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pages

Categories

Blog Stats

  • 101,660 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers

%d bloggers like this: