Guru “Tanpa tanda-jasa” dan Guru “Profesional”

Oleh: Dr. H. Adie E. Yusuf, MA. Dosen Pascasarjana Universitas Pakuan

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu”

Petikan lirik lagu hymne Guru yang selalu dinyanyikan oleh warga sekolah pada setiap upacara peringatan Hari Guru pada tanggal 25 November dengan penuh keharuan. Ternyata liriknya telah diubah dengan menghilangkan kata “tanpa tanda jasa”. Tentunya bukan berarti kita menghilangkan peran guru yang besar dan mengurangi penghargaan bagi guru yang mulia untuk memajukan pendidikan nasional.

Dalam ajaran Islam, guru dimuliakan seperti halnya ulama. Guru memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam, karena gurulah yang memberikan santapan ruhani dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, akhlak mulia dan adab serta perilaku teladan yang baik bagi kehidupan peserta didik di masa depan.

Allah SWT berfirman, yang artinya  “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. 58: 11)

Dalam hadits Nabi disebutkan bahwa “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi rusak”. Selanjutnya, “Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada”. (H.R Abu Daud dan Turmizi).

Jadi sangat tegas dinyatakan bahwa profesi guru sangatlah istimewa, dimana guru sebagai orang yang berilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya lebih tinggi. Guru sebagai profesi termasuk orang-orang yang mulia dan sangat dihormati. Sejenak mari kita mengenang kembali tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro yang memiliki ajaran yang sangat menghargai guru sebagai pendidik, yakni: “Ing ngarsa sung tuladha” berarti di depan memberi teladan. “Ing madya mangun karsa”, berarti ditengah memberikan dorongan dan peluang. “Tut wuri handayani” berarti dibelakang memberi dorongan. Ajaran inilah yang menjadi semboyan pendidikan nasional dan menjadi panduan bagi para guru dalam menjalankan tugas belajar dan mengajar. Bukanlah tidak mungkin profesi guru dapat dipanggil dengan sebutan seperti anggota DPR yaitu “Guru yang terhormat” atau seperti majlis hakim yaitu “Guru yang mulia”. Mungkin inilah sebutan yang layak bagi para guru sebagi pengganti kata-kata yang hilang dalam hymne Guru “tanpa tanda jasa”. Profesi guru mengemban tugas yang sangat terhormat dan mulia, karena melalui wasilah para gurulah, ilmu pengetahuan bisa tersebarluaskan kepada peserta didik. Menjadi guru bukanlah hal yang  mudah, tetapi perlu bekal pengetahuan dan keterampilan agar menjadi guru yang profesional. Oleh karena itu, pelatihan keterampilan tentang ilmu kependidikan dan pedagogik melalui professional development program bagi para guru merupakan condito sine qua non dalam rangka memajukan pendidikan di Indonesia. Akhirnya kepada segenap warga sekolah, marilah kita muliakan dan hormati jasa para guru kita. Sementara itu, bagi para guru teruslah berjuang dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab. Sejatinya bahwa guru yang mulia akan dinilai dari hasil karya nyata yang bermanfaat bagi semua. Semoga para guru menjadi guru profesional dengan berlandaskan kode etik, dan menjadi uswatun khasanah dengan memelihara adab dan sopan santun dalam berkarya.

Survey on Character Building: Professional Development in BINUS University

By Dr. Adie Erar Yusuf, MA. Associate Faculty Member, BINUS University

INTRODUCTION

One key success factor of national development is determined by the available competent and competitive  human resources, especially in the era of globalization. In this senses, education has a central role in increasing competence, and forming the required character.

The National Education System Law No. 20/2003 states that education serves to develop the ability to form character and the civilization of the dignity in the framework of the intellectual life of the nation. Education aims to develop the potential of students to become a man of faith and piety to God Almighty, it also produces precious, healthy, knowledgeable, accomplished, creative,  independent, democratic and accountable human beings.

Ray and Montgomery (2006) stated the results of the research that staff, students, and faculty believe that  character education is occurring in various forms across   the university, and that appropriate role model may have an important impact on college students.  Students  who define formal learning believe that character education occurs best, and should occur, in the classroom, while students who define judicious learning focus on extracurricular settings, especially those involving the disciplinary process. Continue reading ‘Survey on Character Building: Professional Development in BINUS University’

Competency-based Human Resource Development of COT Polytechnic

By Dr. Adie E. Yusuf, MA.

Academic Specialist, ADB Grant, Polytechnic Education Development Project, 2017.

Indonesia’s Master Plan for Acceleration and Expansion, covering 2011–2025, emphasizes strengthening human resources, science, and technology capabilities for the country’s economic development. The master plan highlights increasing value addition and expanding value chains for industrial production, strengthening production efficiency, and promoting innovation to generate jobs and income-earning opportunities. (ADB Project Brief, 2012, https://www.adb.org/)

Human resources are the backbone of higher education particularly Polytechnic Higher Education (VHDE) institutions. Qualified and dedicated staff are key to ensuring that polytechnic institutions fulfill their mission of teaching and learning, research, and service to society (Haskins & Shaffer, 2011). In order to support Human Resource System in COT as a center of capital management to promote continuous professional development and competitiveness and excellence in Polytechnic institutions. Continue reading ‘Competency-based Human Resource Development of COT Polytechnic’

Monitoring & Evaluation: ICM School

By Dr. Adie E. Yusuf, MA. Head of Quality Assurance, ICM BSD 2016.

PENDAHULUAN

Sejak didirikan tahun 2010 dan mulai efektif menyelenggarakan pendidikan tahun 2011, Insan Cendekia Madani (ICM School)   telah banyak meraih capaian baik akademis maupun non akademis. ICM mendapat pengakuan dari Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) dengan Akreditasi “A”. ICM merupakan salah satu unit Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 31 Tahun 2014, sehingga dapat mengintegrasikan  Kurikulum Nasional Tahun 2013, Cambridge International dan Kurikulum Islam  yang disebut Kurikulum Madani.  ICM memiliki visi  yaitu menjadi sekolah terdepan yang mengembangkan keunikan siswa untuk menghasilkan pemimpin berkarakter Islami dan turut bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat madani. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka dirumuskan misi sebagai berikut: 1) Membentuk siswa berkarakter pemimpin Islami dan memberikan manfaat untuk orang lain serta lingkungannya, 2) Membentuk  siswa yang mampu membaca, menghafal, memahami, beribadah dan berakhlak sesuai Al Qu’ran dan As’sunnah, 3) Membentuk siswa yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi khasnya masing-masing, 4) Menyelenggarakan sekolah berstandar global yang mampu membentuk siswa berpikir ilmiah, kreatif, inovatif dan solutif, 5) Menjadikan civitas akademika sebagai perwujudan (role model) budaya masyarakat madani. Selain itu, terdapat nilai-nilai yang melandasi kultur organisasi ICM, yaitu  1) Hanya menggunakan sumber-sumber dana yang halal dan thayyib, 2) Memberikan layanan terbaik untuk segenap stakeholder meliputi guru, staf, siswa, orang tua/wali, mitra dan masyarakat, 3) Bekerja keras, ikhlas, cerdas dan tuntas, 4) Mengedepankan aspek keteladan, cinta dan kasih saying, 5) Pembelajar yang terbuka terhadap pengetahuan baru dan berguna bagi kemaslahatan umat manusia serta alam semesta. Continue reading ‘Monitoring & Evaluation: ICM School’

Polytechnic Centre of Technology in Indonesia

By Dr. Adie E. Yusuf, MA.

Academic Specialist, ADB Grant: Polytechnic Education Development Project, 2017.

Background

Well educated technicians are essential to enabling the transition of Indonesia to higher-technology jobs and increasing the value of production. Striving for higher productivity and competitiveness, the government has strengthened its emphasis on developing technical and vocational education which is reflected in enhanced investments in polytechnic education. The PEDP project will support Indonesia’s economic development by increasing the supply of highly skilled workers in five sectors of the economy. This will be facilitated by improving links between polytechnics and enterprises. The project will help the Directorate General of Learning and Student Affairs (DGLSA) implement an integrated approach to improve the quality of polytechnic study programs and skills-development services that (i) ensures relevance to employers, (ii) expands access for vocational school graduates and others interested in developing higher level skills, (iii) builds the capacity of teaching staff and administrators, and (iv) upgrades facilities and equipment to better impart to learners job-ready skills. The project will help strengthen and implement the Indonesia Qualification Framework (IQF) to support quality assurance and recognize prior learning to expand applicants’ access to high-quality skills-development services available through selected polytechnic institutions. In general the project has four outputs: (i) improved quality and relevance of the polytechnic system; (ii) expanded and more equitable access to polytechnic institutions; (iii) greater private sector involvement in, and promotion of, entrepreneurial culture to strengthen polytechnic graduate competitiveness; and (iv) strengthened governance and management of polytechnic education. The impact will be the improved polytechnic education system to produce graduates responsive to the needs of the labour market and contribute toward increasing productivity in the Priority Sectors. Continue reading ‘Polytechnic Centre of Technology in Indonesia’

Journal : The Implementation of ICT based Education in Elementary Teacher Education (PGSD) in Indonesia

By Adie Erar Yusuf, HUMANIORA, Vol.7 No.1 January 2016: 8-14

INTRODUCTION
For higher education institutions to fulfill their role as incubators of knowledge and for elementary, secondary and tertiary students to acquire and use knowledge in the 21st century, they need to be connected with the world through Information, Communication and Technology. To achieve the ideal situation, the cost of internet access must be affordable and equitable across diverse socio-economic sectors of society. The National education Strategic Plan stated that ICT literacy rate among lecturers and students in higher education by 2009 is expected to achieve 80% and 50% respectively. ICT literacy includes proficiency in the utilization of computer and related programs. Teacher education institutions should also reform their curricula by integrating ICT into teacher education programs to increase ICT competencies. (Brodjonegoro, 2006)
To overcome the problem of restricted connection and bandwidth as well as high cost internet access, Ministry of National Education has developed cooperation with Indonesian Telecommunication Company (Telkom) to offer JARDIKNAS programs for school communities. In fact, ICT has been utilized in schools even though relatively small in numbers. More and more internet kiosks, not only at the post office in capital cities in the provinces but also in the districts, are available. The community has also participated in the establishment of internet kiosk. The number of schools using the internet is also increasing. Continue reading ‘Journal : The Implementation of ICT based Education in Elementary Teacher Education (PGSD) in Indonesia’

Coaching Skills

Oleh: Dr. Adie E. Yusuf, MA. USAID HELM Instructional Designer 2016

Sejarah Perkembangan Coaching

Coaching berasal dari kata dasar “coach”.  Istilah ini berasal dari nama sebuah desa kecil di Hungaria, yakni “Kocs” yang berarti  gerobak atau kereta kuda. Kocs ini  merupakan metafora dari proses coaching, yaitu membawa seseorang dari satu kondisi sekarang (present state) ke kondisi yang diinginkan (desired state). Menurut Erik de Haan, “coaching” berasal dari sebuah sarana transportasi berupa kendaraan kayu/besi yang ditarik oleh kuda di abad ke 15, maka sejak saat itu diaplikasikan ke dunia pendidikan dan pelatihan. Sarana transportasi itu adalah simbol yang dipakai untuk menjelaskan seorang coach yang membawa orang-orang ke “tempat” yang mereka inginkan. Tempat yang dimaksud bisa berarti berbagai hal, misalnya cita-cita, visi, target, potensi, kekuatan, solusi. Pada awalnya, istilah “coaching” diperkenalkan tahun 1830 yang menunjuk kepada seorang pelatih (trainer) atau instruktur. Penggunaan istilah “coach” juga berkaitan dengan olah-raga yang dipakai tahun 1831. Kata coach berarti melatih secara intensif dengan pemberian instruksi dan demonstrasi. Continue reading ‘Coaching Skills’


May 2017
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pages

Categories

Blog Stats

  • 312,416 hits