ORGANISASI BELAJAR:

1. Pendahuluan

Menjawab tantangan persaingan bisnis dalam era globalisasi dan liberalisasi, setiap perusahaan dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif yang didukung intelegensi organisasi untuk mengelola pengetahuan melalui proses belajar berkelanjutan. Sejak diperkenalkan tahuan 1990an, organisasi belajar berperan membekali organisasi perusahaan dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan. Organisasi belajar sangat diperlukan perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para eksekutif dan manajer yang menyadari pentingnya organisasi belajar pasti membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah yang praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam proses manajemen

Pada kenyataannya organisasi belajar tersebut masih dipandang terlalu deskriptif dan konseptual, sehingga mengalami kesulitan diterapkan secara aktual dalam praktek manajemen di berbagai perusahaan. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bahwa organisasi belajar hanya akan menjadi wacana yang sulit dipahami dan direalisasikan dalam praktek sehari-hari, apabila tidak dilakukan redefinisi dan reorientasi konsep dan implementasi terhadap organisasi belajar.

Dalam kesempatan ini akan diketengahkan redefinsi dan strategi organisasi belajar dalam manajemen serta alternatif solusi permasalahan yang dihadapi manajemen saat ini dan mendatang. Pedoman implementasi organisasi belajar yang jelas dalam rangka mengembangkan kapabilitas individual dan meningkatkan kinerja perusahaan. Selain itu, peran dan tanggungjawab pemimpin untuk mendukung keberhasilan organisasi belajar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi manajemen menyeluruh.

2. Mengapa organisasi belajar?

Yusufhadi Miarso (2002) mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar. Pertama, dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, melainkan tenaga kerja yang terdidik dengan baik, terlatih dengan baik dan menguasai informasi dengan baik (well educated, well trained, and well informed). Perubahan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan merupakan azas dari organisasi belajar. Kedua, pengembangan organisasi yang lebih berorientasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi. Sejalan dengan gerakan masyarakat informasi (information society), maka organisasi perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara komrehensif. Organisasi memerlukan lebih banyak tenaga kerja berpengetahuan (knowledge worker). Perkembangan ekonomi lebih dilandaskan pada pengetahuan dengan tenaga kerja berpengetahuan sebagai aset paling utama.

Konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, dimana organisasi membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat diciptakan orang-orang yang berpengetahuan (knowledge pople) dengan kompetensi yang dapat diandalkan. Selain itu dukungan kepemimpinan yang memberdayakan (empowerement), artinya memberikan pendelegasian dan dukungan positif kepada setiap anggota organisasi dalam aktivitas pembelajaran dan memperbaiki kinerja.

3. Definisi dan karakteristik organisasi belajar

Peter Senge seperti dikutip oleh Yusufhadi Miarso (2002), mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:

1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)

Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi.

2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)

Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.

3) Pola Mental (Mental Models)

Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.

4) Visi Bersama (Shared Vision)

Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.

5) Belajar Beregu (Team Learning)

Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.

Dewasa ini para manajemen telah memberikan makna yang lebih komprehensif tentang organisasi belajar.. Pedler dan Dixon di dalam Beardwell dan Holden (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai organisasi yang memfasilitasikan pembelajaran bagi seluruh anggotanya dan mentransformasikan secara sadar dalam konteks organisasi. Adapun maksud dan tujuan penggunaan proses belajar pada level individual, kelompok dan organisasi adalah untuk terus menerus mentransformasikan organisasi untuk memenuhi kepuasan stakeholder.

Michael Marquardt seperti dikutip Swanson dan Holton (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam atau di luar perusahaan untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan baik pembelajaran maupun produktivitas kerja.

Karakteristik organisasi belajar memiliki piranti-piranti yang berbeda dengan organisasi tradisional yang bukan belajar seperti di bawah ini:

Gambar 1

Karakteristik Organisasi Belajar

Karakteristik

Organisasi Tradisional

Organisasi Belajar

Siapa yang belajar?

Siapa yang mengajar?

Siapa yang ber- tanggungjawab

Piranti belajar yang digunakan?

Kapan belajar?

Kompetensi apa yang dipelajari?

Dimana belajar?

Waktu?

Motivasi?

Para manajer/karyawan yang ditunjuk

Pelatih atau nara sumber dari luar

Departemen Diklat

Kursus, magang, pelatihan formal, bimbingan, rencana pelatihan

Ketika dibutuhkan, saat orientasi atau sesuai kebutuhan

Teknik

Ruang kelas, tempat kerja

Untuk saat ini sesuai kebutuhan

Ekstrinsik dan terpaksa

Seluruh manajer/karyawan dari semua unit kerja

Atasan langsung, pelatih dan nara sumber

Setiap manajer/karyawan

Kursus, magang, rencana belajar, tim, mitra kerja, ukuran kinerja, refleksi pribadi

Sepanjang hayat, untuk jangka pnjang

Teknis dan manajerial, hubungan pribadi, bagaimana belajar

Ruang rapat, saat melakukan pekerjaan, di mana saja

Untuk masa yang akan datang

Intrinsik dan semangat

Sumber: Braham, 2003

4. Manfaat organisasi belajar bagi manajemen

Ditinjau dari perkembangan manajemen kontemporer, maka organisasi belajar secara konseptual turut memberikan kontribusi bagi manajemen. Mulai tahun 1980an diperkenalkan Total Quality Management yang menekankan pada perbaikan mutu yang bersinambungan, kemudian tahun 1990an terdapat Reengineering dan Benchmarking untuk perbaikan strategi manajemen bisnis. Dalam periode 1990an, organisasi belajar diperkenalkan dalam manajemen untuk mencari cara yang inovatif menghadapi perubahan dan memenangkan persaingan bisnis.

Stephen Robbins (2002) mengemukakan bahwa organisasi belajar diperlukan bagi manajemen untuk mengembangkan kapasitas organisasi secara bersinambungan untuk menyesuaikan diri dan melakukan perubahan. Pada dasarnya semua organisasi itu belajar, baik secara sadar atau tidak sadar, maka itulah persyaratan yang mendasar untuk mempertahankan eksistensi.

Organisasi belajar dapat membantu para manajer dalam proses pengambilan keputusan manajemen, khususnya membuat keputusan-keputusan yang tidak terprogram secara lebih kreatif. Dalam hal ini, organisasi belajar mendorong para manajer terus berupaya meningkatkan kemampuan baik individual maupun kelompok, untuk berpikir dan berperilaku kreatif dan mengoptimalkan potensinya melalui pembelajaran. Dengan terjadinya proses pembelajaran berarti para manajer memotivasi dan memampukan para karyawan untuk mengambil keputusan serta terus menerus guna meningkatkan efektifitas organisasi.

5. Kendala implementasi organisasi belajar dalam manajemen

Konsep organisasi belajar yang telah dikemukakan para pakar tersebut di atas sangat ideal (das sollen), namun pada kenyataannya (das sein) konsep organisasi belajar masih jauh dari realita dan kurang “membumi”. Oleh karena belum ada kerangka kerja yang jelas untuk tindakan yang nyatat dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, misalnya bagaimana perusahaan mengetahui telah berhasil menjadi menjadi organisasi belajar, dan apakah para eksekutif dan manajer memahami dengan jelas fungsi dan perannya dalam menjalankan organisasi belajar.

Penelitian yang dilakukan Chase dan Mayo di dalam Beardwell dan Holden (2001) menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi perusahaan dalam menerapkan organisasi berbasis pengetahuan terletak pada budaya korporasi dan keterbatasan pemanfaatan teknologi informasi yang mendukung organisasi belajar.

Lahteenmaki (1999) menyampaikan beberapa kritik terhadap konsep organisasi belajar yaitu:

· Ketiadaan klarifikasi dan multiplisitas dari definisi

· Ketiadaan eksplanasi yang rinci tentang implementasi sistem organisasi belajar

· Ketiadaan eksplanasi bagaimana mengintegrasikan sistem organisasi belajar

Implementasi organisasi belajar mengalami kegagalan yang disebabkan beberapa alasan yang menurut hasil penelitian Lahteenmaki (1999) antara lain:

· Kurang mempertimbangkan perasaan ketidakpastian dan kecemasan dari karyawan dalam menghadapi persaingan dan perubahan lingkungan

· Situasi pekerjaan yang kurang kepercayaan

· Kurang umpan balik, motivasi, diskusi dan pemberdayaan

· Kurang memberikan tanggungjawab bagi seluruh karyawan untuk belajar

· Tidak ada keterkaitan antara organisasi belajar dan strategi SDM

Khususnya pada sektor perbankan, survai mengenai implementasi organisasi belajar telah dilakukan di Institut Bankir Indonesia dengan responden para Pemimpin Cabang Bank. Fokus survai tersebut meliputi 6 karakteristik organisasi belajar yang dikembangkan oleh Michael J. Marquardt, yaitu dinamika belajar, transformasi organisasi, pemberdayaan, manajemen pengetahuan dan aplikasi teknologi.

Gambar 2

Hasil Survai Organisasi Belajar di Bank

Karakteristik Skor Rerata Skor Maksimal

Organisasi Belajar (IBI)

Dinamika belajar 26,6 40

Transformasi organisasi 26, 1 40

Pemberdayaan 25, 5 40

Manajemen pengetahuan 25,1 40

Aplikasi teknologi 20,0 40

Sumber: Hasil Survai Organisasi Belajar IBI, Agustus 2003

Berdasarkan hasil survai tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi belajar belum sepenuhnya diimplementasikan di perbankan. Karakteristik organisasi belajar yang meliputi dinamika belajar baik individual dan organisasional, serta transformasi organisasi yang meliputi visi, strategi, dan budaya organisasi adalah cukup baik. Pemberdayaan staf dan pengelolaan pengetahuan adalah cukup memadai. Namun aplikasi teknologi informasi dan sistem pembelajaran berbasis teknologi masih di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan bank bank tersebut belum optimal memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan perangkat komputer yang ada untuk tujuan pembelajaran. .

Dalam era teknologi informasi yang makin canggih, maka aplikasi teknologi untuk memfasilitasi proses belajar dalam organisasi dengan berbagai pendekatan dan sumber daya perlu mendapat prioritas utama. Menurut Yusufhadi Miarso (2002), teknologi pembelajaran secara konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan organisasi belajar sebagai berikut:

· Pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada level individual maupun level organisasional

· Penyediaan tenaga profesi (praktisi maupun akademisi) yang mampu mengintervensi organisasi agar dapat dan mau belajar.

· Aneka sumber daya belajar yang sengaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.

· Sistem informasi yang diperlukan agar organisasi dapat memperoleh akses atas informasi yang terbaru secara cepat.

6. Organisasi dan pengembangan

Gilley dan Maycunich (2000) dalam Beyond the Learning Organization mengajukan alternatif strategi sebagai evolusi dari Organisasi Tradisional (Traditional Organization) menuju ke Organisasi Belajar (Learning Organization) dan akhirnya sampai ke Organisasi Perkembangan (Developmental Organization). Organisasi pengembangan dapat dikatakan sebagai redefinisi dan reinvensi dari organisasi belajar ditentukan oleh dua variabel yang penting yaitu:

1) Penekanan pada pertumbuhan dan perkembangan karyawan

2) Dampak pada perbaruan organisasi dan kesiapan kompetitif

Organisasi pengembangan yang diimplementasikan secara efektif dapat memberikan manfaat yang besar bagi organisasi dan karyawan sebagai berikut:

Gambar 3

Manfaat Organisasi Pengembangan

Manfaat Bagi Organisasi

Manfaat Bagi Karyawan

· Lingkungan kerja kondusif

· Karyawan yang kompeten

· Komitmen karyawan

· Sinergi

· Mencapai sasaran dan target

· Meningkatkan produktivitas dan kinerja

· Pertumbuhan berkelanjutan

· Perbaikan rencana suksesi dan karir

· Meningkatkan kapabilitas organisasi

· Kesiapan pengembangan

· Lingkungan dinamis dan proaktif

· Belajar seumur hidup

· Kepuasan kerja

· Partisipasi lebih besar

· Kesempatan yang sama

· Perbaikan kepercayaan diri

· Kompensasi dan imbalan lebih besar

· Semangat kewirausahaan

· Perbaruan organisasi dan kesiapan bersaing

· Mengatasi depresi karyawan

Sumber: Jerry W. Gilley & Ann Maycunich, 2000,

Terdapat 15 langkah-langkah untuk membangun organisasi pengembangan untuk menuju kesiapan daya saing organisasi, yaitu:

1) Menentukan kapabilitas kepemimpinan organisasi pengembangan yang berorientasi pada dalam diri (intrinsik), karyawan, kinerja, tim dan organisasi;

2) Merekrut, menseleksi dan melatih pemimpin dan manajer pengembangan

3) Menerapkan prinisp-prinsip kepemimpinan pengembangan, yaitu akuntabilitas pribadi, dipercaya, penasehat karyawan, menghargai karyawan, kemitraan, perbaikan kinerja organuisasi, komunikasi efektif, berorientasi organisasi, berpikir holistik, dan pengabdi organisasi

4) Menghubungkan inisiatif pertumbuhan dan perkembangan dengan strategi, sasaran dan target bisnis organisasi

5) Menentukan kapabilitas organisasi dan kesiapan untuk melakukan perubahan

6) Mentrnasformasikan para manajer menjadi ahli bagi pertumbuhan dan perkembangan karyawan

7) Menentukan kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT) dari sistem organisasi

8) Mentransformasikan sistem organisasi untuk mendukung dan memfasilitasikan pertumbuhan dan perkembangan karyawan

9) Merekayasa departemen SDM termasuk praktek dan profesionalnya

10) Menerapkan perencanaan SDM, rekrutmen dan proses seleksi untuk memperoleh karyawan dengan kesiapan tumbuh dan berkembang

11) Mengimplementasikan pendekatan belajar berkembang

12) Menciptakan program pengembangan karir yang membangun kekuatan dan membina kelemahan karyawan

13) Mengimplementasikan keselarasan kinerja pada level organisasional dan level individual

14) Disain ulang program kompensasi dan imbalan untuk mendukung kepuasan kerja

15) Mengevaluasi dampak dan kegunaan pendekatan organisasi perkembangan terhadap peluang bisnis jangka panjang. (Gilley & Maycunich, 2000)

7. Strategi implementasi organisasi belajar dan pengembangan

Swanson dan Holton (2001) menyimpulkan organisasi belajar sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja dipengaruhi oleh faktor belajar, faktor strategi organisasi belajar dan faktor inovasi, sebagai berikut:

· Belajar, khususnya perbaikan belajar pada level tim dan organisasi akan meningkatkan inovasi organisasi

· Penerimaan strategi organisasi belajar yang sesuai bagi organisasi untuk memasuki pasar dimana inovasi menjadi penggerak kinerja pokok (key performance driver)

· Inovasi diharapkan menghasilkan perbaikan hasil kinerja (performance outcome) yang akan meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi.

Watkins dan Marsick di dalam Swanson dan Holton (2001) menyarankan bahwa belajar sebagai proses yang berkelanjutan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keyakinan dan perilaku. Dalam suatu organisasi belajar, proses belajar merupakan aktivitas sosial yang terjadi pada level individual, kelompok dan organisasional. Sehingga untuk membentuk basis strategi organisasi yang mendukung belajar, perubahan dan peningkatan kinerja, maka diperlukan 6 (enam) imperatif yang menyerupai lima disiplin dari Senge, yaitu:

1) Menciptakan kesempatan untuk belajar berkelanjutan

2) Meningkatkan dialog dan penemuan inovatif

3) Mendorong kolaborasi / kemitraan dan belajar tim

4) Menyusun sistem untuk terjadinya belajar bersama

5) Memberdayakan tenga kerja menuju visi bersama

6) Membuka hubungan organisasi dengan lingkungannya

Dalam rangka mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangan di perusahaan secara terintegrasi diperlukan analisis kebutuhan pembelajaran dan kompetensi, antara lain apa pembelajaran yang dibutuhkan, siapa yang membutuhkan, kompetensi apa yang ingin dicapai serta bagaimana mengukur keberhasilan pembelajaran. Hasil analisis kebutuhan pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program pembelajaran dan implementasinya, kemudian mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan.

Peran dan tanggungjawab pemimpin menjadi kunci keberhasilan bagi implementasi organisasi belajar dalam manajemen perusahaan. Pada dasarnya belajar merupakan tanggungjawab semua pihak, tetapi pemimpin dapat memberikan bantuan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong pembelajaran bagi seluruh karyawan. Barbara J. Braham (2003) menyebutkan istilah ”learner friendly” bagi pemimpin perusahaan yang mendukung organisasi belajar dan pengembangan dengan mengivestasikan waktu untuk belajar, menjadikan belajar sebagai nilai dan budaya kerja, menyediakan fasilitas belajar, memperlakukan pekerjaan sebagai pembelajaran, menganggap kesalahan sebagai kesempatan belajar dan memberikan penghargaan bagi karyawan yang belajar.

Berdasarkan pengalamannya memimpin bank BUMN, Moeljono (2003) menyimpulkan bahwa kepemimpinan tidak dapat diajarkan (be taught) tetapi kepemimpinan hanya dapat dipelajari (be learn). Kepemimpinan yang efektif pada akhirnya adalah situasional didukung oleh sifat kepribadian (trait), dan transformasional yang didukung profesionalitas serta etika. Karakteristik kepemimpinan memiliki nilai-nilai universal, seperti diajarkan Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarsa Sung Tulada (to lead), Ing Madya Mangun Karsa (to inspire) dan Tut Wuri Handayani (to motivate). Kepemimpinan yang baik bagi organisasi belajar adalah membina hubungan kemitraan antara atasan dan bawahannya, artinya pemimpin tidak “menggurui” melainkan sama-sama belajar.

Untuk menjamin keberhasilan terjadinya transformasi menuju organisasi yang mampu belajar dan berkembang, maka semua pihak dalam organisasi memiliki peran dan tanggungjawab sama penting, mulai dari manajer puncak, manajer lini sampai dengan karyawan. Manajer puncak perlu memberikan pedoman dan arahan mengenai perubahan, manajer lini membentuk komitmen, mengembangkan struktur dan sistem dan mengupayakan perubahan yang permanen, sedangkan karyawan berupaya memahami visi dan memotivasi diri untuk perubahan.

7. Kesimpulan dan saran

Pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mendukung perusahaan agar mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan mencapai keunggulan kompetitif melalui peningkatan intelegensi organisasi. Organisasi belajar dapat diimplementasikan untuk perbaikan strategi manajemen dan meningkatkan efektifitas kinerja, walaupun dalam implementasinya masih ditemukan kendala-kendala seperti keengganan manajemen menerapkan organisasi belajar, keterbatasan sumber daya dan dana serta teknologi informasi. Selain itu kesadaran akan pentingnya belajar masih kurang dan waktu yang terbatas serta komitmen manajemen puncak merupakan kendala menerapkan organisasi belajar di perusahaan.

Untuk mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangan diperlukan adanya komitmen untuk perubahan yang didukung kepemimpinan yang efektif dan bersikap melayani. Para karyawan juga perlu didukung untuk memotivasi diri agar dapat dan mau belajar serta tumbuh dan berkembang. Melalui organisasi belajar akan dihasilkan manajer dan karyawan yang memiliki motivasi dan kompetensi tinggi serta berorientasi pada pelanggan, sehingga pada gilirannya mendukung peningkatan kinerja perusahaan.

Kemajuan teknologi informasi canggih khususnya yang berbasis elektronik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi perlu dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pengelolaan pengetahuan dalam konteks organisasi belajar dan pengembangan dapat dilakukan antara lain:

a. Membangun e-literacy dari seluruh karyawan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Aplikasi teknologi informasi sebaiknya dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas khususnya dalam pembelajaran melalui e-learning atau e-training.

b. Aplikasi teknologi informasi secara on-line system dengan menggunakan intrane yang memberikan kemudahan untuk berbagi informasi ke seluruh karyawan. Misalnya informasi internal seperti data karyawan, sistem dan prosedur kerja, peraturan ketenagakerjaan, keputusan manajemen, saran dan pendapat karyawan, serta informasi eksternal seperti jadwal perjalanan, acara huburan, daftar rumah sakit dan dokter. Dengan adanya intranet akan membantu karyawan memahami perusahaan secara cepat dan akurat, dan sebaliknya manajemen dapat mengambil keputusan-keputusan berdasarkan informasi yang andal.

c. Guna mendukung economic and businees literacy kepada seluruh karyawan dan mengkomunikasikasi visi dan sasaran bisnis perusahaan secara efektif agar dapat belajar membuat keputusan yang lebih baik, maka perlu digunakan suatu peta belajar (learning map). Peta belajar tersebut menggambarkan strategi atau proses bisnis yang pokok.

d. Untuk lebih mendayagunakan fungsi-fungsi organisasi belajar dan pengembangan dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen perusahan, maka dapat pula membangun website pada setiap unit kerja yang disinergikan menjadi organization portal untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

e. Kebijakan manajemen yang menerapkan teknologi informasi untuk komunikasi perlu disosialisasikan kepada seluruh karyawan, misalnya penggunaan e-mail seharusnya dilakukan untuk setiap komunikasi antara manajer dan karyawan, misalnya rapat, konferensi atau surat edaran.

Oleh: DR. Adie E. Yusuf, SPd. MA.

KEPUSTAKAAN

Beardwell, Ian & Holden, Len, Human Resource Management: A Contemporary

Apprach, London: Prentice Hall, 2001

Braham, Barbara J, Creating A Learning Organisation, Terjemahan dari Fast-Track

MBA Series, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003

Gilley, Jerry W & Maycunich, Ann, Beyond the Learning Organization,

Massachusetts: Persus Books, 2000

Miarso, Yusufhadi, Peran Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar,

Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran,

Jakarta, 2002

Moeljono, Djokosantoso, Beyond Leadership, 12 Konsep Kepemimpinan, Jakarta:

Elex Media Komputindo Gramedia, 2003

Robbins, Stephen P., Perilaku Organisasi, Versi Bahasa Indonesia, Jakarta: PT

Prenhallindo, 2002

Swanson, Richard A & Holton, Elwood, F, Foundation of Human Resource

Development, San Fransisco: Berrett-Koehler Publisher, Inc., 2001

About these ads

20 Responses to “ORGANISASI BELAJAR:”


  1. 1 Esi Febrina May 16, 2008 at 12:59 pm

    Peter Senge mengemukakan organisasi belajar terdiri dari lima prinsip yang dikenal dengan Fifth Dicipline yaitu system thinking, mental model, personal mastery, team learning dan shared vision, tetapi Marquardt menambahkan Dialog sebagai prinsip organisasi belajar selain kelima prinsip diatas yang terdapat pada subsistem belajar. (dalam buku Building the Learning Organization hlm 30)
    Organisasi belajar tidak terlepas dari peran serta dan komitmen pimpinan/manager untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dengan membangun budaya belajar di dalam organisasinya.

  2. 2 Rusliyanto May 21, 2008 at 5:37 am

    Wah bagus banget pak tulisannya, cukup komplit! All About Organisasi Belajar ada di sini. Cuma ada satu hal yang masih mengganjal di hati saya pak, contoh organisasi belajar yang baik (contoh realnya) itu seperti apa ya pak?. Saya punya tulisan mengenai pendapat saya tentang organisasi belajar. Tulisan ini sudah pernah saya share sebelumnya ke TPERS.net pak. Menurut bapak gimana dengan tulisan saya ini pak?
    Tolong kasih comment ya pak apa benar pendapat saya sesuai dengan konsep tentang apa itu organisasi belajar. Kirim kritik dan saran bapak ke email saya ya pak!
    rohisna2bgr@yahoo.com
    Terima kasih ya pak!

    Organisasi Belajar Ntuuuuuuhhhhh,,,….!!!!!

    Pendapat para ahli:
    Klo kata Michael Marquardt kayak nyang dikutip oleh Swanson dan Holton (2001), ia mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat. Dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan, dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan.
    Nih pendapatnya bang Peter Senge (1990), menurut beliau Organisasi Belajar adalah :
    “… organisasi dimana sekumpulan orang secara berkelanjutan mengembangkan kapasitas mereka untuk membuat hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola pikir yang baru dan telah diperluas kemudian dipelihara, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana semua orang secara berkelanjutan belajar untuk melihat secara keseluruhan bersama-sama.”

    Pendapat saya Pribadi:
    Kita mulai dari kata organisasi aja dah dulu. Eh jangan dah, kita perkenalan dulu,. Gw Rusliyanto TP’06. maaf yak klo bahasa tulisannya pake bahasa bergaul sehari-hari.
    Dah kita mulai langsung dengan organisasi, Organisasi klo menurut pendapat gw adalah sekumpulan orang yang memiliki visi dan misi yang sama yang tergabung dalam satu wadah.
    Belajar merupakan satu proses untuk merubah tingkah laku/ pengetahuan dan menambahkan pengetahuan dan pengalaman baru (dari ga tau jadi tau, dari ga jelas jadi jelas) Yah klo contohnya mah banyak banget dah pokoknya. Misalkan aja klo misalkan anda kuliah aja ntu merupakan belajar, ada lagi misalkan anda lagi ngerjain tugas nih,.eh kerjaan anda tau-taunya gagal total., sebenarnya disitu pun anda telah mengalami proses belajar sekaligus diberi motivasi untuk belajar lebih baik lagi.
    Inget kawan, “Kegagalan bukan berarti bahwa kita tidak berhasil melakukan sesuatu, Itu sebenarnya berarti bahwa kita telah mempelajari sesuatu.,,. Kegagalan tidak berarti bahwa kita harus menyerah, Tetapi kita harus mencoba lebih giat lagi,..”
    Betul ga’ tuh Omongan gw????!!!!. Hweheheee

    Dari semua pendapat yang gw kemukakan di atas, gw bisa nyimpulin apa sih Organisasi belajar?!! Tapi maaf-maaf nih klo ga sesuai dengan pendapat kalian semua, kan kodrat manusia diciptakan dengan perbedaan antara nyang atu dengan nyang laennya.,,
    Organisasi belajar adalah sekumpulan orang (lebih dari satu orang) yang memiliki tujuan yang sama, untuk memperoleh sesuatu yang sama untuk memperkaya pengetahuan yang mereka miliki yang kemudian ilmu-ilmu itu diaplikasikan pada suatu organisasi atau wadah tempat ia belajar tersebut.
    Untuk menjamin keberhasilan terjadinya transformasi menuju organisasi yang mampu belajar dan berkembang, maka semua pihak dalam organisasi memiliki peran dan tanggungjawab sama penting, mulai dari manajer puncak, manajer lini sampai dengan karyawan. Manajer puncak perlu memberikan pedoman dan arahan mengenai perubahan, manajer lini membentuk komitmen, mengembangkan struktur dan sistem dan mengupayakan perubahan yang permanen, sedangkan karyawan berupaya memahami visi dan memotivasi diri untuk perubahan.
    Contoh dari organisasi belajar ntu sendiri banyak dah, mulai dari organisasi negeri PEMDA dan instansi pemerintah laennya dah) maupun yang swasta (perusahaan). Bahkan kata temen gw waktu kuliah jumat kemaren, keluarga juga termasuk dalam organisasi belajar. Keluarga yang dibangun oleh suami dan istri, mereka berdua sama-sama belajar untuk mencapai tujuan (goal) nyang sama. Hidup bahagia dalam rumah tangganya dan mencapai ridha Allah SWT,.. Gimana klo menurut kawan-kawan skalian nih….??? keluarga ntuh termasuk organisasi belajar bukan yak????
    Tapi kebanyakan organisasi pemerintahan yang ada di Indonesia cendrung berpandangan lurus aja ke depan, mereka terpaku kepada kebiasaan yang telah membudaya dari dulu.,ga berani mereka keluar dari belenggu budaya tersebut. Dan akhirnya, yaaaa…. gitu dah,. Organisasi pemerintah ga pernah maju, ya karena dari dulu mpe sekarang pola kerjanya gitu-gitu aja.,
    Agak beda dengan nyang diatas, organisasi swasta cendrung mau mengikuti perkembangan zaman, sehingga mereka dapat survive dan berkembang menjadi sebuah organisasi belajar yang besar. Tapi jangan salah lho, ada juga organisasi swasta nyang masih kayak organisasi pemerintahan, ga peka dengan perkembangan, dan akibatnya mereka kalah dengan Organisasi swasta yang bisa mengikuti perkembangan zaman.
    Coba kita kasih contoh dah:
    Ada dua perusahaan, sebut aja perusahaan A dan B. Perusahaan A dan B sama-sama memproduksi suatu produk nyang sama (buat contoh HP aja dah). Perusahaan A memproduksi HP dengan fitur analog dan lima tahun lalu hp ntu “Booming” di pasaran. Perusahaan A mengandalkan fitur analog sebagai acuan pengembangan produknya, ia tidak memperhatikan aspek kebutuhan pasar, dan perkembangan teknologi, serta perkembangan zaman.
    Berbeda dengan perusahaan A, perusahaan B memproduksi HP dengan berbagai macam fitur yang menarik dan bentuk yang modis yang mengikuti perkembangan Zaman. Dan faktanya, perusahaan B sekarang dapat lebih maju dan menguasai pasaran Hp karena mereka peka terhadap kebutuhan pasar dan perkembangan zaman.

    Klo kata bang Rhenald Kasali dalam buku Re-Code “Your change DNA” terkait contoh di atas mah begini:
    “hati-hati dengan pengalaman, sebab ia bisa menghalangi imajinasimu”.
    Jangan bingung ma ntu kalimat, artinya kurang lebih kayak intisari contoh diatasnya!!!???
    So, marilah kawan-kawan sekalian kita merubah diri kita untuk menjadi leih baik lagi (Change) supaya organisasi belajar yang diimpikan dapat terwujud. Kita harus bisa keluar dari belenggu-belenggu (suatu hal yang telah membudaya), melakukan sesuatu yang baru.,.,
    Mungkin disini gw mau berbagi kepada semua orang nyang membaca tulisan ini (Mahasiswa, guru, dosen atau apalah) sebuah sumber yang insya Allah bermanfaat bagi kalian smua. Yah walaupun gw baru baca sebagian,.
    Nih judul Bukunya;
    Re-Code “Your change DNA”
    “Membebaskan Belenggu-Belenggu untuk meraih keberanian dan keberhasilan dalam Pembaruan”
    Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama
    Penulis: rhenald kasali, Ph.D

    Maaf yang terakhir ntu bukan promosi tapi anjuran yak, jangan lupa dibaca kawan!!!!
    Thx dah mw baca tulisan ini,.

    Klo punya kritik atau saran, kirimin aja comment ke Tpers.net yang tulisan saya, atau kirimin via e-mail aja ke: rohisna2bgr@yahoo.com
    Gw tunggu commentnya dari anda semua!!!!???

  3. 3 evi febriyanti e May 29, 2008 at 12:28 pm

    Saya sangat setuju sekali bahwa Organisasi belajar sangat tepat apabila diterapkan pada suatu perusahaan yang ingin maju dalam menghadapi tantangan atau persaingan di dunia bisnis saat ini.Mulai dari pengembangan potensi tenaga kerja yang terlatih serta pengembangan perusahaan yang kompeten dibutuhkan penerapan organisasi belajar.Karena organisasi belajar dapat mamajukan serta melakukan suatu perubahan dimana suatu perusahaan dapat berkembang baik jika sumber daya manusianya siap bekerja secara maksimal.Manfaat yang diperoleh dari OB sangatlah banyak dan bermanfaat bagi sumber daya manusianya.Salah satu pembangkit semangat atau dorongan dalam melakukan organisasi belajar yaitu motivasi diri, jika sudah tertanam motivasi diri untuk bekerja dan mengembangkan potensi, maka para karyawan dapat memajukan kinerja dan membantu mengembangkan suatu perusahaan.Para karyawan juga semestinya tidak ”gaptek”,karena tuntutan jaman yang semakin maju,mereka harus menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya serta memanfaatkan teknologi yang telah ada dan menggunakannya secara optimal.Tetapi dampak buruk jika sdm di suatu perusahaan tsb tidak menerapkan OB serta tidak diadakan suatu pelatihan untuk mengembangkan diri,maka perusahaan tersebut diragukan akan memiliki kemajuan dan siap bersaing di era globalisasi sekarang ini.

  4. 4 Hamdi gunawan UNPAK PASCA June 8, 2008 at 2:10 pm

    Wah sangat berkesan buat saya tulisan bapak tentang organisasi belajar, pada prinsipnya belajar adalah perubahan prilaku dimana peruahan prilaku itu meliputi tiga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. jika dalam organisasi sudah mengimplemantasikan kegiatan belajar maka kesuksesan akan selalu mudah diraih, namun masalah utamanya adalah banyak para pemimpin yang kurang mau untuk belajar sehingga penyakit pimpinan itu menular kesemua anggota.selain komitmen bersama menurut saya perlu juga kesadaran pribadi dan orang lain, dimana kesadaran pribadi ini yaitu mengenali diri sendiri akan kekurangganya dan meningkatkan kekurangan orang lain agar bersama-sama dapat lebih baik dan mencapai tujuan organisasi bersama.

    Bapak tolong juga jelaskan penerapan organisasi belajar konkrit dalam lingkup organisasi belajar kecil yaitu di sekolah. than you

  5. 5 Desi Sapari June 23, 2008 at 1:53 pm

    Organisasi belajar adalah sekelompok orang atau kumpulan orang yang memiliki visi,misi, dan tujuan yang sama, sekelompok orang tersebut belajar dan bekerjasama untuk memecahkan masalah, meningkatkan pengetahuan, menciptakan inovasi-inovasi dan pola-pola berpikir baru, dan agar mereka lebih adaptif terhadap lingkungan eksternal yang tentunya memberi pengaruh besar terhadap organisasi. Dengan organisasi belajar, mereka dapat mencapai tujuan pribadi dan juga organisasi. Organisasi belajar memiliki lima prinsipperhatian khusus pada ”The Fifth Discipline”, yaitu : System Thinking, Personal Mastery, Mental Models, Shared Vision, dan Team Learning. Visi dan misi yang ada pada organisasi atau perusahaan akan menjadi acuan bagi para anggota atau karyawannya untuk meningkatkan kinerja mereka semaksimal mungkin untuk mencapai visi, misi, dan tujuan.

    Mengapa harus OB???
    Perusahaan atau organisasi memandang bahwa keberhasilan ataupun kegagalan sasaran atau tujuan dari program-program yang telah mereka buat sangat ditentukan oleh kinerja (performance) para karyawan/anggota mereka. Oleh karena itu, belajar sangat penting untuk meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki perusahaan/organisasi, sehingga meningkatkan kualitas organisasi itu sendiri.

  6. 6 Mangor September 10, 2008 at 3:58 pm

    Bapak Edi Yth, uraian bapak menambah wasan bagi saya, terutama motivasi berprestasi ciptaan Mc Clelland sangat luar biasa sebenarnya untuk mengungkapkan potensi dan kelemahan seseorang. Bila konsep Mc Clelland ini diterapkan untuk menguji kompetensi seseorang yang akan diangkat menjadi pejabat misalnya, itu sudah cukup, bahkan selama penelitiannya (25 tahuan) ternyata orang sukses didominasi oleh orang-orang yang tingkat intelegensinya sedang dan pola pikirnya sedang. Pendeknya siapa saja yang telah pernah merasakan diklat AMT (Achievement Motivation Taring) pasti berkata wow.. luar biasa, tak membosankan, namun mampu mengungkapkan siapa sesungguhnya kita. Harapan saya, semoga tulisan bapak ini dan tanggapan ini menjadi perhatian terutama bagi mereka berkompeten untuk merekrut sdm yang lebih berkualitas.
    Wasaalam, dan Salam achievement !!

  7. 7 nurhadijah(1215076090) March 23, 2009 at 8:22 am

    Kontribusi Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar

    Sebagai suatu disiplin , teknologi pembelajaran pada falsafah berkembangnya potensi optimal pebelajar (learners ) secara efektif dan efisien serta selaras dengan perkembangan dan kondisi masyarakat dan lingkungan.Sedangkan visinya sebagai suatu disiplin adalah terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkannya dan dimanfaatkannya aneka sumber , proses dean sistem belajar , sesuai dengna kondisi dan kebutuhan.
    teknologi pembelajaran secara konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembanagn organisasi belajar dalam bentuk :organisasi
    • pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada peroranagn , maupun pada keseluruhan organisasi
    • penyediaan tenaga profesi yang mampu menginventaris organisasi argar dapt adan mau belajar
    • aneka sumber belajar yang disenagaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
    • sistem informasi yang diuperlukan agar dapt memperoleh alses atas inform,si yang terbaru secara cepat.

  8. 8 sarastiono August 27, 2012 at 9:21 am

    Pengembangan dilakukan terhadap individu dahulu baru ke pembelajaran organisasi…!!!

  9. 9 Herru Hasanudin September 30, 2012 at 12:15 pm

    Assalamualaikum Wr Wb,
    Dear Mr Adie
    Sy Herru Hasanudin, Mahasiswa S2, UNPAK, Kls G5, Prodi AP, NPM 072112217.
    Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self learning)sehingga organisasi itu memiliki kecepatan berfikir dan bertindak dalam merespon beragam perubahan yang muncul.Kesuksesan organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk melakukan pekerjaan secara sinergis. Kemampuan untuk membangun hubungan yang sinergis ini hanya akan dapat dimiliki kalau semua anggota unit saling memahami dengan unit lainnya.
    Dengan demikian organisasi belajar adalah organisasi yang didalamnya terdapat sistem , mekanisme, dan proses,yang digunakan secara kontinyu oleh anggota untuk meningkatakan kapabilitas dalam komunitasnya.

  10. 10 rengganis alfa chikita November 4, 2012 at 10:34 am

    contoh perusahaan yang menggunakan organisasi pembelajar itu apa ya ?

  11. 11 Helfy M. Ilfa December 24, 2012 at 4:13 pm

    Assalamualaikum. wr.wb.
    Pak Dr. Adie yth., saya tertarik dengan tulisan Bapak mengenai organisasi belajar. Saya ingin mengemukakan sedikit pendapat terkait masalah organisasi belajar di lembaga pendidikan, SMA, khususnya.
    Das sein dan das solen yang terjadi di dunia pendidikan sekarang ini tidak dapat diatasi oleh orang per orang, bagian satu dengan bagian lain, tetapi harus dicari solusi secara lebih terorganisasi. Hal ini bisa diawali oleh kebijakan top manajer yang menciptakan budaya organisasi dg kondsusif agar setiap anggota organisasi memiliki kesempatan untuk bisa mengembangkan wawasannya baik melalui lembaga formal,informal, maupun nonformal, baik di dalam wilayah organiasasi maupun di luar wilayah organisasi.
    Sayangnya, hal tersebut kadang-kadang kurang mendapat dukungan top manajer. Anggota organisasi yg ingin mengembangkan wawasannya hrs berpikir ulang krn terbelit izin krn dianggap meninggalkan kewajiban utamanya (mengajar) atau tugas organisasi lainnya atau karena alasan lain.
    Padahal, bila kesempatan itu diberikan, organisasi (top manager dlm hal ini) bisa memperoleh keuntungan krn anggota organisasinya telah bertambah wawasannya. Hal ini bisa bermanfaat sbg aset utk mengembangkan organisasinya menjadi lbh baik daripada pesaingnya. Sebaiknya, kegiatan belajar tidak hanya dilakukan oleh individual tetapi dilakukan oleh seluruh organisasi.
    Sebaliknya, anggota organisasi yg telah mendapat kesempatan pengembangan diri dari top manager, seharusnya tetap loyal dan aktif serta kreatif untuk urun rembug dlm strategi pemecahan masalah.
    Sudah saatnya, seluruh anggota organisasi bersinergis, duduk bersama, untuk mencarikan solusi dari setiap masalah yg ada di dlm tubuh organisasinya dengan berpikir sistem, tidak terkotak-kotak.
    Mohon maaf, kalau kurang berkenan. Mohon tanggapan Bapak ya. Wassalamualaikum wr.wb.

    Helfy M. Ilfa
    NPM 072111051
    Kelas A-III-2
    Mahasiswa Prodi AP
    Pascasarjana Unpak

  12. 12 isep rusmawan E2/ S3. pasca UNPAK NPM 073113006 March 17, 2013 at 2:45 am

    Isep Rusmawan NPM 073113006
    Pasca / S3.E-2 UNPAK Bogor

    Pentingnya Organisasi Belajar (OB) untuk menghadapi perubahan lingkungan yang cepat dan dinamis serta selalu membutuhkan tenaga (SDM) yang ahli dan profesional , selain itu organisasi belajar (OB) akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi manajemen suatu perusahaan atau organisasi. OB juga merupakan suatu konsep dimana organisasi/perusahaan harus terus menerus melakukan proses pembelajaran secara mandiri (self learning) sehingga organisasi/perusahaan tersebut memiliki kecepatan berpikir (think speed) dan kecepatan bertindak (thing action) dalam merespon dan beradaptasi dengan berbagai perubahan yang muncul.
    Organisassi Belajar(OB) / Organisasi Pembelajaran adalah sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya/karyawannya dan secara terus menerus (kontinyu) mentransformasikan diri (Pedler, Boydell Burgoyne) .

    Pembelajaran adalah sustu kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan keterampilan dan pengetahuan serta aplikasinya (Ludberg (Dlae,2003)

    Yang paling konseptual dari Learning Organisation (organisai Belajar) adalah asumsi bahwa belajar itu penting, berkelanjutan , dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar (Sandra Kerka, 1995)

    Kelima dimensi dari Peter Sange (Yusufhadi Miarso,2002) bahwa “The Fifth Dicipline” perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi atau karyawan perusahaan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sehingga menjadi budaya organisasi/perusahaan,
    Manfaat yang didapat dari OB sebetulnya merupakan asas yang mendasar dalam mengembangkan perusahaan atau organisasi sehingga mencapai tujuan (goal) yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh stakeholder.
    Kepemimpinan dalam mengimplementasikan OB adalah merupakan salah satu kunci keberhasilan yang akan membuat budaya organisasi/perusahaan menjadi lebih baik , kompertitif dan unggul.

    Organisasi Belajar harus menjadi budaya dalam organisasi dan perusahaan karena belajar itu selain apa yang disebutkan diatas juga merupakan ibadah dan perintah dari yang Maha Kuasa (Alloh SWT)
    ,

  13. 13 joko April 9, 2013 at 8:22 am

    Terimakasih atas tulisannya pak Yusuf, sangat mewarnai khazanah saya. Ijinkan saya nimbrung dan bertanya.
    untuk menjadikan organisasi belajar yang efektif, sangat didukung oleh budaya organisasi, artinya budaya yang sudah tercipta sebelumnya. disini termasuk Kebiasaan, tradisi, dan cara umum dalam melakukan segala sesuatu yang ada di sebuah organisasi, yang saat ini merupakan hasil atau akibat dari yang telah dilakukan sebelumnya dan seberapa besar kesuksesan yang telah diraihnya di masa lalu. dalam perusahaan keluarga, sebesar apapun itu biasanya sudah tertancap nilai – nilai keluarga itu yang di implementasikan ke dalam perusahaan, dan biasanya cenderung resisten. walaupun tidak semua perusahaan keluarga demikian.

    Menurut Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Fanmily Business” suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan. untuk jenis perusahaan keluarga bertipe family business enterprise (FBE), yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga pendirinya. Perusahaan tipe ini dicirikan oleh dipegangnya posisi-posisi kunci dalam perusahaan oleh anggota keluarga. Jenis perusahan keluarga inilah yang banyak terdapat di Indonesia.

    jadi menurut saya pada Family business bertipe FBE, budaya belajar mempunyai barrier. (Agustinus Joko purwanto/unpak/ 073113002)

  14. 14 Arisanti Muara Kasih November 6, 2013 at 12:06 am

    Arisanti Muara kasih mahasiswa S2 PAKUAN Bogor
    membaca tulisan Dr.Adie mengenai organisasi belajar, menarik bagi saya untuk mengomentari karena topik organisasi belajar merupakan hal yang masih aktual dan perlu kajian lebih lanjut.
    organisasi belajar atau organisasi pembelajaran merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan organisasi dalam berbagai bidang termasuk bidang pendidikan yang merupakan lingkup kerja saya.
    organisasi belajar mampu menggerakan dan mengembangkan sistem organisasi karena dalam organisasi belajar ada upaya sistematis dalam mengembangkan organisasi sesuai dengan pendapat Sange (1990) yang mendefinisikan organisasi belajar sebagai proses pengembangan kemampuan yang dilakukan terus menerus oleh organisasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. terlebih apabila dikaitkan dengan kondisi persaingan global saat ini, maka hanya organisasi yang melakukan “organisasi belajar” yang akan mampu menjadi organisasi yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang akan mampu ikut bermain dalam persaingan global yang perubahannya begitu cepat dan sulit diramalkan.

  15. 15 Ratu Tanti Rizkya November 9, 2013 at 10:35 pm

    Sangat menarik dari artikel oraganisasi belajar ini, karena sesuai tulisan Bapak, bahwa masih banyak kelemahan dari teori ini. Namun ada beberapa pengembangan-pengembangan yang kemudian dilakukan. Saya lebih berminat apabila organisasi belajar ini diterapkan disekolah. Maka tentunya dikaitkan kepada lima komponen yang disebut The Fifth Dicipline
    a. Berpikir Sistem
    Sekolah disebut juga sebuah sistem, karena seperti yang disebutkan pada artikel Bapak, sekolah merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan
    b. Penguasaan Pribadi
    Komitmen untuk belajar sepanjang hayat tentu selalu tertanam di lingkungan sekolah. Peningkatan kompetensi guru & kepala sekolah merupakan pengembangan potensi diri yang merupakan komitmen dari tujuan suatu sekolah. Dalah hal kedisipilinan, kesabaran dan kemauan, selalu diterapkan disetiap sekolah yang berkualitas dengan caranya sendiri.
    c. Pola Mental
    Pola mental mempengaruhi pikiran dan tindakan dalam mengambil keputusan. Maka cara pandang atau cara berpikir setiap orang harus berubah sesuai visi-misi sekolah. Di dalam sekolah semua orang harus memiliki mentalitas yang baik. Budaya bersih, rapi, sopan dan santun, disiplin waktu, berpikiran terbuka dan ingin terus maju, merupakan contoh mentalitas yang harus dikembangkan di sekolah.
    d. Visi Bersama
    Visi, Misi dan tujuan sekolah merupakan hasil kesepakatan bersama yang dirumuskan dan dikembangkan serta diimplementasikan oleh semua warga sekolah. Jangan hanya menjadi pajangan dan asesoris sekolah yang menjadi sebuah pernyataan saja.
    e. Belajar Beregu
    Di sekolah semua orang harus belajar satu dengan yang lain demi peningkatan mutu pendidikan. Kepala Sekolah sudah pasti harus mau belajar dari guru, demikian juga guru harus mau belajar dari pembina. Semua unsur saling terkait dan mempengaruhi, demi berlangsungnya sekolah yang berkualitas.

    Ratu Tanti Rizkya
    Kelas A. 1.2
    NPM: 072113059

  16. 16 s. sandra March 9, 2014 at 2:36 pm

    Setiap organisasi dengan berbagai macam cara berupaya untuk mengetahui sebanyak–banyaknya tentang kehidupan bisnis sendiri dan tentang lingkungan bisnis, serta berusaha untuk menutupi kegiatan bisnis sendiri terhadap kehendak kompetitor yang berniat mengetahuinya, agar tujuan, cita–cita dan kebijaksanaan yang sudah ditetapkan dapat berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Usaha/kegiatan tersebut pada dasarnya adalah intelijen bisnis. Pada manajemen intelijen bisnis proses penganalisaanya dengan analisa SWOT untuk menghadapi kelangsungan hidup berorganisasi dan berbisnis dalam upaya mencapai cita–cita.

    Jadi intelijen bisnis bisa kita pahami sebagai suatu strategi untuk bersaing di dunia bisnis, pemahamannya sebagai berikut :
    1. Intelijen Bisnis adalah sebuah alternatif terminologi bagi kompetitif intelijen. Definisinya adalah kegiatan-kegiatan monitoring lingkungan eksternal sebuah perusahaan untuk mendapatkan informasi yang relevan bagi proses pembuatan kebijakan perusahaan tersebut.
    2. Kompetitor intelijen , yaitu proses analisa yang mentransformasikan keseluruhan competitor intelligence yang utuh menjadi pengetahuan strategis tentang kompetitor, posisi, performance, kapabilitas, dan niat/tujuan. Pengetahuan strategis tersebut harus relevan, akurat, dan bisa digunakan.
    3. Kompetitif intelijen adalah sebuah cara berpikir (way of thinking).

    Dengan demikian intelijen bisnis menjadi konsep strategi belajar organisasi serta alternatif solusi permasalahan yang dihadapi manajemen saat ini dan mendatang dalam pembelajaran organisasi kompetitif.

    Sony Sandra
    073113045
    S-3 B-2

  17. 17 wulan widaningsih March 10, 2014 at 2:31 pm

    LEARNING ORGANIZATION
    OLEH : WULAN WIDANINGSIH
    PASCA SARJANA PAKUAN S3/MP/B2
    NPM: 073113048
    Saya terkesan dengan konsep yang Bapak Dr. Adie Yusuf paparkan bahwa memang , Organisasi terus berubah karena ia adalah sistem terbuka yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungannya. Perubahan yang direncanakan butuh perhatian yang eksplisit terhadap masalah-masalah dan kesempatan; Proses perubahan ini dipermudah oleh proses pembaharuan yang terbina di dalamnya (built-in) yang juga direvisi oleh pengalaman. Dorongan perubahan datang dari banyak sumber –luar (Bapak menyebutnya dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi) maupun dari dalam. Usaha perbaikan organisasi sebaiknya didekati oleh pandangan contingency yang menghubungkan masalah-masalah yang disadari dengan target perubahan yang relevan dan strategic. Untuk mengatasi itu semua diperlukan konsep Strategi Organisasi Belajar dalam manajemen untuk memecahkan berbagai masalah.
    Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul(peter sange). Peter Senge adalah salah satu tokoh penting yang membuat teori Learning Organization (LO). Selanjutnya Peter Senge (1990: 3) menekankan bahwa
    learning organizations are:…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together.(Organisasi belajar adalah organisasi dimana orang mengembangkan kapasitas mereka secara terus-menerus untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan, dimana pola pikir yang luas dan baru dipelihara, dimana aspirasi kolektif dipoles, dimana orang-orang belajar tanpa henti untuk melihat segala hal secara bersama-sama.)
    Dari definisi diatas, jelas yang belajar dan berubah adalah orang-orang dalam organisasi tersebut, baik kapasitas mereka, pola pikir, aspirasi dan lain sebagainya. Orang-orang ini belajar dan berubah melewati pengalaman yang telah dilewatinya; keputusan diambil;masalah dipecahkan; serta kesempatan yang diraih. Akan tetapi orang yang belajar tidak harus menyebabkan organisasi belajar. Artinya, pelajaran yang dipelajari dari pengalaman pribadi mungkin tidak menjadi bagian prosedur organisasi yang normal, tetapi pengalaman kolektif bisa jadi merubah dan mengefektifkan prosedur organisasi. Jadi yang dibicarakan dalam learning organisasi adalah personality dalam team.
    Dalam menunjang organisasi belajar memiliki kunci pelajaran loop-ganda yaitu kesanggupan mempelajari sesuatu dan bersamaan dengan itu memperbaiki kesanggupan untuk belajar kembali. Ini berarti menunjukan apa yang telah berarti untuk menetukan apa yang telah berjalan dengan baik dan perlu diteruskan, disamping apa yang perlu diperbaiki. Seperti contoh berikut : Pada peraturan ayat 9 untuk seorang wasit Liga nasional adalah “Tijaulah kembali pekerjaan anda sesudah setiap pertandingan. Hanya dengan memeriksa diri sendiri anda akan merasa baik” ini adalah salah satu belajar dari pengalaman dan pengamatan . Terdapat lagi contoh Kepala pemadam kebakaran mengadakan sebuah kritik setelah selesai kebakaran untuk menentukan efektifitas metode mereka, beberapa kali rapat pertama tidak sukses karena tidak seorang pun mengkritik, tetapi setelah ada peraturan baru bahwa karyawan harus memberikan kritik maka rapatpun kemudian berlangsung dengan sangat produktif hasilnya pun produktif bagi perbaikan kinerja. Dalam hal ini organisasi melakukan perubahan karena belajar dari kondisi dan pengamatan sebelumnya. Peter Senge menawarkan “Disiplin Kelima” dalam mengembangkan organisasi belajar dalam rangka meningkatkan kapabilitas individu, selanjutnya Swanson dan Holton mengajukan strategi organisasi belajar melalui 6 imperatif. Keduanya mengungkap teori yang brilian dalam mengatasi perubahan melalui organisasi belajar dalam upaya peningkatan kinerja seperti yang telah dipaparkan oleh Dr. Adie Yusuf .
    Organisasi belajar sangat membantu perusahan untuk memaksimalkan produktifitas dan value karyawannya. Selain itu akan sangat membantu para eksekutif dan manajer dalam membuat keputusan-keputusan terutama keputusan yang tidak terprogram secara lebih kreatif. Karena organi sasi belajar ini pun mendorong para manajer untuk berpikir dan berprilaku efektif serta memaksimalkan potensinya agar dapat menjadi teladan para karyawannya. Hal ini tentunya dibarengi dengan kompetensi kepemimpinan pembelajaran. Maksudnya kunci organisasi belajar juga ditangan pemimpin yang senantiasa berupaya untuk terus menerus belajar. Kepemimpinan Pembelajaran harus memiliki integritas exselent selain “learning Frienly” ,memaknai masalah, keputusan , perubahan , kemajuan bahkan kegagalan dengan dan melalui pembelajaran.
    Organisasi belajar memang konsep yang sangat bagus nanum dalam penerapannya banyak mengalami benturan dan batu sandungan, disini penulis hanya akan mengungkapkan hambatan implementasi organisasi belajar pada kenyataannya di Indonesia.
    Di bawah ini Pernyataan Tentang Lerning Organisation dan Kenyataan yang ada di Indonesia:
    1. Visi bersama , yaitu keinginan bersama dengan tekad dan komitmen untuk menyatukan setiap arah dan seluruh gerak anggota Organisasi pada kenyataannya ; Keinginan dan tekad bersama untuk menyatukan arah organisasi tentunya akan berbenturan dengan nilai financial yang jauh berbeda antara atasan dan bawahan, hal ini akan membelokkan arah dan gerak organisasi misalnya antara guru PNS dan honorer, karena gajinya berbeda tidak bisa kita menuntut untuk memilki kinerja maksimal yang sama.
    2. Belajar Tim yaitu proses belajar bersama dengan tim yang sinergi yang dimulai dengan dialog dan dilanjutkan dengan saling membelajarkan dan memberdayakan. Pada Kenyataannya ; Proses belajar bersama kadang terbentur dengan pengetahuan setiap anggota yang pas-pasan, dimana akses buku, internet, perangkat inovasi menjadi bagaian yang mahal, terkadang berakhir dengan kerja personal, yang lain hanya mengikuti karena tidak ada imbalan yang signifikan. Misalnya tidak ada bedanya guru yang rajin atau tidak mereka tetap mendapatkan gaji dan tunjangan yang sama.
    3. Orang-orang merasakan melakukan sesuatu yang berarti baik bagi mereka dan bagi dunia (karyawan bekerja bukan karena penghasilan tetapi karena lebih dari itu). Pada Kenyataannya ; Bagaimana paradigma itu bisa melekat jika memang UMR di Indonesia sangat rendah sementara harga barang pokok yang senantiasa naik. Tentunya mereka akan berpikir tentang perut, kesehatan dan masadepan anak mereka terlebih dahulu disbanding nilai mereka dimata dunia.
    4. Pola mental , yaitu cara berpikir, paradigm atau menyikapi dan menginterprestasikan suatu fenomena yang mempengaruhi seseorang dalam memahami lingkungan sekitarnya.Pola mental ini memang harus dijaga tapi bagai mana jika kenyataannya birokrasi bagaikan lingkaran setan, korupsi dan kolusi seniantiasa terjadi disetiap lini organisasi pemerintan kita. Bagaimana cara menjaga pola mental itu?.
    5. Karyawan bebas melakukan eksperimen mengambil resiko dan menilai berapa banyak hasil yang dicapai “tidak ada seorang pun yang dibunuh karena melakukan kekeliruan ; ”Pernyataan ini sangat bangus sekali , tetapi adakah perusahan yang coba-coba dengan biaya yang besar mengambil resiko yang tinggi ditengah ekonomi Indonesia yang sulit.

    Demikian yang dapat penulis paparkan, banyak benturan yang terjadi dalam implementasi organisasi belajar, bisa jadi lebih dari lima point yang saya ungkap diatas. Namun hal tersebut tidak perlu menyurutkan kita untuk tetap merealisasikan konsep organisasi belajar ini karena dilihat dari manfaat organisasi belajar amat sangat dipandang perlu. Segala kendala pasti akan teratasi jika kita mau berjuang untuk tetap komit dalam berdiri sebagai pembelajaran itu sendiri. Lima belas langkah dalam membangun organisasi belajar yang ditawarkan oleh Dr.Adie Yusuf bisa jadi menjadi obat penawar kesulitan yang ada.Terimakasih

  18. 18 nurhadi pasca Unpak April 25, 2014 at 8:08 am

    Menajemen Organisasi Karyawan yang ideal adalah manajemen di mana manajernya mampu menggerakkan seluruh anggota dalam sebuah organisasi untuk selalu belajar, manajer yang tidak tersinggung apabila bawahan memberikan usul dan saran untuk perbaikan organisasinya dan menejer yang visioner, proaktif dan inovatif serta berani mengambil resiko. Menejer yang memiliki ciri seperti itu masih harus didukung oleh sistem organisasi yang kuat. Sistem organisasi yang kuat bisa dicapai melalui proses pembelajaran.
    Untuk mewujudkan organisasi sebagai organisasi pembelajar, ada beberapa langkah dan prasyarat yang harus dipenuhi yaitu menejer harus membangun budaya belajar di semua lapisan organisasi, melatih dan mengembangkan sumberdaya manusia dalam organisasi yang berbasis kompetensi, saling sapa antara atasan dan bawahan untuk memperoleh masukan yang berharga bagi organisasinya, dan penyediaan dan pengembangan sistem informasi ke seluruh unit organisasi. Di samping itu perlu membangun sumberdaya manusia yang paham dengan nilai penguasaan pribadi, model mental, visi bersama, pembelajaran tim dan pemikiran sistem.
    Terima kasih

  19. 19 Maulana S3 B2 Unpak. April 26, 2014 at 12:10 am

    Maulana /S3 B2 UNPAK

    Belajar adalah budaya, organisasi adalah sekumpulan orang, dalam organisasi pembelajar yang menantang adalah bagaimana sekumpulan orang tersebut memiliki budaya belajar.

    ini yang menantang..! karena pada kenyataannya dalam setiap organisasi terdiri-dari individu-individu yang memiliki latar belakakang pemikiran yang berbeda.

    membaca tulisan bapak, saya melihat peta organisasi pembelajar semakin jelas untuk di laksanakan, mudah-mudaha saya dapat menerapkan ilmu tersebut untuk sekolah saya..

    terimakasih


  1. 1 Organisasi Belajar Trackback on September 10, 2008 at 7:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




May 2008
M T W T F S S
    Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pages

Categories

Blog Stats

  • 121,238 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: