1. Pendahuluan
Menjawab tantangan persaingan bisnis dalam era globalisasi dan liberalisasi, setiap perusahaan dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif yang didukung intelegensi organisasi untuk mengelola pengetahuan melalui proses belajar berkelanjutan. Sejak diperkenalkan tahuan 1990an, organisasi belajar berperan membekali organisasi perusahaan dengan basis pengetahuan dalam rangka memenangkan persaingan. Organisasi belajar sangat diperlukan perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Bagi para eksekutif dan manajer yang menyadari pentingnya organisasi belajar pasti membutuhkan pedoman yang jelas dan langkah-langkah yang praktis untuk merealisasikan organisasi belajar dalam proses manajemen
Pada kenyataannya organisasi belajar tersebut masih dipandang terlalu deskriptif dan konseptual, sehingga mengalami kesulitan diterapkan secara aktual dalam praktek manajemen di berbagai perusahaan. Hal ini akan menimbulkan kekhawatiran bahwa organisasi belajar hanya akan menjadi wacana yang sulit dipahami dan direalisasikan dalam praktek sehari-hari, apabila tidak dilakukan redefinisi dan reorientasi konsep dan implementasi terhadap organisasi belajar.
Dalam kesempatan ini akan diketengahkan redefinsi dan strategi organisasi belajar dalam manajemen serta alternatif solusi permasalahan yang dihadapi manajemen saat ini dan mendatang. Pedoman implementasi organisasi belajar yang jelas dalam rangka mengembangkan kapabilitas individual dan meningkatkan kinerja perusahaan. Selain itu, peran dan tanggungjawab pemimpin untuk mendukung keberhasilan organisasi belajar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi manajemen menyeluruh.
2. Mengapa organisasi belajar?
Yusufhadi Miarso (2002) mengemukakan beberapa alasan mengapa saat ini diperlukan organisasi belajar. Pertama, dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak lagi dapat mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, melainkan tenaga kerja yang terdidik dengan baik, terlatih dengan baik dan menguasai informasi dengan baik (well educated, well trained, and well informed). Perubahan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan merupakan azas dari organisasi belajar. Kedua, pengembangan organisasi yang lebih berorientasi pada lingkungan internal dianggap tidak tepat lagi. Sejalan dengan gerakan masyarakat informasi (information society), maka organisasi perlu menguasai informasi mengenai lingkungan secara komrehensif. Organisasi memerlukan lebih banyak tenaga kerja berpengetahuan (knowledge worker). Perkembangan ekonomi lebih dilandaskan pada pengetahuan dengan tenaga kerja berpengetahuan sebagai aset paling utama.
Konsep organisasi belajar muncul dalam konteks perubahan lingkungan dan daya saing, dimana organisasi membutuhkan kompetensi dan kepemimpinan untuk mentransformasi pengetahuan kepada seluruh anggota organisasi. Dengan dukungan lingkungan organisasi belajar yang kondusif diharapkan dapat diciptakan orang-orang yang berpengetahuan (knowledge pople) dengan kompetensi yang dapat diandalkan. Selain itu dukungan kepemimpinan yang memberdayakan (empowerement), artinya memberikan pendelegasian dan dukungan positif kepada setiap anggota organisasi dalam aktivitas pembelajaran dan memperbaiki kinerja.
3. Definisi dan karakteristik organisasi belajar
Peter Senge seperti dikutip oleh Yusufhadi Miarso (2002), mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:
1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)
Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi.
2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)
Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan enerji, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.
3) Pola Mental (Mental Models)
Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.
4) Visi Bersama (Shared Vision)
Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.
5) Belajar Beregu (Team Learning)
Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.
Dewasa ini para manajemen telah memberikan makna yang lebih komprehensif tentang organisasi belajar.. Pedler dan Dixon di dalam Beardwell dan Holden (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai organisasi yang memfasilitasikan pembelajaran bagi seluruh anggotanya dan mentransformasikan secara sadar dalam konteks organisasi. Adapun maksud dan tujuan penggunaan proses belajar pada level individual, kelompok dan organisasi adalah untuk terus menerus mentransformasikan organisasi untuk memenuhi kepuasan stakeholder.
Michael Marquardt seperti dikutip Swanson dan Holton (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan. Memberdayakan sumber daya manusianya baik di dalam atau di luar perusahaan untuk belajar sambil bekerja. Memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan baik pembelajaran maupun produktivitas kerja.
Karakteristik organisasi belajar memiliki piranti-piranti yang berbeda dengan organisasi tradisional yang bukan belajar seperti di bawah ini:
Gambar 1
Karakteristik Organisasi Belajar
|
Karakteristik |
Organisasi Tradisional |
Organisasi Belajar |
|
Siapa yang belajar?
Siapa yang mengajar?
Siapa yang ber- tanggungjawab
Piranti belajar yang digunakan?
Kapan belajar?
Kompetensi apa yang dipelajari?
Dimana belajar?
Waktu?
Motivasi? |
Para manajer/karyawan yang ditunjuk
Pelatih atau nara sumber dari luar
Departemen Diklat
Kursus, magang, pelatihan formal, bimbingan, rencana pelatihan
Ketika dibutuhkan, saat orientasi atau sesuai kebutuhan
Teknik
Ruang kelas, tempat kerja
Untuk saat ini sesuai kebutuhan
Ekstrinsik dan terpaksa |
Seluruh manajer/karyawan dari semua unit kerja
Atasan langsung, pelatih dan nara sumber
Setiap manajer/karyawan
Kursus, magang, rencana belajar, tim, mitra kerja, ukuran kinerja, refleksi pribadi
Sepanjang hayat, untuk jangka pnjang
Teknis dan manajerial, hubungan pribadi, bagaimana belajar
Ruang rapat, saat melakukan pekerjaan, di mana saja
Untuk masa yang akan datang
Intrinsik dan semangat
|
Sumber: Braham, 2003
4. Manfaat organisasi belajar bagi manajemen
Ditinjau dari perkembangan manajemen kontemporer, maka organisasi belajar secara konseptual turut memberikan kontribusi bagi manajemen. Mulai tahun 1980an diperkenalkan Total Quality Management yang menekankan pada perbaikan mutu yang bersinambungan, kemudian tahun 1990an terdapat Reengineering dan Benchmarking untuk perbaikan strategi manajemen bisnis. Dalam periode 1990an, organisasi belajar diperkenalkan dalam manajemen untuk mencari cara yang inovatif menghadapi perubahan dan memenangkan persaingan bisnis.
Stephen Robbins (2002) mengemukakan bahwa organisasi belajar diperlukan bagi manajemen untuk mengembangkan kapasitas organisasi secara bersinambungan untuk menyesuaikan diri dan melakukan perubahan. Pada dasarnya semua organisasi itu belajar, baik secara sadar atau tidak sadar, maka itulah persyaratan yang mendasar untuk mempertahankan eksistensi.
Organisasi belajar dapat membantu para manajer dalam proses pengambilan keputusan manajemen, khususnya membuat keputusan-keputusan yang tidak terprogram secara lebih kreatif. Dalam hal ini, organisasi belajar mendorong para manajer terus berupaya meningkatkan kemampuan baik individual maupun kelompok, untuk berpikir dan berperilaku kreatif dan mengoptimalkan potensinya melalui pembelajaran. Dengan terjadinya proses pembelajaran berarti para manajer memotivasi dan memampukan para karyawan untuk mengambil keputusan serta terus menerus guna meningkatkan efektifitas organisasi.
5. Kendala implementasi organisasi belajar dalam manajemen
Konsep organisasi belajar yang telah dikemukakan para pakar tersebut di atas sangat ideal (das sollen), namun pada kenyataannya (das sein) konsep organisasi belajar masih jauh dari realita dan kurang “membumi”. Oleh karena belum ada kerangka kerja yang jelas untuk tindakan yang nyatat dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, misalnya bagaimana perusahaan mengetahui telah berhasil menjadi menjadi organisasi belajar, dan apakah para eksekutif dan manajer memahami dengan jelas fungsi dan perannya dalam menjalankan organisasi belajar.
Penelitian yang dilakukan Chase dan Mayo di dalam Beardwell dan Holden (2001) menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi perusahaan dalam menerapkan organisasi berbasis pengetahuan terletak pada budaya korporasi dan keterbatasan pemanfaatan teknologi informasi yang mendukung organisasi belajar.
Lahteenmaki (1999) menyampaikan beberapa kritik terhadap konsep organisasi belajar yaitu:
· Ketiadaan klarifikasi dan multiplisitas dari definisi
· Ketiadaan eksplanasi yang rinci tentang implementasi sistem organisasi belajar
· Ketiadaan eksplanasi bagaimana mengintegrasikan sistem organisasi belajar
Implementasi organisasi belajar mengalami kegagalan yang disebabkan beberapa alasan yang menurut hasil penelitian Lahteenmaki (1999) antara lain:
· Kurang mempertimbangkan perasaan ketidakpastian dan kecemasan dari karyawan dalam menghadapi persaingan dan perubahan lingkungan
· Situasi pekerjaan yang kurang kepercayaan
· Kurang umpan balik, motivasi, diskusi dan pemberdayaan
· Kurang memberikan tanggungjawab bagi seluruh karyawan untuk belajar
· Tidak ada keterkaitan antara organisasi belajar dan strategi SDM
Khususnya pada sektor perbankan, survai mengenai implementasi organisasi belajar telah dilakukan di Institut Bankir Indonesia dengan responden para Pemimpin Cabang Bank. Fokus survai tersebut meliputi 6 karakteristik organisasi belajar yang dikembangkan oleh Michael J. Marquardt, yaitu dinamika belajar, transformasi organisasi, pemberdayaan, manajemen pengetahuan dan aplikasi teknologi.
Gambar 2
Hasil Survai Organisasi Belajar di Bank
Karakteristik Skor Rerata Skor Maksimal
Organisasi Belajar (IBI)
Dinamika belajar 26,6 40
Transformasi organisasi 26, 1 40
Pemberdayaan 25, 5 40
Manajemen pengetahuan 25,1 40
Aplikasi teknologi 20,0 40
Sumber: Hasil Survai Organisasi Belajar IBI, Agustus 2003
Berdasarkan hasil survai tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi belajar belum sepenuhnya diimplementasikan di perbankan. Karakteristik organisasi belajar yang meliputi dinamika belajar baik individual dan organisasional, serta transformasi organisasi yang meliputi visi, strategi, dan budaya organisasi adalah cukup baik. Pemberdayaan staf dan pengelolaan pengetahuan adalah cukup memadai. Namun aplikasi teknologi informasi dan sistem pembelajaran berbasis teknologi masih di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan bank bank tersebut belum optimal memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan perangkat komputer yang ada untuk tujuan pembelajaran. .
Dalam era teknologi informasi yang makin canggih, maka aplikasi teknologi untuk memfasilitasi proses belajar dalam organisasi dengan berbagai pendekatan dan sumber daya perlu mendapat prioritas utama. Menurut Yusufhadi Miarso (2002), teknologi pembelajaran secara konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan organisasi belajar sebagai berikut:
· Pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada level individual maupun level organisasional
· Penyediaan tenaga profesi (praktisi maupun akademisi) yang mampu mengintervensi organisasi agar dapat dan mau belajar.
· Aneka sumber daya belajar yang sengaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
· Sistem informasi yang diperlukan agar organisasi dapat memperoleh akses atas informasi yang terbaru secara cepat.
6. Organisasi dan pengembangan
Gilley dan Maycunich (2000) dalam Beyond the Learning Organization mengajukan alternatif strategi sebagai evolusi dari Organisasi Tradisional (Traditional Organization) menuju ke Organisasi Belajar (Learning Organization) dan akhirnya sampai ke Organisasi Perkembangan (Developmental Organization). Organisasi pengembangan dapat dikatakan sebagai redefinisi dan reinvensi dari organisasi belajar ditentukan oleh dua variabel yang penting yaitu:
1) Penekanan pada pertumbuhan dan perkembangan karyawan
2) Dampak pada perbaruan organisasi dan kesiapan kompetitif
Organisasi pengembangan yang diimplementasikan secara efektif dapat memberikan manfaat yang besar bagi organisasi dan karyawan sebagai berikut:
Gambar 3
Manfaat Organisasi Pengembangan
|
Manfaat Bagi Organisasi |
Manfaat Bagi Karyawan |
|
· Lingkungan kerja kondusif · Karyawan yang kompeten · Komitmen karyawan · Sinergi · Mencapai sasaran dan target · Meningkatkan produktivitas dan kinerja · Pertumbuhan berkelanjutan · Perbaikan rencana suksesi dan karir · Meningkatkan kapabilitas organisasi · Kesiapan pengembangan
|
· Lingkungan dinamis dan proaktif · Belajar seumur hidup · Kepuasan kerja · Partisipasi lebih besar · Kesempatan yang sama · Perbaikan kepercayaan diri · Kompensasi dan imbalan lebih besar · Semangat kewirausahaan · Perbaruan organisasi dan kesiapan bersaing · Mengatasi depresi karyawan
|
Sumber: Jerry W. Gilley & Ann Maycunich, 2000,
Terdapat 15 langkah-langkah untuk membangun organisasi pengembangan untuk menuju kesiapan daya saing organisasi, yaitu:
1) Menentukan kapabilitas kepemimpinan organisasi pengembangan yang berorientasi pada dalam diri (intrinsik), karyawan, kinerja, tim dan organisasi;
2) Merekrut, menseleksi dan melatih pemimpin dan manajer pengembangan
3) Menerapkan prinisp-prinsip kepemimpinan pengembangan, yaitu akuntabilitas pribadi, dipercaya, penasehat karyawan, menghargai karyawan, kemitraan, perbaikan kinerja organuisasi, komunikasi efektif, berorientasi organisasi, berpikir holistik, dan pengabdi organisasi
4) Menghubungkan inisiatif pertumbuhan dan perkembangan dengan strategi, sasaran dan target bisnis organisasi
5) Menentukan kapabilitas organisasi dan kesiapan untuk melakukan perubahan
6) Mentrnasformasikan para manajer menjadi ahli bagi pertumbuhan dan perkembangan karyawan
7) Menentukan kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman (SWOT) dari sistem organisasi
Mentransformasikan sistem organisasi untuk mendukung dan memfasilitasikan pertumbuhan dan perkembangan karyawan
9) Merekayasa departemen SDM termasuk praktek dan profesionalnya
10) Menerapkan perencanaan SDM, rekrutmen dan proses seleksi untuk memperoleh karyawan dengan kesiapan tumbuh dan berkembang
11) Mengimplementasikan pendekatan belajar berkembang
12) Menciptakan program pengembangan karir yang membangun kekuatan dan membina kelemahan karyawan
13) Mengimplementasikan keselarasan kinerja pada level organisasional dan level individual
14) Disain ulang program kompensasi dan imbalan untuk mendukung kepuasan kerja
15) Mengevaluasi dampak dan kegunaan pendekatan organisasi perkembangan terhadap peluang bisnis jangka panjang. (Gilley & Maycunich, 2000)
7. Strategi implementasi organisasi belajar dan pengembangan
Swanson dan Holton (2001) menyimpulkan organisasi belajar sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja dipengaruhi oleh faktor belajar, faktor strategi organisasi belajar dan faktor inovasi, sebagai berikut:
· Belajar, khususnya perbaikan belajar pada level tim dan organisasi akan meningkatkan inovasi organisasi
· Penerimaan strategi organisasi belajar yang sesuai bagi organisasi untuk memasuki pasar dimana inovasi menjadi penggerak kinerja pokok (key performance driver)
· Inovasi diharapkan menghasilkan perbaikan hasil kinerja (performance outcome) yang akan meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi.
Watkins dan Marsick di dalam Swanson dan Holton (2001) menyarankan bahwa belajar sebagai proses yang berkelanjutan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, keyakinan dan perilaku. Dalam suatu organisasi belajar, proses belajar merupakan aktivitas sosial yang terjadi pada level individual, kelompok dan organisasional. Sehingga untuk membentuk basis strategi organisasi yang mendukung belajar, perubahan dan peningkatan kinerja, maka diperlukan 6 (enam) imperatif yang menyerupai lima disiplin dari Senge, yaitu:
1) Menciptakan kesempatan untuk belajar berkelanjutan
2) Meningkatkan dialog dan penemuan inovatif
3) Mendorong kolaborasi / kemitraan dan belajar tim
4) Menyusun sistem untuk terjadinya belajar bersama
5) Memberdayakan tenga kerja menuju visi bersama
6) Membuka hubungan organisasi dengan lingkungannya
Dalam rangka mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangan di perusahaan secara terintegrasi diperlukan analisis kebutuhan pembelajaran dan kompetensi, antara lain apa pembelajaran yang dibutuhkan, siapa yang membutuhkan, kompetensi apa yang ingin dicapai serta bagaimana mengukur keberhasilan pembelajaran. Hasil analisis kebutuhan pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun program-program pembelajaran dan implementasinya, kemudian mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
Peran dan tanggungjawab pemimpin menjadi kunci keberhasilan bagi implementasi organisasi belajar dalam manajemen perusahaan. Pada dasarnya belajar merupakan tanggungjawab semua pihak, tetapi pemimpin dapat memberikan bantuan dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong pembelajaran bagi seluruh karyawan. Barbara J. Braham (2003) menyebutkan istilah ”learner friendly” bagi pemimpin perusahaan yang mendukung organisasi belajar dan pengembangan dengan mengivestasikan waktu untuk belajar, menjadikan belajar sebagai nilai dan budaya kerja, menyediakan fasilitas belajar, memperlakukan pekerjaan sebagai pembelajaran, menganggap kesalahan sebagai kesempatan belajar dan memberikan penghargaan bagi karyawan yang belajar.
Berdasarkan pengalamannya memimpin bank BUMN, Moeljono (2003) menyimpulkan bahwa kepemimpinan tidak dapat diajarkan (be taught) tetapi kepemimpinan hanya dapat dipelajari (be learn). Kepemimpinan yang efektif pada akhirnya adalah situasional didukung oleh sifat kepribadian (trait), dan transformasional yang didukung profesionalitas serta etika. Karakteristik kepemimpinan memiliki nilai-nilai universal, seperti diajarkan Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarsa Sung Tulada (to lead), Ing Madya Mangun Karsa (to inspire) dan Tut Wuri Handayani (to motivate). Kepemimpinan yang baik bagi organisasi belajar adalah membina hubungan kemitraan antara atasan dan bawahannya, artinya pemimpin tidak “menggurui” melainkan sama-sama belajar.
Untuk menjamin keberhasilan terjadinya transformasi menuju organisasi yang mampu belajar dan berkembang, maka semua pihak dalam organisasi memiliki peran dan tanggungjawab sama penting, mulai dari manajer puncak, manajer lini sampai dengan karyawan. Manajer puncak perlu memberikan pedoman dan arahan mengenai perubahan, manajer lini membentuk komitmen, mengembangkan struktur dan sistem dan mengupayakan perubahan yang permanen, sedangkan karyawan berupaya memahami visi dan memotivasi diri untuk perubahan.
7. Kesimpulan dan saran
Pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mendukung perusahaan agar mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan mencapai keunggulan kompetitif melalui peningkatan intelegensi organisasi. Organisasi belajar dapat diimplementasikan untuk perbaikan strategi manajemen dan meningkatkan efektifitas kinerja, walaupun dalam implementasinya masih ditemukan kendala-kendala seperti keengganan manajemen menerapkan organisasi belajar, keterbatasan sumber daya dan dana serta teknologi informasi. Selain itu kesadaran akan pentingnya belajar masih kurang dan waktu yang terbatas serta komitmen manajemen puncak merupakan kendala menerapkan organisasi belajar di perusahaan.
Untuk mengimplementasikan organisasi belajar dan pengembangan diperlukan adanya komitmen untuk perubahan yang didukung kepemimpinan yang efektif dan bersikap melayani. Para karyawan juga perlu didukung untuk memotivasi diri agar dapat dan mau belajar serta tumbuh dan berkembang. Melalui organisasi belajar akan dihasilkan manajer dan karyawan yang memiliki motivasi dan kompetensi tinggi serta berorientasi pada pelanggan, sehingga pada gilirannya mendukung peningkatan kinerja perusahaan.
Kemajuan teknologi informasi canggih khususnya yang berbasis elektronik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi perlu dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pengelolaan pengetahuan dalam konteks organisasi belajar dan pengembangan dapat dilakukan antara lain:
a. Membangun e-literacy dari seluruh karyawan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Aplikasi teknologi informasi sebaiknya dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas khususnya dalam pembelajaran melalui e-learning atau e-training.
b. Aplikasi teknologi informasi secara on-line system dengan menggunakan intrane yang memberikan kemudahan untuk berbagi informasi ke seluruh karyawan. Misalnya informasi internal seperti data karyawan, sistem dan prosedur kerja, peraturan ketenagakerjaan, keputusan manajemen, saran dan pendapat karyawan, serta informasi eksternal seperti jadwal perjalanan, acara huburan, daftar rumah sakit dan dokter. Dengan adanya intranet akan membantu karyawan memahami perusahaan secara cepat dan akurat, dan sebaliknya manajemen dapat mengambil keputusan-keputusan berdasarkan informasi yang andal.
c. Guna mendukung economic and businees literacy kepada seluruh karyawan dan mengkomunikasikasi visi dan sasaran bisnis perusahaan secara efektif agar dapat belajar membuat keputusan yang lebih baik, maka perlu digunakan suatu peta belajar (learning map). Peta belajar tersebut menggambarkan strategi atau proses bisnis yang pokok.
d. Untuk lebih mendayagunakan fungsi-fungsi organisasi belajar dan pengembangan dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen perusahan, maka dapat pula membangun website pada setiap unit kerja yang disinergikan menjadi organization portal untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
e. Kebijakan manajemen yang menerapkan teknologi informasi untuk komunikasi perlu disosialisasikan kepada seluruh karyawan, misalnya penggunaan e-mail seharusnya dilakukan untuk setiap komunikasi antara manajer dan karyawan, misalnya rapat, konferensi atau surat edaran.
Oleh: DR. Adie E. Yusuf, SPd. MA.
KEPUSTAKAAN
Beardwell, Ian & Holden, Len, Human Resource Management: A Contemporary
Apprach, London: Prentice Hall, 2001
Braham, Barbara J, Creating A Learning Organisation, Terjemahan dari Fast-Track
MBA Series, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003
Gilley, Jerry W & Maycunich, Ann, Beyond the Learning Organization,
Massachusetts: Persus Books, 2000
Miarso, Yusufhadi, Peran Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar,
Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran,
Jakarta, 2002
Moeljono, Djokosantoso, Beyond Leadership, 12 Konsep Kepemimpinan, Jakarta:
Elex Media Komputindo Gramedia, 2003
Robbins, Stephen P., Perilaku Organisasi, Versi Bahasa Indonesia, Jakarta: PT
Prenhallindo, 2002
Swanson, Richard A & Holton, Elwood, F, Foundation of Human Resource
Development, San Fransisco: Berrett-Koehler Publisher, Inc., 2001
Peter Senge mengemukakan organisasi belajar terdiri dari lima prinsip yang dikenal dengan Fifth Dicipline yaitu system thinking, mental model, personal mastery, team learning dan shared vision, tetapi Marquardt menambahkan Dialog sebagai prinsip organisasi belajar selain kelima prinsip diatas yang terdapat pada subsistem belajar. (dalam buku Building the Learning Organization hlm 30)
Organisasi belajar tidak terlepas dari peran serta dan komitmen pimpinan/manager untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dengan membangun budaya belajar di dalam organisasinya.
Wah bagus banget pak tulisannya, cukup komplit! All About Organisasi Belajar ada di sini. Cuma ada satu hal yang masih mengganjal di hati saya pak, contoh organisasi belajar yang baik (contoh realnya) itu seperti apa ya pak?. Saya punya tulisan mengenai pendapat saya tentang organisasi belajar. Tulisan ini sudah pernah saya share sebelumnya ke TPERS.net pak. Menurut bapak gimana dengan tulisan saya ini pak?
Tolong kasih comment ya pak apa benar pendapat saya sesuai dengan konsep tentang apa itu organisasi belajar. Kirim kritik dan saran bapak ke email saya ya pak!
rohisna2bgr@yahoo.com
Terima kasih ya pak!
Organisasi Belajar Ntuuuuuuhhhhh,,,….!!!!!
Pendapat para ahli:
Klo kata Michael Marquardt kayak nyang dikutip oleh Swanson dan Holton (2001), ia mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat. Dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan, dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan.
Nih pendapatnya bang Peter Senge (1990), menurut beliau Organisasi Belajar adalah :
“… organisasi dimana sekumpulan orang secara berkelanjutan mengembangkan kapasitas mereka untuk membuat hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola pikir yang baru dan telah diperluas kemudian dipelihara, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana semua orang secara berkelanjutan belajar untuk melihat secara keseluruhan bersama-sama.”
Pendapat saya Pribadi:
Kita mulai dari kata organisasi aja dah dulu. Eh jangan dah, kita perkenalan dulu,. Gw Rusliyanto TP’06. maaf yak klo bahasa tulisannya pake bahasa bergaul sehari-hari.
Dah kita mulai langsung dengan organisasi, Organisasi klo menurut pendapat gw adalah sekumpulan orang yang memiliki visi dan misi yang sama yang tergabung dalam satu wadah.
Belajar merupakan satu proses untuk merubah tingkah laku/ pengetahuan dan menambahkan pengetahuan dan pengalaman baru (dari ga tau jadi tau, dari ga jelas jadi jelas) Yah klo contohnya mah banyak banget dah pokoknya. Misalkan aja klo misalkan anda kuliah aja ntu merupakan belajar, ada lagi misalkan anda lagi ngerjain tugas nih,.eh kerjaan anda tau-taunya gagal total., sebenarnya disitu pun anda telah mengalami proses belajar sekaligus diberi motivasi untuk belajar lebih baik lagi.
Inget kawan, “Kegagalan bukan berarti bahwa kita tidak berhasil melakukan sesuatu, Itu sebenarnya berarti bahwa kita telah mempelajari sesuatu.,,. Kegagalan tidak berarti bahwa kita harus menyerah, Tetapi kita harus mencoba lebih giat lagi,..”
Betul ga’ tuh Omongan gw????!!!!. Hweheheee
Dari semua pendapat yang gw kemukakan di atas, gw bisa nyimpulin apa sih Organisasi belajar?!! Tapi maaf-maaf nih klo ga sesuai dengan pendapat kalian semua, kan kodrat manusia diciptakan dengan perbedaan antara nyang atu dengan nyang laennya.,,
Organisasi belajar adalah sekumpulan orang (lebih dari satu orang) yang memiliki tujuan yang sama, untuk memperoleh sesuatu yang sama untuk memperkaya pengetahuan yang mereka miliki yang kemudian ilmu-ilmu itu diaplikasikan pada suatu organisasi atau wadah tempat ia belajar tersebut.
Untuk menjamin keberhasilan terjadinya transformasi menuju organisasi yang mampu belajar dan berkembang, maka semua pihak dalam organisasi memiliki peran dan tanggungjawab sama penting, mulai dari manajer puncak, manajer lini sampai dengan karyawan. Manajer puncak perlu memberikan pedoman dan arahan mengenai perubahan, manajer lini membentuk komitmen, mengembangkan struktur dan sistem dan mengupayakan perubahan yang permanen, sedangkan karyawan berupaya memahami visi dan memotivasi diri untuk perubahan.
Contoh dari organisasi belajar ntu sendiri banyak dah, mulai dari organisasi negeri PEMDA dan instansi pemerintah laennya dah) maupun yang swasta (perusahaan). Bahkan kata temen gw waktu kuliah jumat kemaren, keluarga juga termasuk dalam organisasi belajar. Keluarga yang dibangun oleh suami dan istri, mereka berdua sama-sama belajar untuk mencapai tujuan (goal) nyang sama. Hidup bahagia dalam rumah tangganya dan mencapai ridha Allah SWT,.. Gimana klo menurut kawan-kawan skalian nih….??? keluarga ntuh termasuk organisasi belajar bukan yak????
Tapi kebanyakan organisasi pemerintahan yang ada di Indonesia cendrung berpandangan lurus aja ke depan, mereka terpaku kepada kebiasaan yang telah membudaya dari dulu.,ga berani mereka keluar dari belenggu budaya tersebut. Dan akhirnya, yaaaa…. gitu dah,. Organisasi pemerintah ga pernah maju, ya karena dari dulu mpe sekarang pola kerjanya gitu-gitu aja.,
Agak beda dengan nyang diatas, organisasi swasta cendrung mau mengikuti perkembangan zaman, sehingga mereka dapat survive dan berkembang menjadi sebuah organisasi belajar yang besar. Tapi jangan salah lho, ada juga organisasi swasta nyang masih kayak organisasi pemerintahan, ga peka dengan perkembangan, dan akibatnya mereka kalah dengan Organisasi swasta yang bisa mengikuti perkembangan zaman.
Coba kita kasih contoh dah:
Ada dua perusahaan, sebut aja perusahaan A dan B. Perusahaan A dan B sama-sama memproduksi suatu produk nyang sama (buat contoh HP aja dah). Perusahaan A memproduksi HP dengan fitur analog dan lima tahun lalu hp ntu “Booming” di pasaran. Perusahaan A mengandalkan fitur analog sebagai acuan pengembangan produknya, ia tidak memperhatikan aspek kebutuhan pasar, dan perkembangan teknologi, serta perkembangan zaman.
Berbeda dengan perusahaan A, perusahaan B memproduksi HP dengan berbagai macam fitur yang menarik dan bentuk yang modis yang mengikuti perkembangan Zaman. Dan faktanya, perusahaan B sekarang dapat lebih maju dan menguasai pasaran Hp karena mereka peka terhadap kebutuhan pasar dan perkembangan zaman.
Klo kata bang Rhenald Kasali dalam buku Re-Code “Your change DNA” terkait contoh di atas mah begini:
“hati-hati dengan pengalaman, sebab ia bisa menghalangi imajinasimu”.
Jangan bingung ma ntu kalimat, artinya kurang lebih kayak intisari contoh diatasnya!!!???
So, marilah kawan-kawan sekalian kita merubah diri kita untuk menjadi leih baik lagi (Change) supaya organisasi belajar yang diimpikan dapat terwujud. Kita harus bisa keluar dari belenggu-belenggu (suatu hal yang telah membudaya), melakukan sesuatu yang baru.,.,
Mungkin disini gw mau berbagi kepada semua orang nyang membaca tulisan ini (Mahasiswa, guru, dosen atau apalah) sebuah sumber yang insya Allah bermanfaat bagi kalian smua. Yah walaupun gw baru baca sebagian,.
Nih judul Bukunya;
Re-Code “Your change DNA”
“Membebaskan Belenggu-Belenggu untuk meraih keberanian dan keberhasilan dalam Pembaruan”
Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama
Penulis: rhenald kasali, Ph.D
Maaf yang terakhir ntu bukan promosi tapi anjuran yak, jangan lupa dibaca kawan!!!!
Thx dah mw baca tulisan ini,.
Klo punya kritik atau saran, kirimin aja comment ke Tpers.net yang tulisan saya, atau kirimin via e-mail aja ke: rohisna2bgr@yahoo.com
Gw tunggu commentnya dari anda semua!!!!???
Saya sangat setuju sekali bahwa Organisasi belajar sangat tepat apabila diterapkan pada suatu perusahaan yang ingin maju dalam menghadapi tantangan atau persaingan di dunia bisnis saat ini.Mulai dari pengembangan potensi tenaga kerja yang terlatih serta pengembangan perusahaan yang kompeten dibutuhkan penerapan organisasi belajar.Karena organisasi belajar dapat mamajukan serta melakukan suatu perubahan dimana suatu perusahaan dapat berkembang baik jika sumber daya manusianya siap bekerja secara maksimal.Manfaat yang diperoleh dari OB sangatlah banyak dan bermanfaat bagi sumber daya manusianya.Salah satu pembangkit semangat atau dorongan dalam melakukan organisasi belajar yaitu motivasi diri, jika sudah tertanam motivasi diri untuk bekerja dan mengembangkan potensi, maka para karyawan dapat memajukan kinerja dan membantu mengembangkan suatu perusahaan.Para karyawan juga semestinya tidak ”gaptek”,karena tuntutan jaman yang semakin maju,mereka harus menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya serta memanfaatkan teknologi yang telah ada dan menggunakannya secara optimal.Tetapi dampak buruk jika sdm di suatu perusahaan tsb tidak menerapkan OB serta tidak diadakan suatu pelatihan untuk mengembangkan diri,maka perusahaan tersebut diragukan akan memiliki kemajuan dan siap bersaing di era globalisasi sekarang ini.
Wah sangat berkesan buat saya tulisan bapak tentang organisasi belajar, pada prinsipnya belajar adalah perubahan prilaku dimana peruahan prilaku itu meliputi tiga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. jika dalam organisasi sudah mengimplemantasikan kegiatan belajar maka kesuksesan akan selalu mudah diraih, namun masalah utamanya adalah banyak para pemimpin yang kurang mau untuk belajar sehingga penyakit pimpinan itu menular kesemua anggota.selain komitmen bersama menurut saya perlu juga kesadaran pribadi dan orang lain, dimana kesadaran pribadi ini yaitu mengenali diri sendiri akan kekurangganya dan meningkatkan kekurangan orang lain agar bersama-sama dapat lebih baik dan mencapai tujuan organisasi bersama.
Bapak tolong juga jelaskan penerapan organisasi belajar konkrit dalam lingkup organisasi belajar kecil yaitu di sekolah. than you
Organisasi belajar adalah sekelompok orang atau kumpulan orang yang memiliki visi,misi, dan tujuan yang sama, sekelompok orang tersebut belajar dan bekerjasama untuk memecahkan masalah, meningkatkan pengetahuan, menciptakan inovasi-inovasi dan pola-pola berpikir baru, dan agar mereka lebih adaptif terhadap lingkungan eksternal yang tentunya memberi pengaruh besar terhadap organisasi. Dengan organisasi belajar, mereka dapat mencapai tujuan pribadi dan juga organisasi. Organisasi belajar memiliki lima prinsipperhatian khusus pada ”The Fifth Discipline”, yaitu : System Thinking, Personal Mastery, Mental Models, Shared Vision, dan Team Learning. Visi dan misi yang ada pada organisasi atau perusahaan akan menjadi acuan bagi para anggota atau karyawannya untuk meningkatkan kinerja mereka semaksimal mungkin untuk mencapai visi, misi, dan tujuan.
Mengapa harus OB???
Perusahaan atau organisasi memandang bahwa keberhasilan ataupun kegagalan sasaran atau tujuan dari program-program yang telah mereka buat sangat ditentukan oleh kinerja (performance) para karyawan/anggota mereka. Oleh karena itu, belajar sangat penting untuk meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki perusahaan/organisasi, sehingga meningkatkan kualitas organisasi itu sendiri.
Bapak Edi Yth, uraian bapak menambah wasan bagi saya, terutama motivasi berprestasi ciptaan Mc Clelland sangat luar biasa sebenarnya untuk mengungkapkan potensi dan kelemahan seseorang. Bila konsep Mc Clelland ini diterapkan untuk menguji kompetensi seseorang yang akan diangkat menjadi pejabat misalnya, itu sudah cukup, bahkan selama penelitiannya (25 tahuan) ternyata orang sukses didominasi oleh orang-orang yang tingkat intelegensinya sedang dan pola pikirnya sedang. Pendeknya siapa saja yang telah pernah merasakan diklat AMT (Achievement Motivation Taring) pasti berkata wow.. luar biasa, tak membosankan, namun mampu mengungkapkan siapa sesungguhnya kita. Harapan saya, semoga tulisan bapak ini dan tanggapan ini menjadi perhatian terutama bagi mereka berkompeten untuk merekrut sdm yang lebih berkualitas.
Wasaalam, dan Salam achievement !!
Kontribusi Teknologi Pembelajaran Dalam Organisasi Belajar
Sebagai suatu disiplin , teknologi pembelajaran pada falsafah berkembangnya potensi optimal pebelajar (learners ) secara efektif dan efisien serta selaras dengan perkembangan dan kondisi masyarakat dan lingkungan.Sedangkan visinya sebagai suatu disiplin adalah terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkannya dan dimanfaatkannya aneka sumber , proses dean sistem belajar , sesuai dengna kondisi dan kebutuhan.
rganisasi
teknologi pembelajaran secara konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembanagn organisasi belajar dalam bentuk
• pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada peroranagn , maupun pada keseluruhan organisasi
• penyediaan tenaga profesi yang mampu menginventaris organisasi argar dapt adan mau belajar
• aneka sumber belajar yang disenagaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
• sistem informasi yang diuperlukan agar dapt memperoleh alses atas inform,si yang terbaru secara cepat.